MEMBACA puisi berarti bergulat terus-untuk merebut makna sajak yang disajikan oleh penyair. Sajak yang baik merupakan bangunan bahasa yang menyeluruh dan otonom, hasil ciptaan seorang manusia dengan segala pengalaman dan suka-dukanya; oleh karena itu sajak memerlukan dan berhak untuk dicurahi daya upaya yang total pula dari pihak pembaca yang bertanggungjawab sebagai pemberi makna pada sajak itu.
* A Teeuw, dalam alinea pertama pengantar buku Tergantung pada Kata, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1980 (cetakan pertama).
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
23 Maret 2006
[Tentang Puisi] Merebut Makna
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar