PADA mulanya adalah kaki :: Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
PADA mulanya adalah hati :: Lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

Sekibar Sekabar


’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!

Selengkapnya baca: DI SINI!

Di Salihara

Di Salihara
Membacakan "Leherku Batang Getah, Aku Menoreh Darah" (foto oleh Helga Worotitjan)

17 Agustus 2006

[Tadarus Puisi # 4] Cemara Menderai Sampai Akhirnya Kita Menyerah

Derai-derai Cemara

cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah


PAMUSUK Eneste, editor buku kumpulan puisi Chairil Anwar Aku Ini Binatang Jalang memberi catatan pada sajak di atas. Sajak ini dikutip persis seperti naskah aslinya. Catatan ini penting. Karena ada beberapa sajak Chairil tampil dalam beberapa versi. Sajak mahsyurnya Aku dalam buku itu juga ditampilkan dalam versi lain berjudul Semangat, kedua versi bervariasi pada beberapa pilihan kata dan bait. Perlu kajian dan pendarasan sendiri ihwal beda versi itu.

SAJAK Derai-derai Cemara, kita yakin saja pada kecocokannya sebagaimana naskah asli, menarik untuk menjadi bahan kita mendaras puisi kali ini. Sajak ini ditulis pada tahun 1949, yaitu tahun yang sama saat maut menjemput si penyair pada bulan keempat. Selain sajak ini ada lima sajak lain bertahun sama. Sekilas saja kita lihat, sajak ini ditulis seluruhnya dengan huruf kecil - pun di awal baris, dan sama sekali tanpa tanda baca, berbeda dengan semua sajak Chairil lain. Kita boleh menduga ini sebuah kesengajaan yang sudah diperhitungkan. Bukan sekedar gaya atau sebatas asal beda. Penyair kita ini tampaknya ingin mengalirkan emosi pelan-pelan dan kehadiran tanda baca dan huruf besar terasa memang akan menjadi ganjalan.

BILA sajak Aku adalah gedoran-gedoran yang gawat, maka sajak Derai-derai Cemara adalah belaian-belaian perlahan dengan badan pisau - bukan matanya, tapi kita pun mengkhawatirkan belaian itu bisa juga menyayat. Seperti ancaman yang tidak terucapkan. Kita tidak takut pada ancaman itu, tidak melawan dan menolaknya, tapi kita sadar bakal kalah. Kesadaran ini penting, dan kesadaran itu bukan berarti sebuah kepasrahan yang diam pasif. []

0 komentar:

Sepetik Sajak

Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta

:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.


---

Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu


:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu
- Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.


---

Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri

menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.

:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.

Mana Suka Siaran Niaga