DI tepi kolam, kucing berdoa, "Tuhan, beri aku insang."
Di seberang, berteriak berang-berang, "Mau kau kuajari
berenang, pandai menyelam dalam, ke dasar kolam?"
Di bawah pohon, pemancing diselimuti kantuk, tak tahu
lagi ia, telah sejak lama habis umpan di mata kailnya.
Ikan-ikan yang tak pernah tidur, berseru riang, "Siapa yang
tak pernah kenyang? Siapa yang tak bisa berenang?"
Si pemancing telah tertidur. Tak sempat mendengar seruan.
Kucing mengira gelagah menadah, mengaminkan doanya.
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
13 November 2006
Di Tepi Kolam di Suatu Petang
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar