JALAN ke puncak itu pasti menanjak. Juga ke puncak sajak. Ketika kita menuju ke sana, mungkin kita berpapasan dengan orang lain yang tidak pernah tahu bawah puncak itu ada. Dia, si orang itu, mungkin saja menganggap perjalanan kita itu sebagai sebuah sia-sia.
Teruslah berjalan, jangan terhalang oleh anggapan. Kita bisa merancang perjalanan itu hanya pada dilakukan malam hari, bukan? Di kamar kita sendiri. Di diri kita sendiri. Di saat sebagian mata lain istirahat, kita lanjutkan perjalanan. Atau diamlah. Menyepilah. Tetapi ciptakanlah langkah-langkah gaib. Tidak setiap langkah harus menghasilkan bunyi hentakan, bukan? Maka, begitu terbentang kesempatan, langkah kegaiban itu tiba-tiba saja melesatkan kita mendekati ke puncak itu, ke Sajak itu.
Setiap perjalanan pasti punya beban, punya risiko. Kadang-kadang beban dan risiko itulah yang turut memberi arti pada perjalanan itu, bukan? Kita tidak selalu sendirian. Mungkin nanti akan ada kawan seiring setujuan. Kita mungkin bisa meminta tangannya bergandengan. Eh, mungkin saja kawan seiring itu adalah Sajak itu, adalah Puisi itu sendiri.
Bayangkan betapa ringan perjalanan itu? Betapa menyenangkan. Bukan?
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
13 Agustus 2006
[Ruang Renung # 159] Teman Seperjalanan
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar