SEBAB puisi, "serpihan" dari hidup ini, barangkali akan ada harganya dengan lebih menyadarkan kita, bahwa kita bukanlah cuma sebuah jendela yang menangkap satu lanskap di luar sana.
* Goenawan Mohamad, Puisi yang Berpijak di Bumi Sendiri (27 April 1960) dalam buku Kesusasteraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.
PUISI dimulai dengan semangat dan kerinduan, dan berakhir dengan kerendahan hati. Mereka yang mencipta dengan sungguh-sungguh tahu bahwa kesenian merupakan merupakan usaha yang tak putus-putusnya. Jika seni merupakan proses dialektik -- manusia di satu pihak dan realitas di pihak lain -- dialektik itu tak kunjung habis. Hasil seni tak pernah sempurna, meskipun ia selalu ingin demikian.
* Goenawan Mohamad, Manakah yang Lebih Indah (29 Nopember 1963) dalam buku Kesusasteraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.
DI Indonesia, di mana pedusunan terbentang seperti laut dan kota-kota hanya pulau yang terserak-serak -- titik-titik merah yang ganjil pada peta -- penyair justru tidak datang ke desa-desa dan desa-desa tidak datang kepada para penyair. Kepenyairan hanyalah posisi yang tak jelas dari orang-orang kota.
* Goenawan Mohamad, Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang dalam buku Kesusasteraan dan Kekuasaan, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1993.
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
6 Maret 2006
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar