Alat Sadap (AS): Hei, maukah engkau menyadap percakapan kita?
Aku Penyadap (AP): Percakapan engkau dan aku?
AS: Ya, engkau dan aku. Aku ingin sekali tahu, bagaimana rasanya mendengarkan percakapan kita sendiri, percakapan yang disadap oleh orang lain.
AP: Tapi kalau kusadap percakapan kita, itu artinya kita menyadap percakapan kita sendiri, bukan?
AS: Apakah harus orang lain yang menyadap percakapan kita?
AP: Aku sendiri tak pernah menyadap percakapanku sendiri. Engkau pasti tahu itu, sebab apa yang kusadap, pasti engkau yang menyadapnya, bukan?
AS: Makanya, pernahkanlah. Mungkin dengan begitu, kita bisa menyadap percakapan orang lain dengan lebih baik.
AP: Sebenarnya aku bosan, menjadi penyadap.
AS: Kamu bosan denganku?
AP: Tidak, aku hanya berpikir adakah yang bisa kita lakukan selain pekerjaan ini?
AS: Mungkin sesekali kita harus menyadap percakapan Penting Dia yang Mahapenting.
AP: Apakah itu tidak melampaui wewenang?
AS: Siapa yang membuat batas wewenang itu?
AP: Entahlah...
AS: Saya kira dia Yang Mahapenting, ingin sekali sesekali ada yang mendengar apa yang Dia ingin katakan.
AP: Ah, sudahlah. Kamu tahu kan? Dia itu Mahapenyadap. Dia tahu bahkan apa yang dikatakan oleh hati kita.
AS: Ya, ya... Sudahlah.
Terus Telusur...
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
6 November 2009
Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya (5)
5. SERATUS? Tapi, aku membacanya seperti seribu, seperti sejuta, tak
habis-habis. Sebuah soneta - melahirkan sepuluh lagi, sehabis kubaca.
O, betapa besar cinta. Kayu yang melapuk ikhlas, tumbuh jamur umur,
seakan mengerti ada siklus yang tak boleh putus, tak boleh terhapus.
Dari batang-batang baja hanya akan ada karat mudarat. Aku memang
hanya putra bapak petani, bukan penjaga api di bengkel pandai besi.
Terus Telusur...
habis-habis. Sebuah soneta - melahirkan sepuluh lagi, sehabis kubaca.
O, betapa besar cinta. Kayu yang melapuk ikhlas, tumbuh jamur umur,
seakan mengerti ada siklus yang tak boleh putus, tak boleh terhapus.
Dari batang-batang baja hanya akan ada karat mudarat. Aku memang
hanya putra bapak petani, bukan penjaga api di bengkel pandai besi.
Terus Telusur...
Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya (4)
4. SEPERTI ditulis untuk syair lagu kanak-kanak dan aku
menyanyikannya sepanjang jalan menjauh dari rumah.
Aku tak pernah ingat seluruh lirik itu, tapi sepertinya
memang begitulah seharusnya aku mengenangnya,
aku bebas memasukkan kata baru, menambah irama lain,
menafsirkan arti yang kuingin, membebaskan aku untuk
menjadi apa saja. Aku selalu percaya bahwa matahari
yang ramah itu, ikut bernyanyi bersama riang lagu liar itu.
Terus Telusur...
menyanyikannya sepanjang jalan menjauh dari rumah.
Aku tak pernah ingat seluruh lirik itu, tapi sepertinya
memang begitulah seharusnya aku mengenangnya,
aku bebas memasukkan kata baru, menambah irama lain,
menafsirkan arti yang kuingin, membebaskan aku untuk
menjadi apa saja. Aku selalu percaya bahwa matahari
yang ramah itu, ikut bernyanyi bersama riang lagu liar itu.
Terus Telusur...
Beberapa Percakapan yang Berhasil Kusadap (1)
1. Kalender dan Jam Meja
Kalender (K): Sebenarnya apa yang kau dan aku lakukan di sini?
Jam Meja (JM): Aku kira aku sedang mencocokkan hitunganku dengan angka-angka yang ada padamu. Ini pekerjaan iseng saja sebenarnya.
K: Ah, kau tak merasa sedang diperdaya oleh sesuatu? Sesuatu yang namanya sering disebut oleh lelaki yang tiap pagi datang dan duduk di kursi itu?
JM: Siapa? Si Waktu itu?
K: Ah, aku malas sekali menyebut namanya.
JM: Sebenarnya dia itu tak ada. Kitalah yang membuat dia seolah-olah ada. Kitalah yang membuat seakan-akan dia itu datang, pergi, berlalu, hilang...
K: Makanya, aku malas sekali berusan dengan dia.
JM: Wah, apakah kita punya urusan lain selain dengannya?
Terus Telusur...
Kalender (K): Sebenarnya apa yang kau dan aku lakukan di sini?
Jam Meja (JM): Aku kira aku sedang mencocokkan hitunganku dengan angka-angka yang ada padamu. Ini pekerjaan iseng saja sebenarnya.
K: Ah, kau tak merasa sedang diperdaya oleh sesuatu? Sesuatu yang namanya sering disebut oleh lelaki yang tiap pagi datang dan duduk di kursi itu?
JM: Siapa? Si Waktu itu?
K: Ah, aku malas sekali menyebut namanya.
JM: Sebenarnya dia itu tak ada. Kitalah yang membuat dia seolah-olah ada. Kitalah yang membuat seakan-akan dia itu datang, pergi, berlalu, hilang...
K: Makanya, aku malas sekali berusan dengan dia.
JM: Wah, apakah kita punya urusan lain selain dengannya?
Terus Telusur...
5 November 2009
Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya (3)
3. DIA hanya pendek. Sebuah sajak singkat
yang setelah sekali saja kubaca, meninggalkan
jejak betapa panjangnya. Di dalam kenanganku
dia menggandengmu ke mana-mana. Sakit, bukan?
Pedih, bukan? Perih, bukan? Terus-menerus,
begitu dia bertanya. Aku tak kuasa menjawabnya.
Aku pernah ingin mencoba melacak apa sebenarnya
rahasia, di balik bait-baitnya. Diam-diam aku pun
menjadi diam. Menyelinap masuk ke bait-bait
sajak pendek itu, dan oh, baru aku tahu kemudian,
ternyata rumit sekali kata di balik kalimat yang
ketika sekilas kubaca, tampak sangat sederhana.
Terus Telusur...
yang setelah sekali saja kubaca, meninggalkan
jejak betapa panjangnya. Di dalam kenanganku
dia menggandengmu ke mana-mana. Sakit, bukan?
Pedih, bukan? Perih, bukan? Terus-menerus,
begitu dia bertanya. Aku tak kuasa menjawabnya.
Aku pernah ingin mencoba melacak apa sebenarnya
rahasia, di balik bait-baitnya. Diam-diam aku pun
menjadi diam. Menyelinap masuk ke bait-bait
sajak pendek itu, dan oh, baru aku tahu kemudian,
ternyata rumit sekali kata di balik kalimat yang
ketika sekilas kubaca, tampak sangat sederhana.
Terus Telusur...
Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya (2)
2. SEBUAH sajak asing, yang datang
dengan sangat karib, padaku pada
suatu sunyi. Aku seperti kenal dengan
nama penyair itu. Sajak itu seperti
ditulis untuk mengajari aku: beginilah
seharusnya sunyi disajakkan.
Dalam bahasa asing itu, aku mendengar
sajaknya penuh bunyi. Beberapa konsonan
seperti menyusun diri jadi lonceng,
lalu huruf vokal mendentangkannya.
Tapi, bunyi-bunyi itu justru terdengar
seperti mengabarkan sebuah kesunyian.
Aku kemudian mencoba menuliskannya,
sendiri, dalam bahasaku sendiri, untuk
sunyiku sendiri. Tapi, ah, kenapa ya,
itu tak pernah jadi sajakku sendiri?
"Mungkin, kau belum karib dengan sunyi,
sunyimu itu, mungkin kau diam-diam
sering ingin menolaknya, menjauhinya,"
kata sebuah bait dalam sajak asing itu,
seperti dipersiapkan untuk menjawabku.
Terus Telusur...
dengan sangat karib, padaku pada
suatu sunyi. Aku seperti kenal dengan
nama penyair itu. Sajak itu seperti
ditulis untuk mengajari aku: beginilah
seharusnya sunyi disajakkan.
Dalam bahasa asing itu, aku mendengar
sajaknya penuh bunyi. Beberapa konsonan
seperti menyusun diri jadi lonceng,
lalu huruf vokal mendentangkannya.
Tapi, bunyi-bunyi itu justru terdengar
seperti mengabarkan sebuah kesunyian.
Aku kemudian mencoba menuliskannya,
sendiri, dalam bahasaku sendiri, untuk
sunyiku sendiri. Tapi, ah, kenapa ya,
itu tak pernah jadi sajakku sendiri?
"Mungkin, kau belum karib dengan sunyi,
sunyimu itu, mungkin kau diam-diam
sering ingin menolaknya, menjauhinya,"
kata sebuah bait dalam sajak asing itu,
seperti dipersiapkan untuk menjawabku.
Terus Telusur...
4 November 2009
Beberapa Sajak yang Aku Pikir Seharusnya Aku yang Menulisnya (1)
Beberapa Sajak yang
Aku Pikir Seharusnya
Aku yang Menulisnya (1)
1. SEBUAH sajak yang sama sekali
padanya tak ada kata sakit atau
yang menyaran pada rasa itu. Seperti
pedih, perih, luka, atau aduh.
Tapi, bagiku itu adalah sajak
yang paling pedih, sajak tentang
rasa sakit yang paling sakit. Aku
seperti akrab sekali pada sakit itu.
"Lihat, dagingku menganga tertawa,"
kata sebuah bait di sajak itu. Aku
suka sekali diam-diam memetik bait itu.
Ingin sekali aku mengaku-aku, bahwa
akulah yang menulis sajak itu,
untukmu. Karena dengan begitu
aku berharap, kamu mengira, bahwa
aku sudah memahami rasa sakitmu.
Terus Telusur...
Aku Pikir Seharusnya
Aku yang Menulisnya (1)
1. SEBUAH sajak yang sama sekali
padanya tak ada kata sakit atau
yang menyaran pada rasa itu. Seperti
pedih, perih, luka, atau aduh.
Tapi, bagiku itu adalah sajak
yang paling pedih, sajak tentang
rasa sakit yang paling sakit. Aku
seperti akrab sekali pada sakit itu.
"Lihat, dagingku menganga tertawa,"
kata sebuah bait di sajak itu. Aku
suka sekali diam-diam memetik bait itu.
Ingin sekali aku mengaku-aku, bahwa
akulah yang menulis sajak itu,
untukmu. Karena dengan begitu
aku berharap, kamu mengira, bahwa
aku sudah memahami rasa sakitmu.
Terus Telusur...
2 November 2009
Indeks Baris Pertama Puisi yang Panjang dalam Buku Puisi yang Belum Ingin Kuterbitkan
1. HAI, engkau! Rasa sakit itu. Masihkah kau kenal dengan tubuhku? Tubuh yang belum selesai menjahit koyak jerit sendiri?
2. TUBUHKU adalah sawah yang mencintai musim hujan. Engkau pematang liar, beralur licin, melingkar.
3. "MAUKAH kau menanamku?" tanya rasa sakit itu. Ah, aku sudah menyemai benihnya, sebelum nanti rasa itu menyemak menggulma.
4. MAAFKAN aku hujan. Maafkan aku katak. Maafkan aku bangau. Aku tak bisa bermain dengan kalian. Aku sedang dirawat oleh rasa sakitku.
5. PETANI itu pernah datang sekali. Berdiri di ambang subuh, nyaris rubuh. Lalu pergi, dan selalu tergoda - tapi menolak - untuk lagi kembali.
6. TAK ada jejak di pematang. Tapi, semalam ada yang datang. Ke sawah ini. Seperti buru-buru, ia tanam sesuatu yang tak ia harapkan akan tumbuh.
7. "SEANDAINYA, setiap butirku adalah benih yang tumbuh padamu," kata hujan, kepada sawah. Sawah, sering sudah, ia mendengar pertanyaan itu. Ia tahu, hujan tahu jawaban apa yang ia senantiasakan.
8. MUNGKIN akulah petani itu. Petani yang ingin menanam diri sendiri, di sawah sendiri. Memanen luka: luka sendiri.
Terus Telusur...
2. TUBUHKU adalah sawah yang mencintai musim hujan. Engkau pematang liar, beralur licin, melingkar.
3. "MAUKAH kau menanamku?" tanya rasa sakit itu. Ah, aku sudah menyemai benihnya, sebelum nanti rasa itu menyemak menggulma.
4. MAAFKAN aku hujan. Maafkan aku katak. Maafkan aku bangau. Aku tak bisa bermain dengan kalian. Aku sedang dirawat oleh rasa sakitku.
5. PETANI itu pernah datang sekali. Berdiri di ambang subuh, nyaris rubuh. Lalu pergi, dan selalu tergoda - tapi menolak - untuk lagi kembali.
6. TAK ada jejak di pematang. Tapi, semalam ada yang datang. Ke sawah ini. Seperti buru-buru, ia tanam sesuatu yang tak ia harapkan akan tumbuh.
7. "SEANDAINYA, setiap butirku adalah benih yang tumbuh padamu," kata hujan, kepada sawah. Sawah, sering sudah, ia mendengar pertanyaan itu. Ia tahu, hujan tahu jawaban apa yang ia senantiasakan.
8. MUNGKIN akulah petani itu. Petani yang ingin menanam diri sendiri, di sawah sendiri. Memanen luka: luka sendiri.
Terus Telusur...
1 November 2009
Semalam Saja Lagi
[Ditulis sambil mendengarkan & berdasarkan
lirik lagu "One More Night" Phill Collins]
Semalam saja lagi, beri aku semalam saja,
O, telah lama kumencoba biar engkau tahu
bagaimana aku menanggung rasuk rasa
Dan jika aku tersandung dan jatuh, bantu
aku kembali teguh tegak, agar bisa kubuat
engkau melihat padaku, membuka matamu.
Semalam saja lagi, beri aku semalam saja
karena aku tak bisa menanti lebih nanti
Beri aku lagi semalam saja, semalam saja
karena aku tak bisa menunggu lebih tunggu
Telah lama sekali, aku duduk di sini,
menyampahkan waktu, menatap pada telepon itu
dan menduga-duga, haruskah kutelepon engkau?
Tapi, ah, kukira engkau tidak sedang sendiri.
Seperti sungai memuja lautan, aku selalu
ada berada bersama engkau, dan bila engkau
bentang layar, aku berhembus jadi anginmu.
Semalam saja lagi, ya beri semalam saja,
aku tahu tak akan pernah ada pernah
engkau tak sempat merasa, dan aku tahu ini
cuma kata dan kata-kata, tapi bila engkau
berubah pikiran, engkau tahu bahwa aku ada,
selalu menunggu engkau, menerima lagi engkau,
Kita berdua, mungkin bisa mulai belajar lagi.
Semalam saja lagi, ya beri aku semalam saja.
Tulis Akhir Postingan Anda
Terus Telusur...
lirik lagu "One More Night" Phill Collins]
Semalam saja lagi, beri aku semalam saja,
O, telah lama kumencoba biar engkau tahu
bagaimana aku menanggung rasuk rasa
Dan jika aku tersandung dan jatuh, bantu
aku kembali teguh tegak, agar bisa kubuat
engkau melihat padaku, membuka matamu.
Semalam saja lagi, beri aku semalam saja
karena aku tak bisa menanti lebih nanti
Beri aku lagi semalam saja, semalam saja
karena aku tak bisa menunggu lebih tunggu
Telah lama sekali, aku duduk di sini,
menyampahkan waktu, menatap pada telepon itu
dan menduga-duga, haruskah kutelepon engkau?
Tapi, ah, kukira engkau tidak sedang sendiri.
Seperti sungai memuja lautan, aku selalu
ada berada bersama engkau, dan bila engkau
bentang layar, aku berhembus jadi anginmu.
Semalam saja lagi, ya beri semalam saja,
aku tahu tak akan pernah ada pernah
engkau tak sempat merasa, dan aku tahu ini
cuma kata dan kata-kata, tapi bila engkau
berubah pikiran, engkau tahu bahwa aku ada,
selalu menunggu engkau, menerima lagi engkau,
Kita berdua, mungkin bisa mulai belajar lagi.
Semalam saja lagi, ya beri aku semalam saja.
Tulis Akhir Postingan Anda
Terus Telusur...
30 Oktober 2009
Kenduri Duri Durian
NAMA itu: durian, ia dari diri kami,
tapi bagimu, apakah ini ada arti?
Daging buah itu tak pernah tahu,
ada kami: duri di kulit buah ini,
duri yang hanya menyarukan wangi,
dari aroma yang tak bisa sembunyi.
Daging buah itu pernahkah ingin
bertanya, sekali saja, sukakah kami
pada aromanya yang membuat kami harus
luka, terbelah, dan tajam yang kami
jaga dan menjaga ini, tak berarti
apa-apa, cuma semacam sebuah sia-sia.
*
Nama itu: kenduri, O, betapa ingin kami
tahu, bahwa ia juga berasal dari kami.
Terus Telusur...
tapi bagimu, apakah ini ada arti?
Daging buah itu tak pernah tahu,
ada kami: duri di kulit buah ini,
duri yang hanya menyarukan wangi,
dari aroma yang tak bisa sembunyi.
Daging buah itu pernahkah ingin
bertanya, sekali saja, sukakah kami
pada aromanya yang membuat kami harus
luka, terbelah, dan tajam yang kami
jaga dan menjaga ini, tak berarti
apa-apa, cuma semacam sebuah sia-sia.
*
Nama itu: kenduri, O, betapa ingin kami
tahu, bahwa ia juga berasal dari kami.
Terus Telusur...
Langgan:
Entri (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.

