UNTUK rakyat dan negerimu berapa luas tanah,
sampai engkau bisa berkata cukuplah sudah?
BERAPA banyak nyawa harus engkau sia-siakan,
agar engkau bisa mengaku telah jadi pahlawan?
SEBERAPA banyak cadangan senjata engkau simpan,
hingga kau rasa telah cukup tertebar ketakutan?
ENGKAU dengarkah semua kutukan beralamat padamu?
Atau lidahmu panjang bercabang menyumbat telingamu?
SEHASUT apa kebencian engkau tumbuh-suburkan,
agar dendam kekal diturunkan, terus diwariskan?
SEBASAH apa darah harus tersiram ke muka bumi,
sampai kau tak lagi merasa darahmu paling suci?
ADA organ lebih di otakmu yang kau sombongkan?
Ada bagian hilang di hatimu yang kau biarkan?
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
11 Agustus 2006
Aku Bertanya, Engkau Jawablah
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar