TAK pernah ada lagi peta, yang bisa membaca tubuh kota.
SEMUA jalan berubah belokan dan berganti nama setiap kali
ada sekelompok orang bersenjata melintas dan menandai
tiap simpang dengan tombak berhulu tulang dan tengkorak.
TAK ada rambu-rambu, hanya plang kosong berbekas peluru
dan spanduk panjang yang tiap hari seperti dicelup ke darah,
dengan itulah kota ini mendapatkan namanya: Kota Darah.
SAUDAGAR di pasar berbohong soal harga dan asal daging, sebab
pembelanja pun lihai menyulap angka nol di lembaran uang.
DULU pernah ada perang. 24 jam ada yang menabuh gendang.
KINI penduduk belajar berhenti, memasang lagi hati sendiri.
SEMUA kepala telah diserahkan ke Komite Peredam Sengketa
lalu disimpan di Museum Negara, bersama patung para presiden
yang tak lagi diingat namanya. Nanti semua akan dikembalikan
kalau warga kota tahu bagaimana memantaskan otak, dan
faham apa rasanya jadi manusia yang kehilangan muka.
KINI penduduk membiasakan diri berpeluk dan berjabat erat
saling menyentuhkan luka dan menyimak darah berbicara apa
dengan bahasa rasa, saling mengabarkan sakit yang sama.
TAPI, eh masih saja ada sekelompok orang berkepala dua
memberi tanda dengan tombak berhulu tulang dan tengkorak.
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
29 Agustus 2006
Kisah Kota Darah
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar