: Dedy TR
KITA dulu bertemu ketika kita masih belajar berjalan.
Masih sama telanjang kaki. Kau membanggakan
parut di telapak dan lutut. Aku bercerita soal sakit
ketika rambut yang mulai tumbuh di kaki harus dicabut
KITA pernah terpincang-pincang. Nyaris saja jatuh. Dan
mengira gunung yang hendak ditaklukkan terlalu tinggi
untuk kaki kita yang masih juga telanjang. "Kita tak boleh
letih," katamu. Kita mengenang Sepatu di puncak itu.
KITA bertemu lagi setelah punya sepasang sepatu. "Tapi
aku tak sempat lagi kemana-mana," katamu. "Ah, mungkin
sepatu barumu perlu dibawa jauh dari toko yang menjualnya
dulu," ujarku. Dan kita bertukar sebelah sepatu. Sepatu palsu.
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
18 November 2006
Kita pun Bertukar Sebelah Sepatu
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar