.: sejuta puisi :: hasan aspahani :. PADA mulanya adalah kaki .:.
Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
.:.
PADA mulanya adalah hati .:.
lalu perjuangan dari ragu ke ragu.
BLOG ini adalah kamar kerja pengrajin. Di dinding ada gambar rencana kerja dan sketsa. Di lantai ada selekeh bahan pewarna imaji, tatal batu kata, serakan pahat dan kuas, dan puisi yang belum sepenuhnya jadi. Bukan gerai toko yang memajang barang jadi terkemas rapi.
"Bibirku Bersujud di Bibirmu" dan "Saudagar, Bandar, Beras Setakar" saya bacakan di TIM. Saksikan DI SINI dan DI SINI
HASAN ASPAHANI, Lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, 1971.
Puisinya terbit di:
- Kompas
- Koran Tempo
- Koran Sindo
- Pikiran Rakyat
- Jawa Pos
- Aksara (kini Imajio)
- Riau Pos
- Batam Pos
- Majalah GONG
- dll
Juga terbit dalam buku:
- 100 Tahun Bung Hatta
- Sagang 2000
- Dian Sastro for Presiden # 2
- Les Cyberlettres
- Nubuat Labirin Luka
- Yogya 5,9 Skala Richter
- ORGASMAYA (Yayasan Sagang, 2007)
Puisinya menang di Lomba Penulisan Puisi 100 Tahun Bung Hatta (10 Besar), dan Krakatau Award 2006 (Pemenang IV). Tahun 2007, bersama 30 penyair se-Indonesia, dia membacakan puisi di FKY XIX, Yogyakarta, dan di TUK, Jakarta.
Kini bekerja sebagai wartawan di POSMETRO. Peserta Kursus Jurnalisme Sastrawi PANTAU angkatan ke-7 itu kini juga menjadi editor tamu halaman "Syair" di majalah "Addiction".
* Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e hasanaspahani@yahoo.com.
Ingin Tahu tentang AdSENSE?
Klik Kotak di bawah Ini:
August 31, 2006
[Tadarus Puisi # 5] Tentang Sajak, Penyair dan Dua Sajak Sitok
APAKAH sajak? Sajak adalah apa yang diunggun-timbun jadi rumah. Kata Chairil Anwar, "Kaca jernih dari luar segala tampak." Bagi Subagio Sastrowardoyo, sajak adalah apa yang lahir setelah 'malam yang hamil oleh benihku. Adalah bayi yang dicampakkan ke lantai bumi. Sajak seperti anak haram tanpa ibu membawa dosa pertama di keningnya.
APA guna sajak? Mengingatkan kepada kisah dan keabadian. Melupakan kepada pisau dan tali. Melupakan kepada bunuh diri, kata Subagio Sastrowardoyo. Dan, "Kalau aku mampus, tangisku yang menyeruak dari hati akan terdengar abadi dalam sajakku yang tak pernah mati," katanya dalam sajak lain. Sajak bagi Chairil adalah alamat kemana ia menuju setelah lari dari gedong lebar halaman, dan ketika tersesat tak dapat jalan.
SAJAK bagi Goenawan Mohamad adalah catatan kita bagi dingin yang tak tercatat pada termometer. Ketika kota basah, angin mengusir kita di sepanjang sungai tapi kita tetap saja di sana. Mengamati, mencatat. Seakan gerimis raib dan kita saksikan cahaya berenang mempermainkan warna. Sajak adalah ketika kita merasakan bahagia meski tak tahu kenapa.
TEMA tentang sajak, baik tersurat guratnya dalam sajak atau hanya tersirat seratnya, atau bahkan cuma bisa kita tafsirkan saja salah satunya sebagai sajak tentang sajak, hampir selalu ada ditulis oleh setiap penyair. Mungkin ini sebagai wujud kekariban. Atau persembahan untuk sajak itu sendiri. Chairil, Subagio dan Goenawan yang kita jejaki sajaknya di atas hanyalah sebagian contoh. Cobalah jejaki sajak para penyair lain.
KETIKA menggubah sajak tentang sajak, yang terangkut sebenarnya bukan hanya sajak. Tapi juga hidup yang dihayati oleh penyair. Ya, sajak adalah kehidupan. Keduanya sangat dekat. Keduanya saling ada di dalam keduanya: sajak ada dalam kehidupan dan kehidupan ada dalam sajak. Sajak adalah alat yang bisa sangat bermanfaat untuk merumuskan rumit dan samarnya kehidupan.
SITOK Srengenge, pasti bukan kebetulan jika ia menempatkan dua sajak berikut ini di urutan pertama dan kedua dalam buku berisi 45 sajaknya "Anak Jadah" (Garba Budaya dan KITLV, Cetakan Pertama, November 2000). Dua sajak ini juga menerjemahkan apa peran sajak dan penyair bagi hidupnya dan kehidupan manusia. Sebenarnya selalu ada yang puisi dalam segala sesuatu yang bukan puisi. Dan peran luhur kepenyairan bisa dijalankan oleh siapa saja yang bukan penyair. Sebaliknya penyair yang mengaku paling penyair pun bisa saja menempuh jalan lenceng: keluar dari jalur luhurnya, tak lagi menjadi dan menjadikan rahasia dalam kata, tak lagi menjelma dan menjelmakan tanda atas fana.
Sitok Srengenge KATA PUISI
                   Layang-layang limbung dalam angin dan angin lalu lalai dalam angan,                   barangkali abadi dalam puisi Tapi puisi bukan limbung layang-layang,                   bukan angan lalai atau angin lalu Puisi leluasa hinggap atau terbang,                   kata-kata punya sayap dan pijakan
                  Gamang di kegelapan, tergenang bayang-bayang dan bayang-bayang menjadi halusinasi,                   mungkin imaji dalam puisi Tapi puisi bukan kegelapan,                   bukan remang bayang-bayang Puisi bisa samar atau benderang,                   kata-kata punya mata dan cahaya
                   Batu-batu beku berlumut dan lumut lumat dalam mulut berkabut,                    boleh jadi inspirasi bagi puisi Tapi puisi tak bisu karena takut,                    tak kabur ketika kalbu kalut Puisi berani nyanyi atau marah,                    kata-kata punya nyali, urat dan darah.
                   ke mana kau mengungsi jika rumah ini tak lagi bisa dihuni
                   Pergi membawa diri sadar sudah tak ada rumah bikin betah penyair resah
                   Di mana kau singgah jika tubuh ini tak lagi mampu melangkah
                   Samadi di sunyi puisi menjadi rahasia dalam kata, menjelma tanda atas fana
                   Ke mana kau bergulir jika di tanah tempatmu lahir kau dicibir, diusir
                   Takdir penyair tegak di pinggir: batas laut dan daratan, di mana rindu akhir berdesir
PERMINTAAN wawancara dengan Sitok Srengenge saya sampaikan lewat SMS. "Kirim lewat email saja," balasnya. Lalu saya kirim enam pertanyaan di bawah ini. Apa jawaban dia? "Tadinya saya akan bercanda dengan meminta Anda bertanya kepada para dosen sastra. Tapi, rupanya, pertanyaan anda memang langsung berkaitan dengan diri saya. Saya akan menjawab semua pertanyaan itu, namun tidak sekarang. Segeralah."
INI pertanyaannya dan mari kita tunggu jawabannya.
1. Puisi Anda "Libido Sangkuriang" diakhiri dengan bait "puisi/di dalam diri/tak seutuhnya/tertampung kata". Saya boleh anggap ini sebagai isyarat atau nasihat, bahwa dalam diri Anda, atau penyair mana saja, atau siapa saja yang merawat "libido Sangkuriang", tersimpan puisi yang lebih dari puisi, yang tak pernah tuntas dipuisikan dengan kata?
2. Dalam puisi-puisi Anda, Anda tampak sangat menikmati permainan bunyi. Anda juga asyik sekali menata tipografi. Pokoknya, semua perangkat sepertinya begitu mahir Anda berdayakan. Apa lagi yang menjadi tantangan Anda ketika menuliskan puisi?
3. Anda tentu tidak terbebani dengan dorongan Sutardji yang bilang tentang Anda, "...ada harapan menjadi penyair besar", kan? Sajak Anda kata beliau telah menemukan kepribadiannya. Sejumlah nama besar lain pun menaruh harapan pada kepenyairan Anda. Anda lebih menganggap itu sebagai hasil atau hak atas kerja menyair Anda selama ini? Atau utang yang harus Anda bayar terus menerus?
4. Dalam puisi "Mosaik Jalan Raya" Anda ada menyebut "penyair melelang puisi", dan "Dan kemanusiaan/jadi kata antik dalam manuskrip sastra yang tak dibaca". Seberapa cemas Anda dengan gejala itu?
5. Anda nyaman dengan kritik yang sudah dibuat atas puisi-puisi dan kepenyairan Anda? Seberapa berpengaruh kritik terhadap puisi-puisi Anda?
6. Terakhir, bisa cerita bagaimana awalnya Anda mengenal puisi? Lalu mencintainya dengan menuliskannya hingga kini? Dan apa artinya menyandang sebutan penyair di negeri Indonesia saat ini? Dan, ini pertanyaan paling merisaukan, menurut Anda, puisi yang baik itu seperti apa atau harus bagaimana?
TAK pernah ada lagi peta, yang bisa membaca tubuh kota.
SEMUA jalan berubah belokan dan berganti nama setiap kali ada sekelompok orang bersenjata melintas dan menandai tiap simpang dengan tombak berhulu tulang dan tengkorak.
TAK ada rambu-rambu, hanya plang kosong berbekas peluru dan spanduk panjang yang tiap hari seperti dicelup ke darah, dengan itulah kota ini mendapatkan namanya: Kota Darah.
SAUDAGAR di pasar berbohong soal harga dan asal daging, sebab pembelanja pun lihai menyulap angka nol di lembaran uang.
DULU pernah ada perang. 24 jam ada yang menabuh gendang.
KINI penduduk belajar berhenti, memasang lagi hati sendiri.
SEMUA kepala telah diserahkan ke Komite Peredam Sengketa lalu disimpan di Museum Negara, bersama patung para presiden yang tak lagi diingat namanya. Nanti semua akan dikembalikan kalau warga kota tahu bagaimana memantaskan otak, dan faham apa rasanya jadi manusia yang kehilangan muka.
KINI penduduk membiasakan diri berpeluk dan berjabat erat saling menyentuhkan luka dan menyimak darah berbicara apa dengan bahasa rasa, saling mengabarkan sakit yang sama.
TAPI, eh masih saja ada sekelompok orang berkepala dua memberi tanda dengan tombak berhulu tulang dan tengkorak.
ADA biro jasa yang menawarkan paket impian. Pesan saja mimpi instan: jadi manusia penuh kebahagiaan. Ini mimpi yang paling laris, sepanjang zaman. Para pelancong pulang bawa oleh-oleh sarimimpi, dalam botol-botol kemasan, cukup untuk persediaan sampai mereka datang lagi berwisata melupakan diri ke kota kami. Kota Mimpi.
SAYA dulu musafir dari kota yang masih terus kulupakan.
DI kota ini semula saya tersesat, tapi lama kelamaan saya keenakan. Di negeri asal saya miskin, di kota ini saya kaya: kayamimpi. Di negeri brengsek dulu saya lajang, di sini saya punya istri paling setia: istrimimpi. Di negeri kacau dulu saya gelandangan, di kota ini saya punya rumah: rumahmimpi. Di negeri nyata dulu ada rambu dilarang bermimpi, di sini di gerbang kota saya disambut papan imbauan: Selamat Datang di Kota Mimpi, Anda Memasuki Daerah Bebas Bermimpi. Oh ya, Anda tak mahir bermimpi? Jangan takut, ada pegawai kota yang siap mengajari Anda. Dijamin mimpi Anda tuntas tanpa gangguan terjaga.
YANG paling dicemaskan di sini hanya: Anjing Penjaga!
POHON-POHON tua, masihkah ia menjaga kota? Masihkah mengukur musim dan dingin dengan termometer batangnya?
HUJAN telah lama akrab dengan terminal dan angkutan kota. Para penumpang menempuh perjalanan semalaman. Datang, dengan ransel, selembar baju, buku, dan bekal sewa kamar sebulan. Menetap sekejap, hanya untuk sempat bersahabat dengan bocah pengasong payung. Terlalu banyak pohon tua.
Tangan-tangan yang menanamnya telah keriput dan pergi bersama usia. Mungkin ada jawaban di perpustakaan balai-balai penelitian. Tapi, hujan selebat hutan khayalan seharian. Bocah pengasong payung meringkuk ketiduran, di emperan pusat perbelanjaan. Bermimpi tentang asrama mahasiswa, ruang kuliah dan laboratorium kimia, botani, fisika, fisiologi di kampus tua.
POHON-POHON tua, masihkah diam-diam berdoa? Masihkah menunggu hujan-hujan yang dulu dibisikkan para penanamnya?
OH, itu bayang-bayang mahasiswa dengan jas kerja, meletakkan cawan di tepi jalan? Menebak apa yang terjebak: spora jamur atau bakteri? Oh, bukan. Itu rombongan pelancong berburu jajanan! Bocah pengasong payung tertawa pada rapat hujan. Di jalanan. Memadatkan jarak dan serak kendaraan. Mencabuti anak rambut di kening kenangan. Gagang payung-payung gelap disorongkan.
BERPUISI itu adalah berbahasa. Puisi itu adalah bicara kita. Berbicara dengan puisi berbeda dengan berbicara biasa. Puisi bukanlah bicara yang tidak komunikatif. Memang lebih mudah memahami bicara biasa dibandingkan bicara puisi. Bicara biasa tujuannya cuma satu: ia harus dimaknai tunggal, penyimak isi pembicaraan hanya berusaha menerima satu-satunya makna atau pesan dari si pembicara. Jika itu tidak terjadi maka komunikasi gagal.
PUISI tidak begitu. Kata A Teeuw, puisi menjadikan hal yang sederhana menjadi aneh, yang mudah dipahami dirumuskan secara berliku-liku, sehingga mengejutkan, malahan bahkan bisa mengelirukan. Tetapi justru keanehan itu menjadikan puisi mengesankan, sukar dilupakan, terpatri dalam ingatan.
AKAN tetapi bukan berarti puisi harus dirumit-rumitkan, diruwet-ruwetkan agar ia susah dipahami. Pengaturan bicara puisi diupayakan agar pemaknaannya bisa kaya, tidak tunggal. Mungkin hanya ada satu makna pokok seperti dalam bicara biasa, tapi yang pokok itu pun memberikan banyak variasi cara memaknainya.
SI penyimak bicara puisi menemukan kenikmatan dari seluruh sisi bahasa puisi itu. Puisi tidak menuntut kepraktisan komunikasi. Puisi memberi kesempatan pada pengguna bahasa untuk bermain-main lagi dengan kata, membangkitkan lagi kenakalan bahasa, bertamasya ke dalam ruang-ruang bahasa yang jarang dikunjungi dalam kesibukan berbahasa kita sehari-hari.
GERAKAN Imajis melibatkan para penyair di Inggris dan Amerika pada awal Abad ke-20. Mereka menulis sajak bebas dan mempersembahkannya untuk "kejernihan ekspresi melalui pemakaian ketepatan imaji-imaji visual."
GERAKAN ini disemikan dari ide T.E. Hulme, yang di awal tahun 1908 membahas pada sebuah Klub Puisi di London sebuah puisi yang ditulis berdasarkan penggambaran dengan akurat subyek setepat-tepatnya, tak ada kata-kata berlebihan yang tak berguna. Ezra Pound memproklamasikan gerakan ini pada tahun 1912. Kala itu dia membaca sebuah sajak Hilda Doolittle, dan menyebutnya sebagai "H.D. Imagiste" lalu mengirimnya ke Harriet Monroe di Majalah Poetry.
RUKUN iman pertama dari manifesto gerakan Imajis adalah "Menggunakan bahasa dari percakapan yang umum, tapi selalu memberdayakan kata yang setepatnya kata, bukan kata yang hampir-tepat, bukan kata-kata dekoratif belaka."
CONTOH yang kerap disebut adalah puisi Ezra Pound berikut ini:
Di Stasiun Metro
Di kerumun orang, wajah-wajah menyelinap hilang; Basah kelopak kembang, di hitam cabang-cabang.
Sajak ini dimulai dari wajah-wajah pemandangan di statiun bawah tanah yang gelap lalu lalu membawa pada pandangan lain dengan menyejajarkan dengan imaji yang lain. Dari situ hadir metafora yang membangkitkan penemuan intutitif yang tajam untuk meraih esensi kehidupan.
EZRA Pound mendefinisikan imaji sebagai "apa yang padanya, dalam waktu sekilas seketika, menghadirkan sebuah kompleksitas emosi dan intelektual". Puisi Imajis, dirumuskannya antara lain sebagai: Puisi dengan memperlakukan langsung "sesuatu", sebagai subyek atau obyek; dan Mutlakiah menggunakan, tak satupun kata yang tak memberikan sumbangan makna.
ANTOLOGI puisi Imajis terbit 1914 berisi karya-karya William Carlos Williams, Richard Aldington, dan James Joyce, serta H.D. dan Pound. Penyair Imajis lainnya adalah F. S. Flint, D. H. Lawrence, dan John Gould Fletcher. Setelah antologi itu terbit, Amy Lowell dipandang sebagai pemimpin gerakan tersebut. Tahun 1917 gerakan imajis dianggap sudah berakhir tetapi idenya terus memberi pengaruh menembus abad 20. Dokrtin puisi imajis, sadar atau tidak banyak mempengaruhi puisi-puisi karya penyair Indonesia.
BOLEHKAH penyair menjadi juru bicara puisinya sendiri? Bolehkah penyair membantu penikmat puisinya dengan menjelas-jelaskan hal iwal puisinya? Eh, bukankah katanya, penyair telah mati setelah melahirkan karyanya? Artinya karyanya itu bukan lagi dalam asuhannya? Artinya penikmat punya hak sepenuhnya untuk berbuat apa saja untuk memberi harga atau memberi makna pada puisi-puisinya?
MESTINYA penyair adalah juru bicara terbaik bagi puisi-puisinya. Dia boleh menuntun penikmat puisinya jalan-jalan ke arah pemaknaan, tetapi dia tidak mengantar ke satu-satunya makna. Tetapi dia bukan juru bicara yang nyinyir merepek. Dia bicara seperlunya saja. Kalau diam saja sudah cukup sebagai isyarat, kenapa harus banyak bicara? Penyair bukan juru bicara yang hanya memanfaatkan puisinya untuk menyampaikan urusan-urusan yang bukan puisi. Dan, yang terpenting penyair tidak menjadi juru bicara bagi puisinya di dalam puisinya.
ADA pesan dari gelap lambung bumi yang ingin ia sampaikan pada terang langit dan matahari. "Kalian tak akan mengerti. Kalian tak akan mengerti," begitulah dari sumur itu uap mendengus, seperti ribuan jemaah haus, setelah berabad-abad berzikir terus-menerus.
MAKA lumpur pun datang, dan penduduk kota hilang.
SEMULA ada yang mengira mereka memilih jadi ikan, memasang semacam insang di leher dan sejak itu menjadi bisu. Tapi telah ada hiu besar yang diam-diam mengancam di dasar lumpur. Tak ada sekeping pun sisa sisik dan seruas pun bekas tulang. Lalu sejak itu muncullah sekelompok ubur-ubur sebesar kepingan uang recehan yang berbiak dan nyaris memenuhi genangan.
MAKA lumpur pun dialirkan ke lautan. Tanpa pelabuhan.
ADA kapal-kapal tanker besar menanti. Para nakhodanya bertubuh besar dan bertangan banyak sekali. Sebagian dati tangan-tangan itu memegang senapan. Sebagian lagi terus-menerus menekan angka-angka di mesin hitung dan pencatat waktu. Para kelasinya tak pernah menginjak bumi dan tak pernah berdiam, kerja siang malam. Mereka dibayar dengan mata uang yang selembar saja cukup untuk membeli segalanya, belanja selama-lamanya. Dari daratan di kapal itu hanya terlihat lampu gemerlapan.
MAKA lumpur pun sampai, mengendap di dasar lautan.
DAN pada suatu pagi, orang tak melihat lagi kapal-kapal itu. Malam di laut hanya tampak kegelapan. Laut sudah mati. Warnanya hitam. Kental dan makin lama makin panas. Mendidih. Garam bubur. Kubur ubur-ubur. Sementara di kota itu lumpur masih terus menyembur. Tinggal pengeras suara berkarat di menara-menara. Dulu di sana, para petinggi agama berkhotbah tak henti-hentinya.
KOTA itu tumbuh dari pulau tempat terpidana dibuang.
SEMULA diseberangkan maling-maling muda yang membunuh orang-orang sekampung untuk merebut seekor hewan ternak, lalu dibakar tanpa penyembelihan. Mereka diberi hukuman mati. Tapi seorang ayah yang selamat mengampuni mereka. "Kami tidak pernah mengajari mereka mengenal rumput dan air garam. Bukan salah mereka. Kami orang-orang tua ini terlalu sibuk menggembala. Padahal akhirnya cuma sesat bersama, kami kehilangan ternak, anak-anak kehilangan kami." Di sepanjang penyeberangan anak-anak muda itu tak henti bernyanyi. "Kami sudah mati. Kami sudah...."
KOTA itu dihidupkan para hukuman, sudah dimatikan.
LALU datang pula, para pahlawan-pahlawan yang tahu menemukan lawan dan mengobarkan peperangan demi niat kesucian yang ditempuh pada jalan kebencian dan api kebencian yang menghunuskan pedang kesucian. Mereka telah menghapal manual cara membuat bahan ledakan dari sekantong garam. Mereka telah mengenal tubuh seperti batang getah yang siap ditatah menoreh darah, lalu pada luka itu sebuah ancaman ditanamkan. Kafe, rumah ibadah, kantor duta besar telah diledakkan.
KOTA itu dipimpin oleh pejabat tua yang tak mati-mati.
KITAB hukuman tak menyebutkan vonis paling pantas. Dia mestinya dihukum mati 40 kali. Dihukum seumur hidup 40 kali. Dihukum gantung 40 kali. Di persidangan ia dibela 40 pengacara paling tangguh. Dan setelah 40 hakim terbunuh menjelang vonis jatuh, akhirnya sidang dihentikan. Dan pejabat itu diam-diam diseludupkan ke kota para tahanan, dihilangkan ke kota para buangan.
BANDAR LAMPUNG -- Sajak "Tamsil Damar Batu" karya Jimmy Maruli Alfian (Lampung) memenangkan Krakatau Award 2006 yang diselenggarakan Dewan Kesenian Lampung (DKL). Puisi ini terpilih dari 347 judul puisi yang dikirim setelah menyisihkan 142 penyair dari berbagai daerah di tanah air.
Dewan juri yang terdiri dari Acep Zamzam Noor, Budi P. Hatees, dan Isbedy Stiawan ZS juga menetapkan sajak "Nyanyian tentang Tujuh Anak Tangga Rumah Panggung" karya Anton Kurniawan (Lampung).
Lalu, pemenang ketiga diraih "Dongeng Poyang Sepanjang Sungai" karya Fina Sato (Bandung), dan keempat "Pulau Kampung Pukau Lampung" karya Hasan Aspahani (Batam).
Para pemenang, menurut Ketua Komite Sasta DKL Budi P. Hatees, berhak atas hadiah piagam dan uang. "Masing-masing penerima mendapatkan hadiah piagam dan uang Rp1 juta untuk juara satu, juara ke dua (Rp700 ribu), ke-3 (Rp500 ribu) dan juara ke-4 mendapatkan hadiah uang snilai Rp300 ribu," katanya.
Ketua Dewan Juri Lomba Puisi Krakatau Award 2006, Acep Zamzam Noor, mengatakan puisi dapat dipergunakan untuk mempromosikan sebuah daerah kepada masyarakat luas.
"Dengan lomba penulisan puisi, hal itu sangat mungkin terwujud," kata penyair asal Cipasung, Jawa Barat, seusai mengumumkan pemenang Lomba Puisi Krakatau Award 2006 di Sekretariat Dewan Kesenian Lampung, Senin (21-8).
Menurut Acep, sebagian besar puisi yang dikirim para penyair ditulis menggunakan idiom-idiom lokal khas Lampung, meskipun banyak dari idiom-idiom itu sifatnya hanya cantelan.
"Puisi para pemenang lomba ini berhasil memanfaatkan idiom dan ikon kelokalan Lampung tanpa terperangkap sebagai cantelan. Hal ini terjadi karena panitia lomba memberikan tema khas Lampung," kata dia.
Membaca puisi-puisi yang dikirim peserta tersebut, Acep yakin setiap peserta sudah berusaha mempelajari dan memahami realitas masyarakat Lampung. Secara tidak langsung, tema yang diberikan panitia telah mempromosikan Provinsi Lampung kepada peserta yang ada di seluruh Nusantara.
"Para penulis puisi butuh literatur yang banyak untuk memahami khas-khas masyarakat Lampung. Tanpa semua itu, mustahil mereka dapat menghasilkan karya puisi yang bagus," ujarnya. AAN/0-1
       APA yang hendak kau katakan nanti adalah juga apa yang hendak ku katakan dan apa yang ingin kau kabarkan padaku adalah kabar yang ingin kusampaikan juga padamu dan apa yang kau tuliskan pada kertas surat telah kubaca sejak kau gariskan huruf-huruf pertamanya hingga kau bubuhkan tanda cinta dan namamu yang juga ingin kutuliskan berulang-ulang sehingga tiap huruf itu dengan cara sendiri juga menyusun namaku sementara darinya kau juga masih bisa membaca namamu demikianlah lelaki itu berpamitan mencium tangan kekasihnya untuk yang terakhir kalinya di malam yang paling tidak sempurna saat langit sehitam tinta dan perempuan itu bergegas lari ke kamarnya segera setelah kekasihnya tenggelam dalam gelap malam dan subuh itu di mejanya telah ada sebuah pena yang bercahaya dan serta sebuah amplop bertuliskan alamat dan ia ingin sekali menulisi sajak pada kertas itu sambil mengendalikan air matanya.
MAKA, pada ombak di selatmu, aku belajar mengayuh lagi. Biduk tak     bercadik ini. Ke pulau-pulau di gugus Krakataumu. Dengan     cemas yang tak lagi kemas: sampailah, sampailah lekas.     Sampai ke telukmu. Tempat sebuah bandar berpelabuhan rindu.     Dan aku pelaut hendak menukar layar dengan jubah biksu dan     kamus rahasia tempat para penyair menyemai benih puisi.
AHAI, di mana nanti kutinggalkan perahu? Sedang di sini sungai-sungai     mengeruk beluk dengan bait baru, mengeduk seluk dengan larik     arus laju. Bagaimana nanti kuinginkan badai? Sedang di sini alir     lurus menuju ke muara yang satu. "Sungai telah kami terjemahkan     ke dalam puisi, siapa yang berani memaknai kedalaman? Menebak     apa yang kami tawarkan, mungkin sebuah teteduhan?"
BAIKLAH, di mana aku bisa singgah? Aku ingin sebuah kedai yang ramah.     Dan segelas kopi kampung beraroma rumah. Para perempuan menemani     dengan buku antologi dan lelaki dengan kitab sejarah. "Malam nanti     datanglah. Kita membaca wangi sejarah, dan mungkin bisa kau temukan     rahasia bagaimana menyuling atsiri ke dalam puisi." Aku termenung.     Seperti kudengar lirih bebandung.
BARANGKALI, ada situs di pelupukmu tempat para pelaut betah     membayangkan khayangan, dan aku akan menduga telah menjadi     dewa, menghafalkan pisaan, lalu memejamkan keinginan, belajar     mengerti sebisanya betapa di sini manusia mungkin berbahagia.     Atau menunggu disalin ke remang memmang.
[Ruang Renung # 161] Garis Nyata yang Bisa Dipegang
PADA mulanya hanya kita yang berhadap-hadapan dengan sajak kita. Pada mulanya kita menyaksikan tayangan gambar-gambar imaji di kepala, dengan menarik-mengulur rasa di hati sebagai akibat dari sentuhan imaji-imaji itu, kita lalu menjemput kata, mengumpulkan kata, menyusun kata, memilih kata. Hasilnya adalah puisi dengan bancuhan baru antara rasa dan imaji. Dan ah mungkin juga pesan yang diam-diam kau sembunyikan.
SEGERA setelah kita menganggap selesai puisi kita, maka kita berganti posisi sebagai pembaca pertama puisi kita. Seharusnya kita adalah pembaca terbaik bagi puisi-puisi kita. Seperti Chairil Anwar terhadap karya-karyanya. Pernah suatu kali, lewat kartu pos, Chairil menulis ke HB Jassin: Yang kuserahkan padamu --- yang kunamakan sajak-sajak! --- itu hanya percobaan kiasan-kiasan baru. Bukan hasil sebenarnya! Masih beberapa "tingkat percobaan" musti dilalui dulu, baru terhasilkan sajak-sajak sebenarnya.
KALA lain, Chairil menulis: begini keadaan jiwaku sekarang, untuk menulis sajak keperwiraan seperti "Diponegoro" tidak lagi. Menurut oom-ku sajak itu pun tidak baik! Lagi pula dengan kritik yang agak tajam sedikit, hanya beberapa sajak saja yang bisa melewati timbangan. Tapi tahu kau, apa yang kuketemui dalam meneropong jiwa sendiri? Bahwa dari sajak-sajak bermula hingga penghabisan belum ada garis nyata lagi yang bisa dipegang.
GARIS nyata yang bisa dipegang? Chairil bahkan tak henti-hentinya meninjau perkembangan puisi-puisinya, sejak sajak-sajak bermula hingga penghabisan. Mencari pola hubungan-hubungan antara semua puisinya. Menghadap-hadapkannya dengan kemungkinan kritik dan timbangan sajak. Chairil dengan begitu memberi contoh pada kita bagaimana menjadi pembaca pertama dan paling kejam atas sajak-sajaknya sendiri.
CHAIRIL penyair yang bersungguh itu bahkan kerap meragukan niat masuknya ke rumah kesenian. "Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati. Tapi hingga lahir aku hanya bisa mencampuri kesenian setengah-setengah pula. Tapi ungunglah bathin seluruh hasrat dan minatku sedari umur 15 tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian," katanya dalam kartu pos lain, ke sahabat yang sama: HB Jassin.
[Tadarus Puisi # 4] Cemara Menderai Sampai Akhirnya Kita Menyerah
Derai-derai Cemara
cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam
aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini
hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah
PAMUSUK Eneste, editor buku kumpulan puisi Chairil Anwar Aku Ini Binatang Jalang memberi catatan pada sajak di atas. Sajak ini dikutip persis seperti naskah aslinya. Catatan ini penting. Karena ada beberapa sajak Chairil tampil dalam beberapa versi. Sajak mahsyurnya Aku dalam buku itu juga ditampilkan dalam versi lain berjudul Semangat, kedua versi bervariasi pada beberapa pilihan kata dan bait. Perlu kajian dan pendarasan sendiri ihwal beda versi itu.
SAJAK Derai-derai Cemara, kita yakin saja pada kecocokannya sebagaimana naskah asli, menarik untuk menjadi bahan kita mendaras puisi kali ini. Sajak ini ditulis pada tahun 1949, yaitu tahun yang sama saat maut menjemput si penyair pada bulan keempat. Selain sajak ini ada lima sajak lain bertahun sama. Sekilas saja kita lihat, sajak ini ditulis seluruhnya dengan huruf kecil - pun di awal baris, dan sama sekali tanpa tanda baca, berbeda dengan semua sajak Chairil lain. Kita boleh menduga ini sebuah kesengajaan yang sudah diperhitungkan. Bukan sekedar gaya atau sebatas asal beda. Penyair kita ini tampaknya ingin mengalirkan emosi pelan-pelan dan kehadiran tanda baca dan huruf besar terasa memang akan menjadi ganjalan.
BILA sajak Aku adalah gedoran-gedoran yang gawat, maka sajak Derai-derai Cemara adalah belaian-belaian perlahan dengan badan pisau - bukan matanya, tapi kita pun mengkhawatirkan belaian itu bisa juga menyayat. Seperti ancaman yang tidak terucapkan. Kita tidak takut pada ancaman itu, tidak melawan dan menolaknya, tapi kita sadar bakal kalah. Kesadaran ini penting, dan kesadaran itu bukan berarti sebuah kepasrahan yang diam pasif. []
[Tadarus Puisi # 3] Api Emosi dan Imaji dalam Resital Piano
Di Sebuah Resital Piano
di sini, denting bertempo cepat patah-patah berdesingan seperti misil di sebuah daratan yang terbakar. di situ, desing kata-kata menderas seperti hujan lembing di kitab-kitab sejarah, membela tuhan dengan darah lalu memuji namanya dalam tudung perisai. di sini, kelincahan jemari terasa begitu surgawi, lebih benderang dibanding teriakan takbir penuh geram. di situ, kelihaian berhujat begitu tinggi seperti galah mengukur dasar sungai dan selatmu. lalu di sini, sebuah rondo memutar biji tasbih dengan suara yang ringkas dan nyaring: membaca ritual pemakaman sebuah kurun masa; sebagaimana telah dituliskan di rajah tulang ekormu.
DEFINISI seperti lampu penerang jalan terpasang terpasang di sepanjang jalan puisi menuju kota puisi. Beberapa rambu, tanda, peringatan, larangan, banyak ditemukan di sepanjang jalan puisi menuju kota puisi. Sebuah peta lengkap dengan petunjuk arah dan mata angin telah lama ada untuk menemani kita menelusuri jalan puisi menuju kota puisi. Ikutilah jalan, patuhilah rambu, dan bacalah dengan patuh peta maka kita akan sampai dengan selamat ke kota puisi.
SI PEMASANG lampu jalan, insinyur sang pembuat jalan dan kartografer perancang peta tentu tidak bisa disalahkan. Semua diperlukan. Tetapi, di luar kota pelancongan puisi itu, ada hutan puisi yang jauh lebih menantang untuk dijejahi. Hutan yang belum berpeta. Saya bayangkan hutan itulah wilayah yang disebut oleh A Teeuw, penelaah sastra Indonesia asal Belanda, ketika dia berkata bahwa tugas penyair adalah mengejutkan pembaca, dengan melakukan penyimpangan dari pemaknaan bahasa yang sudah terbiasa, sudah familiar, usang dan luntur. Tetapi kemungkinan, kelonggaran penyimpangan, selalu ada batasnya, yakni batas kemungkinan komunikasi.
DENGAN kata lain mengajak pembaca puisi berani masuk ke gelap dan semak hutan. Saya bayangkan TS Pinang dengan serangkaian terbarunya di Titik Nol - salah satunya adalah puisi yang sedang kita bahas dalam tadarus ini - sedang mengajak saya sebagai pembaca ke hutannya. Dan TS Pinang adalah pemandu yang baik. Ia berhasil membuat jalan setapak dengan jejaknya sehingga masih dalam batas kemungkinan komunikasi yang digariskan A Teeuw.
PERTANYAAN terkerap diajukan jika menemui sajak yang menyimpang adalah, "bagaimana membaca sajak ini?" Jika kita baca pelan-pelan sajak ini bisa saja disusun dengan bait-bait berlarik normal - senormalnya sajak yang kita tempuh di jalan ke kota puisi yang berlampu penerang, berpeta dan berambu-rambu.
LALU kenapa semua bait "ditabrak" dan semua baris "dirusak"? Saya tak tahu niat awal TS Pinang melakukan itu. Tapi buat saya bentuk bait pepat-padat itu bisa membangkitkan emosi. Saya seakan ikut marah jika saya temukan kemarahan dalam sajak itu, saya bisa ikut geram jika saya temukan kegeraman dalam sajak itu. Marah dan geram itu terasa kuat panasnya, lekas membakar saya, seperti api yang disemburkan dengan lekas.
YA, emosi sajak. Pembaitan salah satu manfaatnya dalam sajak adalah untuk mencicil nyala api emosi dan menggilir lembar-lembar gambar imaji menurut skenario sajak yang kita rancang. Ada emosi sajak yang harus dipanaskan dengan api kecil, diaduk perlahan-lahan, bak menjerang kuah soto agar santannya tidak pecah. Tapi, sajak TS Pinang ini bukan soto. Ia adalah tumis yang dimasak dengan api besar dan disajikan segera setelah pindah dari periuk.
TADARUS ini tidak selesai sampai disini. Kita masih harus masuk jauh ke hutan puisinya TS Pinang mencari buah makna dalam pohon-pohon liar sajaknya. Ada lekuk sungai dan beberapa buah batu. Sedap sekali kalau kita singgah dan duduk dahulu di situ. []
MEMANG saya bukan anggota Majelis Puisi Indonesia, tapi karena saya rasa ini diperlukan maka saya berani mengumumkan sebuah fatwa: Wahai, penikmat puisi - penulis dan pembaca puisi - Anda WAJIBmembaca buku Tergantung pada Kata. Buku karangan A Teeuw itu diterbitkan oleh Pustaka Jaya tahun 1980.
BUKU itu mengulas khusus sejumlah puisi beberapa penyair Indonesia yaitu: Chairil Anwar, Abdul Hadi WM, Goenawan Mohamad, Ajib Rosidi, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Toety Herati, dan Sutardji Calzoum Bachri. Teeuw benar-benar membahas sebuah sajak dari masing-masing penyair (kecuali Sapardi yang dikaji dari tiga sajak) yang ia pilih dengan berbagai pertimbangan, bukan kepenyairan si penyairnya. Tetapi secara tak langsung yang terakhir itu terteroka juga dari cukup satu sajaknya.
PAK Teeuw memaksudkan kajiannya sebagai tantangan bagi pembaca puisi Indonesia. Saya tentu tak punya nyali untuk menantang beliau. Saya lebih suka berkomplot saja dengannya dengan catatan belum tentu dia suka dan rela dengan perkomplotan ini. Apa pun, hasil perkomplotan itu adalah sebuah Manual Memaknai Sajak.
MANUAL ini bagi saya sendiri, menjadi semacam pegangan saja ketika meraba-raba di jalan remang-remang untuk memaknai sajak ketika membacanya. Sejauh ini raba-rabaan itu masih membawa kenikmatan, dan dengan berpegang pada manual yang saya sarikan dari telaah A Teeuw ini, tentu buat saya sendiri, membuat "jalan remang" itu semakin nikmat ditempuh.
KENAPA menulis puisi? Kalau tidak orang lain, kita mungkin pernah bertanya seperti itu kepada diri kita sendiri. Kalau itu diajukan kepada saya maka saya akan menjawab begini:
BAGI saya membaca dan menulis puisi adalah sebuah kerja. Tapi lekas-lekas harus saya tambahkan bahwa ini adalah sebuah kerja ikhlas tak berpamrih. Sepanjang kerja ini masih mendatangkan kenikmatan maka saya akan terus menjadi pekerja puisi. Tentu ada tujuan dari setiap kerja, maka jika pamrih sudah saya abaikan maka yang ingin saya capai dengan kerja saya itu adalah memuliakan puisi. Memang puisi sama sekali tidak menuntut itu pada siapa pun. Tapi, bagi saya memuliakan puisi berarti memuliakan bahasa dan dengan demikian juga memuliakan manusia.
PADA puisi yang saya dapatkan dari kerja itu saya berharap bahasa saya sendiri menjadi sehat, bernafas panjang, tidak ngos-ngosan dan senantiasa segar. Bila kata-kata adalah udara dan berbahasa biasa itu seperti menarik-hembuskan nafas, maka berpuisi adalah semacam senam pernafasan. Senam itu membuat jantung sehat, paru-paru sehat, dan kehidupan saya sebagai manusia bisa saya jalani dengan lebih wajar, lebih nikmat dan lebih bermakna.
SAYA adalah pekerja puisi yang belajar sendiri, mengikut naluri. Ketika terpegang perkakas bergagang panjang bermata melintang maka naluriah saya akan mengayun-ayunkannya membelah tanah puisi. Kelak saya tahu perkakas itu bernama cangkul puisi. Ketika diberi alat berhulu berputing maka alamiah saya akan menebas-nebaskannya ke semak bahasa, kelak saya tahu alat itu adalah parang puisi.
KERJA puisi saya memang lebih dekat dengan imaji petani. Maka saya sendiri ingin menyebut diri saya sebagai petani puisi saja. Petani yang menyiangi ladang puisi, menyemai benih puisi, merawat anakan puisi, menyiangi gulma di ladang puisi, melawan hama dan penyakit puisi, mengairi dengan hujan atau menimba sumur di ladang puisi, hingga kelak memanen dan menyimpan benih puisi untuk musim tanam berikutnya. Pada tahapan kerja itu saya sedapat mungkin menyadari setiap hembus nafas, mengaturnya seirama dengan ayunan cangkul, parang, dan tugal. Ya, bagi petani, kerja adalah juga senam adalah juga meditasi.[]
PUISI naratifnya adalah jalan lain perpuisian Indonesia yang dikuasai lirisisme. Dengan mendaur-ulang bahasa orang ramai, ia menunjukkan bahwa modernisme artistik bisa memeluk mesra lingkungan budaya-asal. Puisinya embuka kecerdasan kolektif seraya memelihara kewajaran dan kebaruan bahasa Indonesia.
[Tadarus Puisi # 2] Tiga Batang Coklat yang Memikat
Ann - Hongkong DI TIGA BATANG COKELAT RASAKU LEKAT
pagi itu seorang lelaki kembali, berselimut kabut sebelum akhirnya turun sebagai salju atas duka yang tak kusetuju
DUKA di bait pertama ini tidak diumbar. Rasa itu tidak dilebih-lebihkan. Kembali kemanakah lelaki itu? Mungkin meninggalkan si aku. Atau kembali ke Tuhan? Apa saja, semua serba mungkin. Ini keberhasilan pertama sajak ini. Tetapi itu duka yang lengkap. Yang pasrah diterima oleh si aku. Dia yang pergi itu akhirnya turun sebagai salju, ataukah selimut itu yang luruh? Entahlah, keasyikan menebak itu tidak menghalangi saya sebagai pembaca untuk ikut merasa berduka. Tapi, ah, sesak sekali ketika menyadari bahwa aku tidak setuju pada duka itu. Siapakah yang setuju atas duka?
ia lupa akan bingkisan lama tiga batang cokelat, rasa lekat pada pembungkus bergambar mawar di kelopaknya kata-kata ia catat
Dan belum selelsai pukau bait pertama saya sebagai pembaca harus mendapatkan kejutan lagi, mendapat penjelasan kenapa ia si aku tak setuju atas duka yang tak bisa ditolak itu. Dia lupa bingkisan lama: tiga batang cokelat. Kata lama pada bingkisan itu membuat saya simpulkan bingkisan itu bermasalah. Rasa lekat. Lekat? Si aku sudah mencicipi cokelat itu? Tapi tak sanggup menghabiskannya? Mungkin, saya yakin pada keraguan saya itu karena si aku lebih terpesona pada pembungkus, pembungkus bergambar mawar, pembungkus bergambar mawar yang pada kelopaknya ada catatan, ada kata-kata. Ada imaji tiga lapis di sana. Mengasyikkan sekali.
"Terima Kasih. Nikmati cokelat yang kubingkis. Cecap waktu bersamaku nan manis. Semoga kau catat dan tak hilang di kernyit pelipis."
NAH, inilah catatan pada kelopak mawar itu. Sementara itu badai imaji yang menyerbu saya reda. Saya bisa ambil nafas sebentar. Menikmati hembusan angin menyegarkan dari bait: tak hilang di kernyit pelipis. Bait yang manis. Mengundang tebak yang tak habis.
ini tiga batang cokelat terakhir masih utuh hanya sempat kusentuh
Ah, ini dia jawaban tafsir saya atas bait pertama tadi. Si aku memang tak sempat mencicipi. Hanya sempat menyentuh. Itu coklat terakhir rupanya. Pasang imaji itu mulai naik lagi. Gelombang mulai meninggi.
O, begitu keramat untuk kunikmat Itukah sebabnya si aku tak bisa menikmati sajak itu? Cokelat yang keramat? pagi itu seorang lelaki benar-benar kembali membawa aroma kemboja di tubuhnya padaku meninggal duka juga catatan lama
Ini repetisi-repetisi yang efektif. Seperti ulangan hempas-hempas ombak. Lelaki yang kembali disebut lagi, catatan lama disebut lagi, duka itu disebut lagi.
"Ini pagi yang ingin. Bergegaslah kau nikmat cokelat sebelum lidah kau rasa dingin."
Inikah lanjutan dari catatan yang terbaca di kelopak mawar itu?
cokelat yang ada kubuka dan kucari nikmatnya aku dapati ia begitu utuh hanya saja tak sanggup kusentuh
Ann, HK, 8 Agustus 2006
DAN ah, akhir dari sajak ini ditutup dengan utuh. Selesai. Seakan terjawab semua pertanyaan. Dan hempasan ombak itu masih akan terasa lama di pantai kesanan. Cokelat sudah berhasil dimetaforakan entah sebagai apa bagi pembaca lain. Tapi bagi saya cokelat di sini adalah perlambang keakraban. Mungkin cinta yang tak bisa diterima. Padahal si aku tahu cokelat cinta itu manis tapi ada sesuatu pada cokelat, atau pada si lelaki yang pergi, atau pada si aku yang membuat ketiganya tak bisa saling bersentuhan. Meski hanya lewat cokelat.[]
[Tadarus Puisi # 1] Buah Kebijaksanaan dari Telur Dadar
SAJAK ini terasa sekali nikmatnya. Saya ingin membacanya seperti racikan sebuah masakan. Bahan dan bumbunya: 1. Langit dan matahari, benda angkasa yang menyertainya. Juga antena dan kabel-kabel telepon dan listrik. Sebuah pemandangan yang teramat jamak kita temukan di mana saja. 2. Ada telur dadar beserta perkakas makan, dan rasa lapar. 3. Sedikit saja kenangan masa kecil yang menghadirkan seorang ibu yang mewujudkan cinta dengan sebuah telur.
Dan mari kita tebak bagaimana Aan M Mansyur menyajikannya:
TELUR DADAR
aku sungguh-sungguh lapar
INI kalimat yang sangat biasa. Sajak memang tak harus dibangun dengan kemegahan bahasa atau kerumitan kata-kata. Sajak memang tidak harus langsung menempeleng sejak pertama kita sorongkan muka padanya.
dari bingkai jendela kamar matahari sore terlihat persis telur dadar matang sempurna dan besar-lebar
Si penyair mulai bermain. Sudah ia beri tahu bawha Si Aku adalah seorang yang sungguh lapar, karena itu kita pun menerima dan setuju padanya ketika dia mulai menyodorkan fakta-fakta yang mulai ia mainkan untuk kepentingan sajak ini tentu saja: matahari dari jendela kamar ia lihat seperti telur dadar yang matang sempurna, besar dan lebar.
Pada bait kedua ini bagi saya - Aan sudah menguasai pikiran saya. Saya mulai tak bisa berpikir lagi menurut logika wajar saya. Saya rasa inilah yang disebut efek hipnotis dalam puisi. Mula-mula ia menguasai pikiran.
tetapi telur dadar itu sudah terbagi-bagi dipotong oleh antena-antena tivi tetangga oleh kabel-kabel listrik dan telepon dan tak ada sedikit pun untuk perutku
Setelah pikiran dikuasai maka, dibait ini Aan mulai membisikkan mantera untuk menguasai rasa, mengendalikan hati: tentu tujuan buruknya adalah agar saya juga merasakan emosi apa yang ia hidupkan dalam puisinya. Bahkan untuk sebuah telur dadar yang saya bayangkan pun sudah terbagi-bagi pula oleh antena tv tetangga, kabel listrik dan telepon. Habis. Tak ada sedikitpun tersisa untuk perut si aku yang sungguh-sungguh lapar tadi.
aku berusaha menahan airmata tak jatuh teringat lagi telur dadar ibu dulu aku selalu dapat satu, utuh seperti cintanya pada kanak-kanakku
Di bait ini, saya kira bolehlah si penyair beranggapan bahwa rasa hati saya pun telah ia kuasai. Maka makin jauhlah dan makin beranilah ia memainkan rasa itu dengan imaji personalnya: telur dadar ibu. Si aku dulu selalu dapat satu. Utuh. Seperti cintanya. Ini bait berisiko. Tapi si penyair tentu sudah menghitungnya. Tidak semua orang menilai satu telur dadar sama tinggi nilainya dengan yang diinginkan oleh si penyair. Tapi dengan persiapan yang baik di bait-bait sebelumnya, saya rasa perhitungan Aan tepat. Telur dadar - saya setuju sekali - pas disandingkan sebagai lambang cinta ibu.
dengan liur leleh tak lelah kutatap tanpa kedip telur dadar itu namun beberapa detik saja kemudian ia telah lenyap disantaplahap oleh siapa aku tak tahu dan lalu tinggallah langit seperti piring kotor belum dicuci
Permainan dilanjutkan. Siapa yang melahap telur dadar? Pertanyaan yang tak hadir itu berhasil dipakai oleh Aan untuk menghadirkan imaji senja. Matahari tenggelam, sambil terus-menerus mengingatkan akan lapar yang masih berkecamuk di perut si aku. Tinggal langit bagai piring kotor belum dicuci. Utuh sekali imaji lapar yang dibangun dan dihadirkan Aan dari gambar-gambar nyata yang terdiri dari telur, langit, piring hingga selesai bait ini.
sebentar jika gelap melingkup alam lampu malam satu per satu padam aku merangkak ke luar kamar diam-diam menjilat piring langit sebelum dibersihkan hujan atau embun sekedar menghibur perut lapar lalu tidur memimpikan telur dadar
Makassar, 12 Agustus 2006
Bahkan sampai berakhir sajak ini pada bait ini, imaji lapar itu semakin liar dan semakin halus ia mainkan. Si aku merangkak ke luar kamar. Menjilati piring langit. Itu pun harus dilakukan dengan lekas agar tak dibersihkan oleh hujan dan embun.
Hikmah dari sajak ini adalah: saya sejak ini dan seterusnya akan lebih menghargai sepiring telur dadar - lauk yang paling mudah kita dapatkan - kapan dan di manapun serta siapa pun yang menghidangkannya. Sajak yang baik memang harus bisa juga membuat kita menjadi manusia yang lebih bijaksana.[]
MUNGKIN untuk kalian perlu kami mintakan satu dunia.
YANG bukan dunia kita saat ini yang kalian buat makin terasa kesesakan: Aku bahkan hanya bisa menulis larik buruk ini, setelah membaca catatan anak-anak di kota Beirut yang dikepung kabut roketmu, Tak ada jalan untuk mengungsi, sehabis jet tempurmu menggerimiskan butir-butir bom, meruntuhkan gedung dan jembatan.
MUNGKIN untuk kalian perlu kami mintakan satu dunia: dirikanlah negera sendiri seluas-luasnya.
Buatlah cadangan senjata sebanyak-banyaknya.
MUNGKIN untuk kalian perlu kami mintakan satu dunia: tempat kalian bisa memuaskan nafsu, saling bunuh sesama kalian saja.
JALAN ke puncak itu pasti menanjak. Juga ke puncak sajak. Ketika kita menuju ke sana, mungkin kita berpapasan dengan orang lain yang tidak pernah tahu bawah puncak itu ada. Dia, si orang itu, mungkin saja menganggap perjalanan kita itu sebagai sebuah sia-sia.
Teruslah berjalan, jangan terhalang oleh anggapan. Kita bisa merancang perjalanan itu hanya pada dilakukan malam hari, bukan? Di kamar kita sendiri. Di diri kita sendiri. Di saat sebagian mata lain istirahat, kita lanjutkan perjalanan. Atau diamlah. Menyepilah. Tetapi ciptakanlah langkah-langkah gaib. Tidak setiap langkah harus menghasilkan bunyi hentakan, bukan? Maka, begitu terbentang kesempatan, langkah kegaiban itu tiba-tiba saja melesatkan kita mendekati ke puncak itu, ke Sajak itu.
Setiap perjalanan pasti punya beban, punya risiko. Kadang-kadang beban dan risiko itulah yang turut memberi arti pada perjalanan itu, bukan? Kita tidak selalu sendirian. Mungkin nanti akan ada kawan seiring setujuan. Kita mungkin bisa meminta tangannya bergandengan. Eh, mungkin saja kawan seiring itu adalah Sajak itu, adalah Puisi itu sendiri.
Bayangkan betapa ringan perjalanan itu? Betapa menyenangkan. Bukan?
SAYA dapat kiriman satu calon buku yang bagus judulnya Menapak ke Puncak Sajak karya Hasan Aspahani. Sebuah buku yang sangat penting dan bagus untuk orang-orang yang mau belajar mencintai dan menulis puisi.
Sehari setelah calon buku itu tiba di tangan saya, langusng menjadi rebutan 'mahasiswa' University of Writing, sekolah menulis gratis yang saya asuh.
Banyak gadis-gadis yang jatuh cinta pada calon buku itu. Sayang sekali belum ada penerbit yang jatuh cinta pada calon buku itu. Padahal, sungguh, buku itu sangat bagus--dan pasti bakal laku.
PERNAH dengar istilah itu? Pernah bingung dengan istilah itu? Mari kita sama-sama duduk dan bacalah Sang NabiKahlil Gibran. Oleh banyak kalangan buku ini disebut novel-puisi.
BUKU ini disebut buku novel karena ada unsur-unsur sebuah novel padanya. Ada tokoh: Almustafa, Almitra, rakyat kota Orphelese, dan para awak kapal yang datang menjemput. Ada lokasi cerita: ya kota Orphalese itu. Ada plot cerita: Almustafa, Sang Nabi, telah dua belas tahun di kota itu dan saatnya ia kembali ke kota kelahirannya.
TETAPI ia juga disebut buku puisi karena yang sebenarnya hendak disampaikan adalah ajaran Sang Nabi yang dituturkan dengan puisi itu. Puisi-puisi itu bisa dinikmati lepas dari alur cerita. Ada puisi tentang anak, kejahatan dan hukuman, pengenalan diri, cinta, perkawinan, rumah dan lain-lain.
JADI? Ah, jangan terlalu terkungkung dengan satu jenis tulisan: puisi saja, cerita pendek saja, atau novel saja. Semua pasti punya kemungkinan untuk dipadukan, digabung, dihibridakan lalu menghasilkan bentuk baru yang khas. Bagaimana?
Inez Dikara - Jakarta Komentar atas Monograf Mitologi dan Risalah Dongeng
Saya hampir kehilangan kata-kata ketika membacanya karena otak saya ini sungguh tidak sampai untuk bisa memikirkan bagaimana Hasan Aspahani bisa menuliskan semua itu. Kedalaman perenungan, kerumitan tapi ada kesederhanaan juga. Pokoknya begitulah mas. Jleb sejleb-jleb-nya.
SAJAK yang sebenarnya sajak adalah dedaunan pada tanaman evergreen: senantiasa menghijau. Dia bukan tanaman plastik yang sedang menggadung, menyaru. Dia hidup dan rajin berfotosintesa. Dia tak akan layu. Dan kuning pucat tidak akan bisa datang mengganti hijau segarnya. Tanaman gadungan tak akan bisa memperlakukan embun dengan sempurna.
JADI rimbunkanlah tanaman kita dengan daun-daun terbaiknya. Dan pada pot terbaik yang mengasuh tanaman hias berdaun rimbun dan anggun itu para pencinta tanaman hias akan membaca nama kita: Si pemulia tanaman itu.
Hendragunawan Sardjan Thayf - Buku Nyanyian Komentar Atas Monograf Mitologi dan Risalah Dongeng
Mitologi, menurut saya Mitologi adalah sajak-sajak yang mencapai taraf canggih sementara Dongeng lebih bersifat pelik. Canggih, dalam pengertian bahwa pengucapannya telah cukup murni sehingga pada saat bersamaan ia terbuka bagi pembaca yang mencari kesederhanaan dan mereka yang menggemari kerumitan. Sementara tokoh-tokoh misterius dalam Dongeng, hadir melayang-layang membuat tersesat mereka yang mencari kesederhanaan.
Kemarin saya dapat kiriman 3 buah buku calon kumpulan sajak dan 1 buku tentang menulis sajak dari Hasan Aspahani di Batam. Semalaman saya membaca 3 calon buku sajak itu dan kemudian berpikir bagaimana saya menuliskan komentar tentang calon-calon buku itu tanpa harus terdengar sangat memujinya? [Satu buku lagi belum sempat saya baca!]
Berikut ini, akhirnya, saya tuliskan komentar saya tentang 3 calon buku kumpulan sajak itu.
Aneh. Betul-betul aneh. Tidak seperti kumpulan-kumpulan sajak yang pernah saya baca sebelumnya. Dalam kumpulan sajak ini, tak ada satu pun sajak yang tidak saya suka. Seberapa tebal pun halaman kumpulan sajak ini nantinya, ia tak akan membosankan untuk dibaca.
Anehnya lagi, meskipun banyak 'bercerita' perihal sederhana yang mungkin oleh sebagian besar orang dianggap tak mungkin jadi sajak, semuanya malah menjadi betul-betul sajak yang dituliskan penuh pertimbangan. Kata-kata dipilah dengan cermat. Bunyi-bunyi dipilih dengan jernih. Beberapa di antaranya, menurut saya melebihi sajak--saya tak tahu harus menyebutnya apa.
Kecurigaan saya bertambah tumbuh, jangan-jangan Hasan Aspahani betul (pernah) tinggal bersama banyak penyair; seperti Neruda, Paz, sampai Sapardi dan Jokpin. Sebab saya berpikir bagaimana mungkin sajak-sajak itu ditulis oleh seorang saja.
Setiap sajak Hasan tak pernah melepaskan diri dari; hal filosofis yang membuat saya merenung; hal jenaka yang membuat saya tersenyum; hal indah yang membuat saya terkagum-kagum--ditambah pula dengan musik kata-kata yang membuat saya bersenandung dan bergoyang. Semuanya itu membuat saya sungguh-sungguh iri?
Aneh. Betul-betul.
Kapan ya kumpulan-kumpulan sajak itu diterbitkan? Saya ingin sekali memilikinya sebagai buku.
INILAH bentuk akhir dari Sebelas Gurindam. Saya putuskan saja begitu. Sejak awal menulis Gurindam Pasal yang Pertama saya sudah mematok akhirnya sajak ini akan menjadi sebelas pasal. Bukan dua belas karena pasti tidak akan bisa mencapai kebesaran magnum opus Raja Ali HajiGurindam Duabelas.
KEBETULAN, pasal pertama itu terdiri dari sebelas bait. Jadi waktu itu saya pikir kalaupun saya hanya menulis satu pasal itu, nama sebelas masih bisa dipertanggungjawabkan. Lalu saya mulai berkelana mencari pasal-pasal lain. Pada pencarian pertama saya berhasil membuat hingga pasal ketujuh. Dua pasal lain adalah dua sajak yang ikhlas diubahsuai dan menjadi pasal kedelapan dan kesembilan.
AKHIRNYA dua pasal terakhir datang berkunjung. Saya menyusunulang urutannya. Dua pasal baru itu duduk di urutan kesepuluh dan kesebelas. Saya rasa inilah urutan terbaik buat mereka:
1. Gurindam Pasal yang Pertama: Yang Sajak, Yang Kata 2. Gurindam Pasal yang Kedua: Pada Kamus, Pada Kata 3. Gurindam Pasal yang Ketiga: Hakikat Jejak, Hakikat Sajak 4. Gurindam Pasal yang Keempat: Mana Kata, Mana Makna 5. Gurindam Pasal yang Kelima: Kenapa Sepi, Kenapa Sajak 6. Gurindam Pasal yang Keenam: Ketika Cinta, Ketika Sajak 7. Gurindam Pasal yang Ketujuh: Bagi Sajak, Bagi Siapa 8. Gurindam Pasal yang Kedelapan: Cari Sajak, Hilang Sajak 9. Gurindam Pasal yang Kesembilan: Anakmu Sajak, Lepaskan Sajak 10. Gurindam Pasal yang Kesepuluh: Menuju Sajak, Jalan Sajak 11. Gurindam Pasal yang Kesebelas: Ladang Sajak, Ladang Mawar
1. Gurindam Pasal yang Pertama: Yang Sajak, Yang Kata
Ketika kau tuliskan sajak-sajak suram, ketika itu pula mata kata memejam.
Apabila tak kau tulis sebait pun sajak, ada kata yang diam-diam hendak berteriak.
Saat kau lahirkan sajak sebait, sejak itu kata mengenal jerit sakit.
Walau tak datang sajak yang kau undang, jangan kau usir kata asing yang datang.
Kau sembunyikan di mana jejak sajakmu? selalu ada kata rindu memaksa bertemu.
Ada sajak yang kau tuangkan ke gelas, siapakah yang mereguk kata hingga tandas?
Jika kau paksa juga menulis sajak, kata memang tiba, tapi makna jauh bertolak.
Jangan ajari sajakmu mengucap dusta, sebab mulutmu akan dibungkam kata-kata.
Biarkan sajakmu dicela dicaci dinista, karena maki cuma kata yang cemburu buta.
Di mana kau simpan sajak terbaik? di hati, lalu biarkan kata mengucap tabik.
Pernahkan sajak meminta lebih darinya? kata berkata: ah apalah, aku cuma kata...
2. Gurindam Pasal yang Kedua: Pada Kamus, Pada Kata
Siapa kata yang tahan diam dalam kamus bahasa, cuma kata hilang, yang ditemukan oleh lain kata.
Adakah kata yang bertahan di luar kamus kata, Ya, dia kata yang menyebut fasih siapa dirinya.
Buat apa mencari kata dalam kamus yang rimba, ke dalam sajak paling bijak, jejak kata baka tertera.
Kamus bukan samudera, juga bukan luas angkasa, kamus cuma peta, menuntun pemburu melacak kata.
Heran saja kenapa ya gak ada penerbit yang kepincut sama buku sebagus itu? Seandainya saja saya punya banayak modal, sudah lama saya menerbitkan buku itu....