PADA mulanya adalah kaki :: Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
PADA mulanya adalah hati :: Lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

Sekibar Sekabar


’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!

Selengkapnya baca: DI SINI!

Di Salihara

Di Salihara
Membacakan "Leherku Batang Getah, Aku Menoreh Darah" (foto oleh Helga Worotitjan)

4 Maret 2006

Tak Tahu Sebab, Apa Sebab,
Kita pun Lupa Berbagi Jawab



INI perahu pun terus berlayar. Kita jauh terlempar.
Pada pulau tak lagi berkabar. Kita jatuh terdampar.

Jejak dikejar ombak, lalu kaki lekanglah langkah.
Pantai ditolak lambai, maka hati palinglah arah.

Batang-batang kelapa rebah, menjemput tangan laut.
Tiang-tiang dermaga patah, kita rubuh, disentuh maut!

Manakah kapal? Mana kapal bersandar menjemput?
Hanya ada rusuk kayu, sauh patah, di lumpur surut.

TANPA laut, kita hanya duduk di warung lapuk, para
nahkoda mabuk, pada kemudi tak sampai lagi peluk,
menenggak kerak arak, membiarkan bulan bengkak,
lalu lukanya pecah, hujan nanah, kota dikutuk sumpah.

Ah, kita sudah lama piatu ditinggal Bapa Pembuat Perahu,
yang khatam mengajarkan arah angin: 360 mata penjuru!


TANPA kapal, kita hanya bertaruh, mengadu kayuh,
kelasi-kelasi lumpuh, yang tak ketat lagi memeluk badai,
tali tali cuma meliliti leher, tergantung di tiang: layar patah.

Ah, kita sudah lama yatim, ditinggal Ibu Penggambar Peta,
kini, tak tahu sebab, apa sebab, kita pun lupa berbagi jawab.

0 komentar:

Sepetik Sajak

Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta

:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.


---

Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu


:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu
- Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.


---

Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri

menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.

:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.

Mana Suka Siaran Niaga