Mahna Hauri? Itu artinya Telekung Bidadari. Telekung? Itu artinya "mukena" atau "pakaian sembahyang" untuk muslimah. Muslimah? Itu artinya Perempuan beragama Islam. Stop! Jangan bertanya lagi.
Mahna Hauri? Itu artinya Telekung Bidadari. Telekung? Itu artinya "mukena" atau "pakaian sembahyang" untuk muslimah. Muslimah? Itu artinya Perempuan beragama Islam. Stop! Jangan bertanya lagi.
"Mahna" tak akan Anda temukan di KBBI atau KUBI. Saya menemukannya di Kamus Dewan - kamus besarnya Bahasa Melayu di Malaysia. Menurut kamus itu, kata itu berasal dari Pahang, salah satu negeri bagian di sana.
Adapun "Hauri" itu berasal dari Bahasa Arab. "Hauriljannah" atau "Haur - Uljannah" artinya "bidadari surga. Kata itu ada di KBBI. Itu saja dulu, ya. Saya belum buka pemesanan. :-)
Anatomi buku itu kira-kira akan jadi begini:
:: Senarai Isi:
Puisi yang Menulis Pengantar untuk Penyairnya
"Kalian Tahu Kenapa Dia Menuliskan Aku dan Kawan-kawanku?"
I. Beberapa Bait Rambut
1. Bocah Berambut Basah
2. Pertanyaan Tentang Rambut yang Tak Ingin Lagi Diajukan
3. Gadis Berambut Panjang dan Hitam
4. Rambut Hujan, Hujan Rambut
5. Sehelai Rambut yang Ikal
6. Sisir kepada Rambut
7. Seorang Tukang Cukur dan Rambut Tiga Lelaki
8. Rambut Luna, Rambut Maya
9. Rambut Petani
10. Kisah Bulan & Rambut Mulan
11. Di Rambutmu Aku Meniti Khayal
12. Seorang Gadis Kecil dan Ibunya yang Mengecupi Ujung Rambutnya Sendiri
13. Sebaris Rambut yang Bertanya: Kau Berbahagia, Salma?
14. Rambut Ibu
15. Beberapa Bait Rambut, Beberapa Helai Sajak
16. Rambut Malam
17. Dia Melukis Senja Berambut Hujan
18. Pagi Melirik pada Panjang Rambutmu
19. Kisah Sungai Rambut
20. Rambut, Pena, Buku, Airmata
21. Sisir yang Hujan, Rambut yang Basah
22. Riwayat Rambutku dan Sisir Ibu
23. Rambut Penyair dan Sisir Ajaib
24. Sepadang Rambut, Sekarang Sebut
II. Beberapa Helai Fabel
25. Fabel di Tepi Kolam di Suatu Petang
26. Fabel di Balik Lukisan Kaligrafi
27. Fabel Kesaksian Ikan-ikan
28. Fabel Gajah Bodoh dan Anjing Buta
29. Fabel Ibu Penyu dan Ikan Paus
30. Fabel Lembu Hendak Jadi Katak
31. Fabel di Kolam Teratai
32. Fabel Sepasang Merpati
33. Fabel untuk Seekor Domba yang Disembelih <---- klik untuk membaca sajaknya di blog SEJUTA PUISI.
34. Fabel Dua Pemancing dan Ikan Raksasa
35. Fabel Sebelas Ekor Camar
III. Dan Kita pun Bertukar Sebelah Sepatu
36. Kita pun Bertukar Sebelah Sepatu
37. Gambar yang Dirobek Ayah
38. Lelaki tanpa Telinga dan Perempuan yang Menangis Tak Henti-hentinya
39. Belajar Naik Sepeda
40. Ayah Takut dengan Tinta Merah
41. Aku Menangis Bersama Ibu
42. Pak Hujan Jualan Hujan di Musim Hujan
43. Membuat Waktu dari Jam Tanpa Jarum dan Angka
44. Saya Suka Berjalan Bersama Sepatu Lampu
45. Seorang Anak dan Caranya Minum Susu
46. Saya Bercukur Sebelum Sekolah
47. Ayah Mengajak Saya Menanam Pisang
48. Monster Dingin dan Peri Mimpi
49. Jin Kering Mengintai dari Balik Pot Bunga
50. Belajar Puisi dengan Salah Letak dan Salah Cetak
51. Sarung Pertama Saya Telah Sempurna Robeknya
52. Istri Ayah yang Bukan Ibu Saya
53. Saya Bermain Melipat Kertas
54. Kaki Ibu
55. Rambut Ibu
56. Tangan Ibu
57. Tawa Ibu
58. Dada Ibu
59. Sajak Sebelum Tidur
60. Jalan Benarkah dan Jalan Salahkah
61. Di Halaman Madrasah
62. Parsel Kiriman Belum Juga Ia Terima
63. Menunggu di Kedai Cukur
64. Ibu yang Telanjang, Ibu yang Berkabung
65. Anak Bermain Perahu di Teluk Buyat
Terus Telusur...
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
22 November 2009
Ananda Sukarlan Gubah Sajak Hasan Aspahani

:: Berita Ananda Sukarlan di Kaltim Post
----
Tajam, Pedih, dan Menggerakkan
Bagaimana dan apa jadinya jika sebuah sajak digubah menjadi sebuah komposisi musik klasik, dan dipadukan pula dengan sebuah tarian? Inilah yang akan terjadi pada tanggal 3 Januari 2010 nanti di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM).
Ananda Sukarlan akan tampil dalam konser bertajuk Jakarta New Year Concert. Ia akan membawakan komposisi yang ia gubah dari sajak Hasan Aspahani "Bibirku Bersujud di Bibirmu". Chendra Panatan, koreografer bereputasi internasional, akan menghiasi konser itu dengan tafsir lain atas sajak itu lewat gerak tari.
"Bukan hanya judul sajak itu yang begitu menyentuh. Seluruh isi sajak itu tajam, pedih dan menggerakkan!" kata Ananda Sukarlan.
Kompisi "Bibirku" terdiri dari dua sesi: pertama, trio untuk piano, alto flute dan biola. Dan bagian kedua, untuk soprano dan piano. Masing-masing bisa dimainkan terpisah. Chenra tampil di bagian pertama.
"Kami tak menyebut tariannya sebagai balet. Karena memang bukan balet. Pokoknya, para penari tampil menyuguhkan gerakan yang kompleks dengan ratusan meter kain properti, yang dengan spektakuler mengesankan gerakan ombak. Ananda Sukarlan bermain dengan dukungan Inez Raharjo pada biola, Elizabeth Ashford pada alto flute, dan Aning Katamsi - penyanyi soprano.
Berikut ini petikan wawancara Hasan Aspahani (HAH) di Batam dengan Ananda Sukarlan (AS) yang menetap di Spanyol, ihwal kerjasama kreatif mereka tersebut.
HAH: Kenapa ya Anda tertarik dengan sajak itu? Saya ingat saya kirimi Anda buku "Orgasmaya.." Ada sajak "Bibirku... " di buku itu. Itukah pertama kali Anda membaca sajak tersebut?
AS: Wah, saya lupa dimana pertama kali baca-nya. Mungkin di buku itu, mungkin dari blog sejuta puisi. Yang saya ingat adalah "kortsleting" yang terjadi di badan saya saat saya membacanya. Kadang-kadang kortsleting itu hanya sebentar terus hilang, tapi dalam kasus "BBDB" itu "setruman"-nya cukup lama, bahkan saat saya sedang utak-atik untuk bikin musik, masih saja terasa.
HAH: Kelihatannya susah ya menafsirkan isi sajak itu ke komposisi musik. Apa saja tantangannya?
AS: Yang susah bukan menafsirkannya. Menafsirkannya itu gampang, bahkan saya bisa bilang bahwa proses ini otomatis, karena ada beberapa puisi yg "bunyi" begitu saya baca (puisi-puisi lain adalah seperti "Dalam Sakit"nya SDD, "The young dead soldiers"nya Archibald MacLeish dll). Ini tidak ada hubungannya dgn panjangnya puisi ataupun struktur dll ... ada puisi yang "bunyi" di dalam diri saya, ada yang tidak.
Yang sulit adalah saat menerjemahkan detail-detail bunyi yang saya dengar. Itu berhubungan dengan teknik komposisinya, bukan penafsiran atau inspirasinya.
Ada bunyi-bunyi yang kompleks, dan tugas seorang komponis adalah menuliskannya untuk "mentransfer"-nya ke para musikus yang nanti memainkan not-not balok itu. Nah, bagaimana supaya bunyi itu bisa direproduksi secara akurat, itu yang sulit. Ini berhubungan dengan progresi harmoni-harmoni yang masih jarang (bahkan belum pernah) saya dengar sebelumnya, dan juga warna dari bunyi itu kan harus ditentukan (oleh karena itu saya menggunakan instrumen alto flute, yang belum pernah dipakai di Indonesia. Mungkin ini adalah karya komponis Indonesia pertama yang menggunakan instrumen ini). Juga hal-hal teknis lain misalnya proses repetitif tapi transformatif dari kata "gelombang".
Itu sama seperti kalau sedang dibaca : diulang-ulang tapi tidak sama intonasinya, kan? Nah, intonasi itu diterjemahkan ke dalam progresi harmoni kalau di dalam musik.
HAH: Berapa lama menggarapnya sampai merasa selesai, beres, pokoknya sampai Anda merasa ada sesuatu dari komposisi itu.
AS: Ada dua proses : sketching, dan kemudian proses menuliskan detailnya. Sketching-nya cepet banget : 1-2 jam setelah (dan sambil) baca puisi itu sudah kelar.
Sebetulnya setelah saya sketch, baru saya bikin beneran beberapa bulan setelahnya, karena banyak hal yang tidak bisa saya tinggalkan. Dengan sketching inspirasi itu tertulis dan jadinya tidak akan terlupakan. Sejak permulaan saya merasa bahwa ini bukan karya yang kecil (bukan hanya dari segi durasi, tapi juga dari kedalaman & kompleksitas ekspresinya).
Saya selalu bawa kertas kemana-mana, karena inspirasi kadang-kadang terjadi pada saat yang tidak tepat, dan kalau tidak saya tulis (walaupun hanya secara garis besar) biasanya akan lupa. Nah, penulisan detailnya itu saya kerjakan on and off, di tengah kesibukan lain, dan juga karena faktor bahwa karya ini cukup panjang dan arah-arahnya cukup "unpredictable". Makanya saya menganggap karya ini penting dalam daftar karya-karya saya (yang sekarang Alhamdulilah jumlahnya ratusan, dan tidak semua sama "pentingnya" buat saya he he ...) karena ada konsep harmoni baru yang buat saya sendiri merupakan suatu "discovery". Ini penting buat saya sendiri dan perkembangan musik saya.
HAH: Bisa sebutkan beberapa contoh karya anda yang "penting" dan juga yang "tidak penting" bagi perkembangan artistik anda ?
AS: Yang penting adalah "Dalam Sakit" (dari puisi Sapardi Djoko Damono), The Young Dead Soldiers (dari puisi Archibald MacLeish) dan Requiescat (karya instrumental untuk english horn dan string quartet). Karya-karya tersebut buat saya adalah references, atau tonggak-tonggak yang menentukan jalannya nilai-nilai artistik saya selanjutnya. Yang tidak penting misalnya musik saya untuk film "Romeo & Juliet" : itu musik yang --walaupun sekarang menjadi cukup populer di antara banyak sekali pianis yang memainkannya karena melodinya "enak didengar"-- saya ciptakan semata-mata untuk menggambarkan emosi dan latar belakang suatu adegan saja. Juga beberapa lagu-lagu pendek yang saya ciptakan misalnya untuk kado ulang tahun teman-teman, dan sebagainya. Anehnya, seperti kasus film R & J itu, banyak musik saya yang tidak penting buat saya tapi justru yang paling populer ....
HAH: Ada juga tarian nanti ditampilkan bersamaan dengan komposisi itu. Kenapa ada kolaborasi begitu? Bagaimana bisa muncul ide memadukan tari dan musik itu?
AS: Saya bercerita tentang musiknya dan kemudian saya mainkan ke Chendra Panatan , koreografer yg saya paling kagumi di Indonesia dan sering bekerjasama dengan saya.
Sebetulnya proses dia sama saja dengan proses saya dgn sebuah puisi. Kalau saya "mendengar" musik dari puisi itu, dia "melihat goyangan" dari musik saya. Ada musik saya yang "menggoyangnya", ada yang tidak, dan kebetulan "Bibirku" secara visual juga sangat "menonjok". Koreografi itu memakai gesture-gesture dan gerakan yang sangat besar, sehingga tubuh penari butuh semacam "extensions", makanya dia akan memakai kain-kain, efek lampu dan lain-lain. Sampai saat ini sih saya belum melihat koreografinya dia (yang masih juga dalam proses, belum selesai), tapi saya yakin efeknya akan sangat luar biasa, bukan hanya sekedar mencengangkan, tapi juga secara emosional sangat dalam.***

Terus Telusur...
20 November 2009
Tentang Sungai, Hutan, dan Malam
1. Sungai
AKU kira sungai itu letih juga. Mengalirkan
diri sendiri. Aku kira sungai itu sedang
berpikir untuk membeku atau mengering saja.
Dari muara tadi, kuhitung berapa lekuk yang
patah, berapa teluk yang patuh. Dan hujan
yang mengeluh, aku pura-pura tak mendengar,
ia sebut ramalan tentang musim bah, musibah.
2. Hutan
HUTAN adalah dada yang tabah. Aku kira dulu
selalu begitu. Sampai aku temukan bercak
darah, terperah dari luka yang perih parah.
Ingin sekali aku bisa mengambil juga luka
itu untukku sendiri, sekadar sakit, sedikit.
Aku kira, tabah di dadaku, perlu juga kuuji.
3. Malam
AKU kira semua lagu ditulis dan dinyanyikan
untuk malam, yaitu saat segalanya dibicarakan
dengan perlahan dan kita tak buru-buru hendak
membuat kesimpulan. Kerap kali, kita justru
menyisakan beberapa pertanyaan, terbiarkan.
Apakah kau suka memperhatikan yang dibicarakan
oleh burung-burung dan serangga malam itu?
Mereka saling mengingatkan tentang apa-apa
yang harus lekas dilupakan. Kau perhatikan?
Terus Telusur...
AKU kira sungai itu letih juga. Mengalirkan
diri sendiri. Aku kira sungai itu sedang
berpikir untuk membeku atau mengering saja.
Dari muara tadi, kuhitung berapa lekuk yang
patah, berapa teluk yang patuh. Dan hujan
yang mengeluh, aku pura-pura tak mendengar,
ia sebut ramalan tentang musim bah, musibah.
2. Hutan
HUTAN adalah dada yang tabah. Aku kira dulu
selalu begitu. Sampai aku temukan bercak
darah, terperah dari luka yang perih parah.
Ingin sekali aku bisa mengambil juga luka
itu untukku sendiri, sekadar sakit, sedikit.
Aku kira, tabah di dadaku, perlu juga kuuji.
3. Malam
AKU kira semua lagu ditulis dan dinyanyikan
untuk malam, yaitu saat segalanya dibicarakan
dengan perlahan dan kita tak buru-buru hendak
membuat kesimpulan. Kerap kali, kita justru
menyisakan beberapa pertanyaan, terbiarkan.
Apakah kau suka memperhatikan yang dibicarakan
oleh burung-burung dan serangga malam itu?
Mereka saling mengingatkan tentang apa-apa
yang harus lekas dilupakan. Kau perhatikan?
Terus Telusur...
[FIKSIMINI] Badutelevisi
"APAKAH aku sudah tidak bisa membantu kelucuanmu lagi?" tanya topeng badut itu kepada si badut yang selama ini selalu mengenakannya.
Si Badut memandangi televisi kecil di kamar kumuhnya. Televisi itu menyiarkan berita badut-badut tak bertopeng dan si Badut berpikir mungkin dia harus memakai televisi itu sebagai pengganti topengnya.
"Wah, ide yang lucu itu," kata topeng. Tapi, mereka berdua sama sekali tidak tertawa.
Terus Telusur...
Si Badut memandangi televisi kecil di kamar kumuhnya. Televisi itu menyiarkan berita badut-badut tak bertopeng dan si Badut berpikir mungkin dia harus memakai televisi itu sebagai pengganti topengnya.
"Wah, ide yang lucu itu," kata topeng. Tapi, mereka berdua sama sekali tidak tertawa.
Terus Telusur...
Label:
FIKSIMINI
16 November 2009
Oh Ya
Sajak Charles Bukowski
ada yang lebih buruk daripada
sepi sendiri
tapi seringkali perlu berdekade
untuk menyadari ini
dan lebih sering lagi
ketika engkau menyadari
sudah sangat terlambat
dan tak ada yang lebih buruk
daripada
terlambat yang sangat.
Terus Telusur...
ada yang lebih buruk daripada
sepi sendiri
tapi seringkali perlu berdekade
untuk menyadari ini
dan lebih sering lagi
ketika engkau menyadari
sudah sangat terlambat
dan tak ada yang lebih buruk
daripada
terlambat yang sangat.
Terus Telusur...
Burung Biru
Sajak Charles Bukowski
ada burung biru di hatiku
yang ingin keluar dari situ
tapi aku amat ketat mengurungnya,
Aku bilang, di situ saja, aku
tak akan membiarkan ada yang melihat
kau diam di situ.
Terus Telusur...
ada burung biru di hatiku
yang ingin keluar dari situ
tapi aku amat ketat mengurungnya,
Aku bilang, di situ saja, aku
tak akan membiarkan ada yang melihat
kau diam di situ.
Terus Telusur...
Saat Sajak-sajak
Sajak Charles Bukowski
saat sajak-sajak berbanyak seribu biak
engkau sendiri menyadari betapa secuma
yang telah engkau cipta
:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani
Terus Telusur...
saat sajak-sajak berbanyak seribu biak
engkau sendiri menyadari betapa secuma
yang telah engkau cipta
:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani
Terus Telusur...
Tantangan Kegelapan
Sajak Charles Bukowski
pandang apa yang tak terduga
sangka apa yang tak terkira
sepak apa yang tak tertebak
apakah apa yang bagai tari sebunga bunga
:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani
Terus Telusur...
pandang apa yang tak terduga
sangka apa yang tak terkira
sepak apa yang tak tertebak
apakah apa yang bagai tari sebunga bunga
:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani
Terus Telusur...
Sendiri Bersama Semua Orang
Sajak Charles Bukowski (1920 - 1994)
daging memagut tulang
dan mereka letak padanya benak
dan kadang juga jiwa,
dan vas bunga
dihancurkan perempuan
dibentur ke dada dinding
dan lelaki menenggak mabuk
dan tak ada yang mendapatkan
apa-apa
tapi terus saja mereka
mencari
keluar masuk merangkaki
ranjang.
daging membalut
tulang dan daging mencari
apa yang lebih daging
daripada daging.
tak ada peluang
sama sekali tak ada
kita terperangkap
dalam takdir
yang sama
saja.
tak ada seseorang yang
bisa menyeorangkan
seseorang.
tempat pembuangan sampah penuh
lapangan barang rongsokan penuh
barak orang gila penuh
lorong rumah sakit penuh
taman kuburan penuh
tak ada lagi sisa
sesak saja
segala.
:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani Terus Telusur...
daging memagut tulang
dan mereka letak padanya benak
dan kadang juga jiwa,
dan vas bunga
dihancurkan perempuan
dibentur ke dada dinding
dan lelaki menenggak mabuk
dan tak ada yang mendapatkan
apa-apa
tapi terus saja mereka
mencari
keluar masuk merangkaki
ranjang.
daging membalut
tulang dan daging mencari
apa yang lebih daging
daripada daging.
tak ada peluang
sama sekali tak ada
kita terperangkap
dalam takdir
yang sama
saja.
tak ada seseorang yang
bisa menyeorangkan
seseorang.
tempat pembuangan sampah penuh
lapangan barang rongsokan penuh
barak orang gila penuh
lorong rumah sakit penuh
taman kuburan penuh
tak ada lagi sisa
sesak saja
segala.
:: Diterjemahkan oleh Hasan Aspahani Terus Telusur...
Label:
bukowski,
terjemahan
15 November 2009
Di atas kertas kata-kata bercumbu, seperti lalat di hangat musim panas dan penyair cuma penonton yang dirudung bingung - Dusan "Charles" Simic, Penyair Serbia-Amerika.
Terus Telusur...
Terus Telusur...
Langgan:
Entri (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.
