.: sejuta puisi :: hasan aspahani :. PADA mulanya adalah kaki .:.
Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
.:.
PADA mulanya adalah hati .:.
lalu perjuangan dari ragu ke ragu.
BLOG ini adalah kamar kerja pengrajin. Di dinding ada gambar rencana kerja dan sketsa. Di lantai ada selekeh bahan pewarna imaji, tatal batu kata, serakan pahat dan kuas, dan puisi yang belum sepenuhnya jadi. Bukan gerai toko yang memajang barang jadi terkemas rapi.
"Bibirku Bersujud di Bibirmu" dan "Saudagar, Bandar, Beras Setakar" saya bacakan di TIM. Saksikan DI SINI dan DI SINI
HASAN ASPAHANI, Lahir di Sei Raden, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, 1971.
Puisinya terbit di:
- Kompas
- Koran Tempo
- Koran Sindo
- Pikiran Rakyat
- Jawa Pos
- Aksara (kini Imajio)
- Riau Pos
- Batam Pos
- Majalah GONG
- dll
Juga terbit dalam buku:
- 100 Tahun Bung Hatta
- Sagang 2000
- Dian Sastro for Presiden # 2
- Les Cyberlettres
- Nubuat Labirin Luka
- Yogya 5,9 Skala Richter
- ORGASMAYA (Yayasan Sagang, 2007)
Puisinya menang di Lomba Penulisan Puisi 100 Tahun Bung Hatta (10 Besar), dan Krakatau Award 2006 (Pemenang IV). Tahun 2007, bersama 30 penyair se-Indonesia, dia membacakan puisi di FKY XIX, Yogyakarta, dan di TUK, Jakarta.
Kini bekerja sebagai wartawan di POSMETRO. Peserta Kursus Jurnalisme Sastrawi PANTAU angkatan ke-7 itu kini juga menjadi editor tamu halaman "Syair" di majalah "Addiction".
* Pengutipan untuk tujuan apapun mohon diberitahukan lewat surat-e hasanaspahani@yahoo.com.
Ingin Tahu tentang AdSENSE?
Klik Kotak di bawah Ini:
November 30, 2006
[Sajakanak # 009]
Monster Kering Mengintai dari Balik Pot Bunga
TAHUKAH kamu ada monster jahat yang mengintai dari balik pot bunga? Monster itu bernama monster kering. Dia suka mengisap air dari bunga-bunga. Kalau bunga-bunga kehabisan air diisap oleh monster kering, maka bunga akan layu dan kalau kau tidak lekas-lekas membunuh monster itu dengan menyiram dia dengan air segar maka bunga-bunga akan mati.
TAHUKAH kamu, saya perhatikan ulah monster kering itu di halaman rumah saya. Di halaman rumah saya ibu saya menanam banyak sekali bunga. Ada keladi hias dan alokasia. Ada aglaonema dan diffenbachia. Ada anturium dan spatifilum. monster kering mengintai semua jenis bunga-bunga. Ketika tanah dalam pot kering dia segera saja masuk ke dalam tanah itu dan menghasut akar.
TAHUKAH kamu, saya rajin menyirami bunga-bunga milik ibu di halaman rumah kami. Sehari dua kali. Pagi dan sore. monster kering tak berkutik. Tapi dia tak pernah mau beranjak dari halaman rumah kami. Dia mengintai di balik pot dan menunggu saya lupa menyiram bunga. Tapi, saya tak akan lupa. Apakah ibumu rajin menanam bunga juga? Apakah kamu tahu ada monster kering mengintai di balik pot bunga yang ditanam ibumu?
SAYA menggambar Samsul dan ayahnya yang suka menebang pohon di gunung, dan gunung sekarang jadi tak berhutan lagi. Ayah Samsul sekarang tak menebang pohon lagi. Karena tidak ada pohon yang bisa ditebang lagi.
SAYA menggambar Marjuki yang bapaknya bekerja di sawah tapi sawah itu bukan sawah bapaknya lagi karena digadaikan waktu bapaknya sakit dan bapaknya tak bisa menebus sawah itu lagi.
SAYA menggambar Arif yang tak punya rumah tapi dia suka sekali menggambar rumah. Arif juga tak punya ayah dan ibu. Dia tak tahu siapa ayah dan ibunya. Dia tinggal di panti bersama anak-anak yang juga tak tahu siapa ayah dan siapa ibunya. Arif jarang pulang ke panti. Dia suka tidur di masjid.
SAYA menggambar Usman yang rumahnya jauh dari sekolah sehingga sejak subuh dia sudah berjalan agar tidak terlambat waktu sampai ke sekolah. Usman sering tidak masuk sekolah. Kalau hujan jalan yang ditempuh usman tergenang, basah dan becek.
SAYA menggambar Sabri yang pernah ke kota bersama truk ayahnya membawa hasil pertanian ke kota dan melihat banyak tiang listrik. Di kota, kata Sabri, juga banyak tiang yang tak ada kabelnya tapi lampunya bisa menyala. Lampu-lampu itu membuat kota terang di malam hari. Tidak seperti desa kami.
SAYA suka menggambar di sekolah. Saya suka menggambar teman-teman saya yang sedang menggambar di sekolah. Teman-teman saya suka saya menggambar mereka. "Gambarmu lucu," kata mereka. Tapi, Pak Guru tak pernah tertawa melihat teman-teman saya yang ada dalam gambar saya.
BANYAK monyet di kebun kami. Monyet-monyet mencuri pisang yang ditanam oleh ayah. Pisang yang disiangi oleh ibu. Monyet-monyet tidak pernah menanam pisang. Mereka rakus pisang. Mereka juga merusak pohon pisang. Saya ingin jadi superman. Saya ingin bisa terbang mengusir monyet-monyet yang bergantungan di dahan pohon-pohon. Monyet tidak takut pada aku dan ayah. Soalnya kami tidak bisa memanjat dan bergantungan di pohon-pohon, seperti monyet. Ayah, ibu dan saya, kami cuma keluarga petani yang punya kebun untuk pisang.
SUATU petang lewat para pemburu bersenapan. Mereka bukan superman. Saya suka melihat senapan yang mereka sandang. Saya tak boleh menyentuhnya. Mereka menembaki monyet-monyet yang makan pisang di kebun kami. Banyak monyet yang mati tertembak. Kebun kami jadi ladang pembantaian. Sekarang para pemburu menguasai kebun kami. Mereka memakan semua pisang yang matang. Mereka juga memakan monyet-monyet yang tertembak. Setelah semuanya habis mereka pergi. Meninggalkan sisa-sisa rumpun tunas pisang. .
"MANA yang lebih kejam monyet atau pemburu?" saya bertanya pada Ayah. Ayah tidak menjawab. Dia mengajak saya menanam pisang lagi di kebun kami. Walaupun saat itu dari hutan yang jauh terdengar suara bising kawanan babi-babi hutan.
KATA ibu saya anak yang malas mandi pagi. Banyak alasan bagi saya untuk menghindari mandi pagi. Tapi, sebenarnya saya bukan anak yang malas mandi. Di kamar mandi ada monster dingin. Monster dingin sembunyi dalam air di bak air di kamar mandi. Saya takut sama monster dingin. Matanya besar. Besar dan dingin. Tangannya kasar. Kasar dan dingin. Mulutnya menebarkan salju. Salju yang dingin. Monster dingin adalah penguasa kamar mandi. Dia tak suka kalau ada anak yang menikmati kamar mandinya. Makanya dia takut-takuti saya dengan dinginnya. Monster dingin takut sama siang. Karena kalau siang datang maka tangan dan mata dinginnya tak bisa menakut-nakuti saya lagi.
WAKTU saya kecil ibu suka bikin siang pada pagi hari dari air panas. Monster dingin takut dengan siang yang dibikin oleh ibu di bak mandi saya. Saya tidak takut pada monster dingin yang menguasai kamar mandi. Saya hanya tidak ingin peri mimpi yang semalaman bermain dengan saya pergi dari kepala saya kalau saya bertarung dengan monster dingin pagi-pagi. Peri mimpi tak suka melihat saya bertarung dengan monster dingin. Dia akan kembali ke puri malamnya dan menunggu untuk bertemu saya di sana.
BESOK saya sekolah. Tadi saya dibawa ayah ke tukang cukur. Saya harus bercukur. Rambut saya harus rapi. Supaya otak saya tidak acak-acakan. Supaya mudah menerima pelajaran. Di sekolah, saya dapat pelajaran membaca, menulis dan berhitung. Tukang cukur bertanya apakah saya mulai masuk sekolah? Ayah saya menjawab: "Ya. Supaya jadi anak yang pintar." Tukang cukur itu bertanya juga tentang cita-cita saya. Saya tak tahu apakah cita-cita itu, walau pun seandainya saya tahu apakah cita-cita itu, saya juga tidak tahu apakah cita-cita saya. Sama seperti anak-anak lain di kampung saya.
SAYA hanya ingin bisa membaca, berhitung dan menulis. Supaya hidup kami tidak acak-acakan. Sekolah itu seperti bercukur. Banyak anak-anak yang juga dibawa oleh ayahnya untuk bercukur. Mereka besok juga sekolah. Mereka akan jadi teman sekolah saya. Tukang cukur mencukur rambut kami dengan model yang sama. Semua ayah punya keinginan yang sama. Mereka ingin anak-anaknya jadi anak yang pintar. Apakah sekolah membuat kami nanti menjadi manusia yang punya fikiran yang sama? Ada seorang lelaki menunggu giliran juga. Bapak bilang itu guru yang nanti mengajar saya. Waktu dia dicukur saya lihat tukung cukur juga mencukur rambutnya dengan model yang sama dengan model rambut saya.
AYAH membelikan saya sepatu. Sepatu itu ada lampunya. Kalau saya berjalan lampunya menyala. Saya memangil sepatu itu dengan nama sepatu lampu. Warna lampunya hijau. Lampunya ada empat. Dua di sepatu yang sebelah kiri. Dua di sepatu yang di kanan. Mereka menyala bergantian.
SAYA senang sekali kalau diajak berjalan-jalan bersama Ayah, ibu, dan kakak, bersama si sepatu lampu. Saya senang karena nyala lampu si sepatu lampu membuat orang melihat ke sepatuku. Saya pernah bertanya kepada sepatu lampu, "kenapa lampumu menyala?" Sepatu lampu menjawab karena dia punya lampu. Saya tanya lagi, "kenapa lampunya bisa menyala?" Sepatu lampu menjawab karena ada baterainya. Saya tanya lagi, "kenapa kalau saya berjalan baru lampunya menyala?" Karena langkahmu membuat saklar tertekan dan membuat lampu dan baterainya tersambung lalu menyala. Saya makin suka berjalan-jalan.
SAYA suka berjalan-jalan bersama sepatu lampu. Sepatu lampu juga suka berjalan bersama saya. Makanya dia selalu menyala-nyalakan lampunya kalau saya berjalan bersamanya.
SAYA masih minum susu. Pakai botol. Kalau sudah besar nanti saya minum pakai gelas. Kalau sekarang minum susu pakai gelas, susunya sering tumpah. Ibu tak suka melihat ada susu tumpah. Sebab baju saya jadi kotor. Lantai jadi kotor. Padahal susu tidak kotor. Tapi susu tempatnya di perut saya. Susu masuk ke perut saya lewat mulut saya. Susu tempatnya bukan di lantai dan di baju saya.
KATA ibu susu mahal. Tapi saya harus cepat besar. Makanya saya harus selalu minum susu. Supaya lekas besar dan tidak usah minum susu untuk bayi lagi. Susu itu terbuat dari susu sapi. Makanya mahal. Saya sering melihat iklan susu di televisi. Iklan susu yang saya minum pakai botol. Saya tidak ingin jadi anak yang minum susu dalam iklan itu. Dia minum susu pakai gelas. Dan tiba-tiba saja, badannya membesar setelah minum susu segelas. Saya tak mau besar mendadak. Saya tak mau kalau tiba-tiba saya tak boleh minum susu lagi.
SAYA ingin melewati masa kanak-kanak dengan enak. Minum susu pakai gelas itu tidak enak. Saya takut tersedak. Ayah saya sering tersedak kalau ibu bilang susu saya habis padahal baru beberapa hari lalu dia belikan. Saya serba salah. Saya harus cepat besar dan banyak minum susu, tapi saya juga tak mau melihat ayah tersedak kalau ibu mengingatkannya untuk membeli susu buat saya.
PADA musim hujan Pak Hujan sering datang ke rumah saya. Pak Hujan berjualan hujan. Pak Hujan berjualan macam-macam hujan. Ada hujan lebat. Ada hujan rintik. Ada hujan gerimis. Ada hujan badai. Tapi saya tak pernah beli hujan. Teman saya juga tak pernah beli hujan dari Pak Hujan. Kalau tidak ada yang membeli hujannya, maka Pak Hujan menumpahkan saja semua hujan jualannya.
PAK Hujan tidak marah. Soalnya kalau hujannya sampai ke bumi semua jadi basah. Pak Hujan senang melihat semuanya basah karena hujannya. Bunga ibu saya di halaman basah. Jalanan di depan rumah kami basah. Pohon angsana di tepi sungai basah. Mobil-mobil yang diparkir juga basah. Kakak juga basah kalau dia pulang sekolah waktu hujannya Pak Hujan sedang dihujankan.
SAYA suka melihat air hujannya Pak Hujan mengucur di ujung genteng rumah saya. Saya juga suka melihat air hujannya Pak Hujan menitik dari ujung-ujung daun pohon ceri di depan rumah kami. Pohon ceri itu ditanam ayah waktu ibu melahirkan saya. Pohon ceri itu tumbuh karena selalu tersirami hujannya Pak Hujan.
TAPI saya tak boleh bermain dengan hujannya Pak Hujan. Nanti saya demam, kata Ibu saya. Nanti saya mau pesan hujan khusus dari Pak Hujan. Hujan yang baik hati. Seperti hati Pak Hujan. Hujan yang tidak membuat saya demam.
DI rumah saya ada jam dinding. Seperti di rumahmu jam di rumah saya punya tiga jarum dan 12 angka. Jarum yang kurus selalu berdetak mendetikkan waktu. Jarum panjang suka mengumpulkan 60 detik menjadi semenit. Lalu jarum pendek menjadikan 60 menit menjadi satu jam. Saya suka membayangkan ada satu jarum lagi pada jam di rumah saya itu. Jarum bayangan saya itu bergerak bebas: searah atau melawan arah tiga jarum lainnya. Jarum bayangan saya itu juga boleh diam saja atau mengganggu tiga jarum lainnya. Jarum bayangan saya itu tidak mau tunduk pada titah waktu di rumah saya.
AYAH suka mencocokkan waktu pada jam tangannya dengan waktu pada jam di rumah saya. Waktu yang tidak cocok selalu membuat ayah terburu-buru pergi dari rumah dan terlambat pulang ke rumah. Saya benci waktu. Saya tak suka ayah terburu-buru dan terlambat. Saya mau bikin waktu sendiri. Waktu yang tak perlu tunduk pada jarum-jarum jam di rumah dan arloji ayah. Saya ingin bikin waktu dengan jam baru yang tidak berangka dan berjarum. Saya ingin berikan waktu saya itu buat ayah supaya dia tak lagi terburu-buru pergi dan terlambat pulang. Waktu yang saya bikin dengan jarum jam bayangan saya pada jam di rumah saya.
APA yang sedang Dia lakukan dengan segumpal tanah liat kering dari lumpur hitam itu?
Apakah Dia sedang bermain-main saja atau sedang sungguh bersungguh?
Dan kenapa tanah yang dibentuk-Nya itu Dia beri sebut sebagai manusia? Kenapa Dia menyebut bentuk seperti itu sempurna? Kenapa Dia meniupkan ruh-Nya dan lihatlah, makhluk itu bernafas dan kenapa kita diperintahkan untuk menghormat padanya? Tapi, adakah alasan kita mesti menolak perintah itu?
Dan kenapa Iblis menolak sujud bersama kita? Kenapa Iblis menganggap tak pantas baginya untuk bersujud pada manusia yang dibentuk-Nya dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang kini bernafas itu?
Kenapa Dia mengusir dan mengutuk iblis lalu Ia menangguhkan siksa hingga akhir masa?
Kenapa Dia percaya manusia tak akan tersesat oleh goda iblis? Kenapa iblis menyebut sekelompok "kecuali" di antara manusia yang tak akan pernah mengaburkan batas antara maksiat dan taat?
Kenapa Dia berkata akan menjaga manusia tetap di lurus jalan-Nya? Kenapa Dia seperti memberi isyarat bahwa akan ada juga manusia yang terjerat goda, yang tersesat juga?
Dan neraka, dan neraka, dan neraka kenapa sejak dini sejak kini telah diancamkan sebagai imbal siksa sedang kita kini berada di nikmat surga?
Dan tujuh pintu ke sana itu, ke neraka itu, kenapa Ia buka pula sejak pertaruhan itu bermula?
Catatan: Secara acak saya membuka Al-Quran, selepas Isya, semalam. Yang terbentang adalah Surat Al-Hijr ayat 14. Saya berusaha untuk tidak menganggap ini sebagai kebetulan. Saya berusaha untuk tidak heran. Ayat itu adalah ayat pertama yang menjelaskan tentang penciptakan manusia. Saya membaca terus sampai ayat 28. Ayat-ayat yang menjadi awal dari banyak hal untuk manusia: iblis terkutuk, iblis meminta penundaan azab, malaikat yang taat, dan ah betapa yakinnya Dia pada ketaatan manusia, mahluk baru yang baru saja Dia ciptakan. Saya kira banyak penyair juga risau dengan tema ini. Ah, jangan-jangan ada yang salah dari apa yang saya renungkan selama ini? Saya mau beristigfar.
TIAP kata yang kita pilih untuk puisi kita membawa akibat sendiri pada puisi yang kita tulis. Akibat-akibat itulah yang harus kita pertimbangkan, kita permainkan, kita maksimalkan. Kumpulan akibat dari setiap kata merupakan akibat puisi. Kita harus sampai pada puisi yang berhasil yaitu puisi yang berakibat hebat pada pembaca. Pembaca itu, termasuklah diri kita sendiri.
BERPUISI dengan kata lain adalah memainkan serangkaian jurus-jurus silat akibat. Pada kita sendiri, sebagai pesilat, mengamalkan jurus-jurus silat itu mengakibatkan jiwa kita jadi tambah sehat, rasa kita terkendali, dan setiap laku di luar puisi bisa dijalani dengan sadar yang penuh. Termasuk sadar pada setiap akibat dari apa saja yang kita perbuat.
MENULIS puisi bukan sekadar berindah-indah dengan tubuh bahasa. Bukan hanya memolek-molekkan wajah ucapan dengan kata-kata bercahaya. Yang juga penting adalah jiwa atau apa yang hendak diucapkan dan ditubuhkan itu. Jiwa puisi itu juga harus indah dan bercahaya. Ia harus mengandung sesuatu yang bisa membuat pembaca tertunduk, merenung, mengingat diri sendiri. Ia harus menggugah. Ia harus menawarkan sesuatu yang bernilai dan berkebenaran.
MEMANG kebenaran itu ada di mana-mana. Kebenaran di satu sisi jalan, kadang tak ada di sisi jalan lain. Tetapi jika kita mau menempuh sabar, maka akan selalu saja ada kebenaran yang sama yang ada di sepanjang jalan mana pun. Ada kebenaran yang sama hendak dituju di ujung sana, di jalan mana pun kita menempuhnya. Dengan puisi, pada kebenaran yang seperti itulah kita mesti senantiasa gandrung dan mendekat.
DAN, kita kutip Budi Darma, apabila kebanyakan orang mengatakan bahwa yang penting di dalam tulisan sastra adalah keindahannya, maka sebetulnya keindahan itu pun bukanlah disebabkan oleh keindahan bahasanya seperti yang banyak dikatakan orang, melainkan karena keberhasilan tulisan sastra tersebut mendekati kebenaran. []
"DI danau sana ada ikan raksasa. Hanya pemancing terhebatlah yang mampu menaklukkannya," kata ikan kecil yang sore itu ia tangkap di sungai di belakang rumahnya.
MAKA sebelum kokok ayam pertama, subuh itu, dia pun pergi ke danau itu dengan kail terbaik yang pernah dimilikinya. Dan rupanya di sana sudah ada seorang pemancing tua yang langsung menyapa, "Hai, berapa lama kau akan sabar bertahan memancing di danau ini?"
TERNYATA dia dan pemancing tua itu sama-sama tabah, sama-sama sabar. Keduanya bertahan, semakin penasaran ingin menaklukkan ikan raksasa yang berabad lamanya menghuni rahasia di dasar danau. Sudah berbagai doa dipanjatkan, sebelum kail dilemparkan, tapi sang ikan raksasa belum juga berhasil terpancing memakan umpan.
HINGGA akhirnya dia kehabisan umpan. "Bagi umpan, dong," katanya pada pemancing tua, "kabarnya engkau masih punya umpan andalan." Si pemancing tua melempar sesuatu, "Nih, ini dia!" teriaknya. Melihat umpan itu dia berseru, "Nah, ini dia!" Tapi, sebelum dia memasang umpan itu, ada suara purba dari dasar danau sana: "Nuh? Ah, bukan. Bukan dia!"
SAYA merasa ada sesuatu dalam diri saya yang memaksa saya untuk menulis. Saya tahu bahwa saya tidak dapat mengelakkan paksaan ini. Saya juga merasa, bahwa tanpa menulis saya menjadi manusia tidak bermanfaat. Karena itulah, tanpa menulis saya merasa berdosa.
* Budi Darma dalam "Pengakuan", termuat dalam buku "Solilokui", Penerbit Gramedia, Jakarta, Cetakan kedua 1984.
KITA dulu bertemu ketika kita masih belajar berjalan. Masih sama telanjang kaki. Kau membanggakan parut di telapak dan lutut. Aku bercerita soal sakit ketika rambut yang mulai tumbuh di kaki harus dicabut
KITA pernah terpincang-pincang. Nyaris saja jatuh. Dan mengira gunung yang hendak ditaklukkan terlalu tinggi untuk kaki kita yang masih juga telanjang. "Kita tak boleh letih," katamu. Kita mengenang Sepatu di puncak itu.
KITA bertemu lagi setelah punya sepasang sepatu. "Tapi aku tak sempat lagi kemana-mana," katamu. "Ah, mungkin sepatu barumu perlu dibawa jauh dari toko yang menjualnya dulu," ujarku. Dan kita bertukar sebelah sepatu. Sepatu palsu.
"NANTI akan ada malaikat menggendongmu," pemuda itu berpesan pada dombanya, seperti mengingat suatu bisikan dari mimpi yang baru saja mengucak matanya.
"Nanti malaikat itu membawamu ke sebuah bukit," pemuda penggembala itu berdiri, lalu menatap jauh. Seakan menebak arah, dari mana tadi angin datang membawakan kabar itu.
"Nanti malaikat itu akan menyerahkanmu kepada seorang lelaki tua," pemuda penggembala yang tabah itu menugalkan tongkat pada rumput, membayangkan apa yang akan tumpah.
"Nanti engkau akan ditukar dengan seorang pemuda yang ikhlas ketika hendak dikorbankan oleh ayah yang lama menanti kehadirannya," pemuda penggembala yang tabah dan patuh itu mengusap-usap lehernya yang berkeringat, juga leher dombanya.
"Nanti orang-orang akan mengorbankan aku. Tetapi tetap saja mengorbankan engkau. Tanpa menukar dengan apa-apa," bisik domba itu kepada pemuda penggembala yang tabah dan patuh tapi kini amat letih, sebelum domba itu disembelih di lehernya.
Fabel Sebabak pada Suatu Pagi di Sebuah Taman tak Bernama
Beginilah. Sebuah hari dimulakan.
Kupu-kupu: Selamat pagi,...
Mawar: Ah, kau lagi.
Kupu-kupu: Seperti sejak kukenal kau, pagi ini kau indah sekali.
Mawar: Hmm, rayuanmu. Masih seperti sejak kukenal engkau.
Kupu-kupu: Bolehkah kita bertukar satu petalmu, dengan sesobek sayapku?
Mawar: Jangan, terlalu tak seimbang tawaranmu itu.
Kupu-kupu: Tapi, aku rela. Sayap burukku membuat aku malu. Bayangkan betapa bangganya aku terbang dengan menebar aroma wangimu.
Mawar: Jangan, jangan. Sebaiknya seperti selama ini saja. Kau datang ke sini. Kita bertukar cerita. Kau dengan petualanganmu, dan aku dengan perenunganku di taman ini.
Kupu-kupu: Ah, mungkin aku terlalu memaksa, tapi toh petal-petalmu kelak luruh, kenapa tidak kau beri kesempatan aku mengabarkan indahnya kepada dunia di luar taman ini?
Mawar: Jangan.Jangan. Biar begini saja. Bolehkan aku menawarkan sesuatu selain yang kau minta?
Kupu-kupu: Apakah itu?
Mawar: Di dadaku, ada madu. Yang termanis dari yang pernah kuramu. Ambillah, aku rela kau habiskan itu untukmu.
Kupu-kupu: Itu saja?
Mawar: Apa lagi yang kau minta?
Kupu-kupu: Izinkan aku meletakkan telur-telur anak-anakku, di hangat dedaunanmu.
Mawar: Silakan saja, kalau kau percaya.
Kupu-kupu: Terima kasih. Aku selalu percaya padamu.
"CICAK," bisikmu, dengan radang meninggi       dan batuk di sela nafas kanak-kanakmu.       Dan kami pun mengingat-ingat       lagu dari masa kecil dulu:       ...cicak di dinding merayap berkeliling.
PADAHAL kau hanya ingin tertidur nyenyak       setelah tadi sendirian hanya mendengarkan       ibu cicak bercerita tentang sebuah Rahasia.       Bagaimana dia menyimpan telur-telurnya.
PADAHAL memang masih ada ibu cicak       di dinding itu yang ingin sekali bisa       bernyanyi mengantar ke mimpi-mimpimu.
      DARI secabang ceri yang jauh, sepasang merpati melihat orang berkumpul di sekitar kandangnya. Ada orang mengetam papan lalu membuat peti; ada orang memotong kain putih; ada orang memahat nisan dan ada yang menimba air lalu sepasang merpati itu melihat lelaki tua yang tiap pagi menaburkan jagung itu dimandikan. "Tampaknya dia sedang tidur damai sekali? Tapi kenapa sejak pagi tadi hingga sore begini dia lupa memberi jagung untuk kita?"
      SAMBIL menghangatkan telur-telur mereka malam itu, sepasang merpati itu mendengar orang-orang membaca doa. Dan nama lelaki tua yang tiap pagi mengisi tempat minum di kandang itu berkali-kali disebut. "Tapi, kenapa tidak ada suara lelaki tua itu? Biasanya saat malam begini suka membaca doa-doa hingga hanya sisa-sisa suaranya."
      PAGI itu ada sepasang merpati muda yang baru saja belajar terbang. Karena sayapnya letih, kedua merpati itu hinggap di sepasang makam. Sepi, ada angin sisa malam tadi yang datang menebarkan wangi melati. Sepasang merpati itu bertukar tanya lewat mata. Merpati betina muda itu bertanya, "Pernahkah kau dengar ibu kita dulu bercerita tentang seorang lelaki tua yang setiap pagi menabur jagung lalu ia menyiram rumpun melati yang ditanam istrinya?"
[Tadarus Puisi # 013] Tiba-tiba yang Tiba Tiba-tiba
Tiba-Tiba Malam pun Risik Sajak Sapardi Djoko Darmono
tiba-tiba malam pun risik beribu Bisik tiba-tiba engkau pun lengkap menerima satu-satunya Duka
1967
PERTAMA membaca sajak ini, saya kira ini sajak yang ganjil. Pendek dan tiba-tiba saja dimulai dengan "tiba-tiba....". Kita biasanya akan membangun suasana dulu. Tapi sajak ini tidak. Dan malam pun risik. Kita terbiasa dengan kata berisik. Kalau pun kata "risik" tidak ada dalam kamus, maka pemakaian kata "risik" di sini menarik. "Risik" tidak pernah rasanya dipakai dengan awalan atau akhirn lain, kecuali "ber". Kata "risik" diciptakan dengan memisahkannya dari awalan "ber". Penyair telah asyik bermain sejak bait pertama.
Kenapa berisik? Ada seribu bisik. Bisik adalah bicara yang dipelankan. Yang tak ingin diperdengarkan. Tapi ada ribuan bisikan. Itulah yang membuat suara berisik. Ini bukan keributan. Kenapa berisik? Karena engkau pun tiba-tiba lengkap menerima satu-satunya duka yang dituliskan dengan Duka. Pada tahun-tahun itu, amat tak lazim memakai huruf besar pada suatu kata. Ada apa dengan duka yang Duka itu? Penyair sudah membuat lorong remang-remang yang asyik dan menantang kita untuk menjelajah ke sana.
Apakah Duka yang lengkap diterima itu? Mungkin itu adalah ruh yang pertama kali ditiupkan ke janin. Mungkin juga itu wahyu yang pertama diterima dan engkau adalah nabi. Atau Duka itu adalah amanah, sebuah tugas berat dan kita yang menerimanya kelak harus mempertanggungjawabkan satu-satunya Duka itu. Tak ada pilihan. Kecuali menganggapnay sebagai Duka.
Bentuk sajak ini adalah kwatrin, sajak empat baris. Sajak yang tertib sebenarnya. Lihatlah bunyi yang sama di ujung barisnya: risik/ bisik/ menerima/ Duka. Baris-barisnya bersajak AABB. Ketertiban dan keteraturan bunyi yang memperindah sajak ini. Dengan demikian sebagian perangkat puisi sudah dimaksimalkan. Keutuhan terjaga dan kompleksitas terbangun.
Sitok Srengenge: Lebih Bahagia daripada Saat Pertama Kali Mencium Pacar
SITOK Srengenge sibuk. Dia tak sempat menjawab enam pertanyaan saya, meski ingin sekali menjawabnya. Dia kirim jawaban untuk Cherry Jiang dari Hongkong yang kurang lebih mengajukan pertanyaan yang sama. Mereka bertanya jawab dalam bahasa Inggris.
Saya terjemahkan saja surat itu dan saya jadikan bentuknya sebagai tanya jawab. Seperti wawancara. Simaklah:
Tanya: kapan Pertama Kali Menulis puisi?
Jawab: Saya menulis puisi ketika saya duduk di bangku SMP. Saya tunjukkan puisi itu kepada guru dan dia suka sekali membacanya. Lalu puisi itu dia tampilkan di majalah dinding sekolah. Puisi itu juga dia jadikan contoh ketika dia membahas puisi di kelas. Saat itu saya merasa bahagia sekali. Lebih bahagia daripada saat mencium pacar saya pertama kali. Ha ha ha.
Tanya: Puisi tentang apa itu?
Jawab: Saya lupa. Tapi saya sangat ingat temanya: Cinta. Puisi itu, kalau saya tinjau lagi sekarang, bukanlah puisi yang bagus sekali. Sajak pertamamu jauh lebih bagus. Saya terus belajar menulis, diam-diam, sampai saya lulus SMA tahun 1985.
Tapi, saya mulai serius menulis pada tahun 1986, waktu saya kuliah di universitas.
Tanya: Bagaimana Anda belajar menulis?
Jawab: Saat itu, saya berlatih di sebuah grup teater yang dipimpin oleh penyair, aktor, dramawan termahsyur di Indonesia (WS Rendra). Dia punya perpustakaan pribadi dengan ribuan koleksi buku. Di sana saya temukan banyak sekali buku puisi. Suatu hari, saya pinjam semua buku puisi dan saya baca dan saya pelajari puisi-puisi di buku itu setiap hari. Saya tidak hanya membaca tapi juga menyeleksi. Saya pilih mana yang bagus dan saya pisahkan mana yang buruk. Hasilnya saya punya daftar sepuluh buku bagus yang ditulis oleh sepuluh penyair. Sisanya, buku puisi jelek yang bertumpuk kayak gunung sampah.
Tanya: Lalu?
Jawab: Saya kembalikan semua buku itu ke perpustakaan. Hari-hari berikutnya, saya baca ulang buku-buku itu berulang kali dan memilih lagi mana yang terbaik. Dari sepuluh buku itu akhirnya saya dapat enam buku dan tak bisa lagi menyortirnya. Lalu saya tanya diri saya sendiri, "Hei, Sitok! Kalau kamu memang ingin benar jadi penyair, kamu harus menulis sebagus mereka (penyair yang menulis enam buku itu), atau lebih baik dari mereka. Kalau tidak, kamu hanyalah bagian dari tumpukan sampah dan hanya layak untuk dicampakkan."
Setahun kemudian, pada tahun 1987, ada Forum Penyair Nasional di Jakarta. Saya datang kesana dan mengikuti semua acara tiap hari. Siang hari ada diskusi, malam hari mereka bacakan karya-karya mereka. Saat itu saya benar-benar kecewa. Penyair-penyair tak sehebat yang saya bayangkan. Darah muda saya yang arogan bergolak. Saya membatin, "Kalau mereka bisa jadi penyair dengan karya-karya sekasar itu, saya yakin, saya bisa menjadi menulis lebih baik."
Tanya: Kapan anda disebut penyair?
Jawab: Singkat kata, setelah saya menulis beberapa sajak dan menerbitkannya di sejumlah media. Orang kemudian menyebut saya sebagai penyair. Tahun 1992, saya terbitkan buku kumpulan puisi pertama saya.
Tanya: Anda masih terus menulis puisi?
Jawab: Sampai hari ini, saya masih menulis puisi. Kenapa? Banyak hal yang membuat saya bahagia. Tapi hanya ketika saya menyelesaikan sebuah puisi yang baik saya merasa lebih bahagia. Memang, ada banyak orang berbakat dan penyair besar di dunia. Tapi, mereka dulu juga bukan siapa-siapa kan? Setelah saya baca sajak pertamamu, saya yakin kamu punya bakat. Kamu beruntung.
Tapi, kamu harus tahu, bakat saja tidak cukup. Bakat besar bisa hilang terkubur oleh kemalasan. Maka, saya sarankan, jagalah bakatmu itu dan berlatihlah, terus menulis, dan jaga stamina kreativitasmu. Saya harap, kelak kita bisa bertemu di forum kehormatan, dan kamu hadir sebagai penyair penting yang membawa dan menghadirkan negerimu dan generasimu.
ADA negeri puisi, yang jauh tapi tak jauh dari       negeri mimpi. Penduduk di negeri itu berbicara       dengan puisi, dan lihatlah betapa mereka bahagia.
Aku akan membawamu ke sana. Dan lihatlah nanti kita       juga betapa akan berbahagia. Kita belajar lagi       mencari kata yang tepat untuk memesan kopi       segelas; mencari tempat untuk singgah sembahyang;       mencari telepon umum untuk mengabarkan rindu ke       alamat yang menunggu.
Kita nanti akan betah di sana. Sebab di negeri itu       kita akan menemukan rumah yang jauh tapi tak jauh       dari alamat yang kita sebut dengan rindu dan nama       kita tertulis indah di pintunya.
1. PUISI brilian lazimnya memakai kata-kata sederhana. Oleh sentuhan tangan penyair yang baik kata-kata sederhana menjelma menjadi puisi yang baik. Hanya penyair jelek yang obral kata-kata.
2. SALAH satu tugas penyair memang memberi tenaga dan jiwa pada kata-kata. Tanpa ambil peranan itu, dia akan menulis esai dan bukan puisi.
tak pernah selesai pertarungan menjadi manusia tak pernah terurai pertarungan menjadi rahasia adalah buku lapar arti tipis segera habis diburu kubur-kubur waktu
hari-hari pun sajak menagih kata kata-kata pun ketagihan jiwa dalam sebuah buku lembar-lembar berguguran tak seperti bunga tetap kita sirami di taman-Mu ini
MENJADI manusia adalah sebuah pertarungan. Ya, ada lawan, ada arena, ada kalah dan menang, itulah hakikat pertarungan. Lawan kita juga ada dalam diri kita. Arena pertarungan hidup adalah juga pada hati kita sendiri. Kita berganti-ganti menjadi manusia yang kalah atau manusia yang menang. Tapi ini adalah pertarungan yang tak pernah selesai.
YANG mengakhiri upaya menjadi manusia itu adalah kelak ketika kit*a sampai pada rahasia. Sampai pada maut yang tak pernah terurai bagi kita kapannya dan kenapanya. Untuk sampai pada rahasia kematian itu pun adalah juga sebuah perjuangan. Ironi dan paradoks pun berlapis-lapis di sini. Pertarungan menjadi manusia artinya perjuangan untuk menjalani hidup adalah juga perjuangan untuk mengurai rahasia mati.
TAPI, penyair Thukul sadar perjuangan itu harus diberi arti agar tak jadi sia-sia. Ia lalu menyebutkan buku. Buku hidup. Buku yang mencatat. Buku yang kelak meninggalkan jejak perjuangan yang minta diberi arti, yang lapar minta dimaknai. Buku kehidupan itu seringkali hanya sebuah buku tipis yang harus buru-buru dipenuhi catatan. Thukul meramalkan hidupnya sendiri yang pendek, seakan mengingatkan dirinya sendiri akan kematian yang lekas menjemputnya. "Diburu kubur-kubur waktu," katanya.
MAKA Thukul dan kita yang hidup ini berhadapan dan menjalani hari-hari yang sajak yang menagih kata. Bukan sembarang kata, tapi kata yang ditagih sajak adalah kata yang padanya ditagih untuk menghadirkan jiwa, bukan mayat kata, bukan kata yang mati, bukan kata yang bangkai, bukan kata yang busuk yang tak mengucap apa-apa.
TAPI hidup seringkali hanya menawarkan kerapuhan. Seperti buku-buku yang lembar-lembarnya berguguran. Gugur yang tetap harus diberi arti. Tak seperti bunga yang ketika kelopaknya telah berguguran kita tak perlu lagi menyiraminya. Kita akan biarkan dia melapuk dan kelak menjadi hara dan kembali diserap tanaman. Lembar buku yang berguguran tetap disirami. Sebab ia tertabur di sebuah taman kehidupan, taman-Nya. Dia yang menghidupkan, dia yang menggugurkan, dia juga yang membangkitkan.
* Dari buku Aku Ingin Menjadi Peluru, Wiji Thukul, Indonesiatera, Magelang 2004.
"MURUNG sekali engkau hari ini, Tuan Lembu?" katak sawah menyapa lembu yang sedang termenung bersandar di pematang. Keempat kakinya masih terendam dalam lumpur. "Apakah gerangan yang merisaukan hatimu?"
"Oh, katak sahabatku. Aku baru saja teringat kisah Katak Hendak Jadi Lembu. Tahukah kau siapa pengarang yang menciptakan kisah tentang para tetua kita itu?"
Namanya aku tidak tahu, kata katak, tapi setahu aku dia sudah lama pergi meninggalkan warisan kisah itu. "Kenapa pula engkau teringat kisah yang selama ini bisa membuat kami tahu diri, tak pernah lagi memaksa ingin mempunyai tubuh besar seperti engkau, Tuan Lembu?"
"Aku hanya ingin meminta dia membuat lagi sebuah cerita berjudul Lembu Hendak Jadi Katak. Aku ingin sekali tahu bagaimana dia mengakhiri kisah itu."
       KATAK melompat dari teratai ke teratai mengejutkan ikan sepat yang sedang memainkan gelembung udara dan berudu-berudu tertawa melihatnya dan beberapa capung ingin sekali hinggap di bunga teratai yang sedang mekar-mekarnya tapi beberapa lebah madu mendengung memperingatkan.
      DI semak rumput di tepi kolam itu ular merenung lama menyesali apa yang dulu hendak dibisikkannya pada Nakhoda Tua di kapal yang menyelematkan mereka dari banjir raksasa setelah hujan empat puluh hari lamanya dan tiba-tiba saja gerimis turun membikin lingkaran-lingkaran yang manis di permukaan kolam teratai itu.
/1/ "MAU kemana, Ibu Penyu?" tanya seekor paus betina, mereka bertemu di sebuah pagi, di tengah samudera.
"MAU mengantar telur-telur keturunanku ke pantai, tempat aku dulu diantar dan ditelurkan oleh ibuku, tempat aku dulu dierami pasir dan panas matahari."
/2/ DI pagi yang lain, di sebuah pantai, seekor paus terjebak surut laut. Anak-anak penyu yang baru menetas berebut gegas, berenang ke tengah samudera, mengikuti naluri, mengaluri perjalanan yang dulu ditempuh ibu mereka.
JIKA nanti anak-anak penyu itu bertemu ibunya, mereka ingin sekali bertanya, "Ibu, makhluk raksasa apakah yang sampai juga ke pantai kita itu? Apakah ia juga sepertimu yang bertelur lalu pergi meninggalkan anak-anaknya di sana?
           : Yo
LIHAT, matanya seperti kolam selingkar gelombang. Ada seekor air mata berenang-renang. Di atasnya ada merpati seorang (terbang), dan bayi yang telanjang (bayang-bayang).
LIHAT, dia ingin sekali mengajak kita berbincang-bincang. Dia ingin sekali ikut berenang bersama air matanya. Agar basah itu tetap di hatinya. Agar tak menetes kemana-mana.
Menuju Kota Kutai, aku mampir di Gunung Pasir di sebuah warung menggantung di tubuh tebing istirahat minum secangkir the hangat sambil menyaksikan matahari pucat jatuh ke sela-sela bukit kerontang dan hampar lautan subur ditumbuhi kilang
Aku teringat kawan, seorang penyair di sinilah ia lahir lalu menyingkir karena terusir oleh lelaki-lelaki kuat mengangkat kayu gelondong dan minyak bertong-tong
Sesaat setelah magrib dinyalakan lelampu tiba-tiba saja padam Dari mesjid azan terpenggal serupa suara seru tak dihafal Perempuan dari balik bilik kasir aku dengar berkata nyinyir,
LAMA juga dia tidak ngobrol dengan teman lamanya itu. Sering bertemu tapi mereka sok banyak kesibukan, tak pernah sempat bertukar teguran atau berbagi sapaan.
"DIMANA ya dulu kita berkenalan?" Waktu SMA, bukan? "Ya, aku tertarik dengan bodimu yang ceking". Ah, kamu pun dulu tak segembrot sekarang, alias kerempeng kering.
WAKTU kuliah, mereka masih suka ngumpul di kos-kosan, bersama kopi dan mi instan, mengetik laporan atau ngebut menyiapkan pelajaran buat besok menghadapi ujian.
SETELAH tua, katanya dia makin sadar kesehatan. Temannya yang ceking itu mulai dia lupakan. Sampai akhirnya bertemu di suatu pagi. "Kabarnya kamu sekarang suka bikin puisi ya? Buatkanlah puisi untuk mantan sahabatmu ini..." si ceking berbasa-basi. Baiklah, katanya, tapi saya tidak bisa berjanji.
SI Ceking pun pamitan. "Sampai jumpa di lain iklan." Lalu melangkah ringan sekali. Ia sebul-sebulkan asapnya sendiri, dia jentik-jentikkan abunya sendiri, menyanyikan lagu abadi, "Peringatan pemerintah, merokok bisa menyebabkan......"
SI Tukang Puisi tiba-tiba merasa kangen sekali dengan teman lamanya itu. "Mati bisa kapan saja, sebabnya pun bisa apa saja," katanya. Ah, Si Ceking yang tak akan pernah kesepian. si Ceking yang punya banyak teman itu semakin mahsyur saja.
DULU ayah suka sekali menggambar wajah ibu. "Kecantikanmu tidak pernah habis kusalin," kata ayah setiap kali tanda tangan ia terakan.
IBU membingkai gambar karya ayah dan memajang di dinding berdampingan dengan foto perkawinan.
KINI ayah lebih suka menggambar wajahnya sendiri, lalu ia merobek-robek gambarnya sebelum sempat dibingkai oleh ibu. Ibu jadi semakin sering mengigau, "Rembrant, berapa banyak kanvas kau hancurkan?"
AKU sejak dulu tahu betapa tajam pisau peraut, sebab setiap hari tugasku hanya meruncingkan pinsil. Aku juga paling suka menyusun puzzle dari kertas yang disobek ayah, tapi masih juga ketakukan setiap kali melihat montser menjelma dari gambar wajah itu. "Power Ranger, tolonglah..."
Belajar Naik Sepeda
IBU membelikanku sepeda. Aku mau belajar naik sepeda. "Jangan belajar sama ayahmu," pesan ibu. "Ya, saya tahu. Ayah sibuk sekali, tiap hari keluyuran mencari sepedanya yang hilang dulu," kataku. Padahal aku tahu, ayah tak sempat belajar naik sepeda. Dalam igauannya, ayah sering menirukan kring kring bunyi lonceng.
AKHIRNYA aku bisa juga naik sepeda, setelah belajar langsung pada sepeda. Sepeda yang pandai mengajari bagaimana aku menduduki sadelnya, bagaimana aku mengayuh pedalnya, bagaimana aku mencengkeram setangnya, bagaimana aku menyandarkannya di pohon, bagaimana aku memompa bannya, bagaimana aku memasang rantainya, dan bagaimana mengerem lajunya.
SATU-satunya pelajaran yang tak kuamalkan adalah bagaimana cara membunyikan loncengnya. Aku takut ayah marah, karena aku bisa merusak kring kring yang makin merdu saja dalam igaunya.
Ayah Takut dengan Tinta Merah
"AMBIL rapotmu sendiri, ayahmu tak bisa datang ke sekolah." Begitulah pesan ibu tertempel di balik pintu. Aku sudah menduga, ayah semakin takut pada angka-angka yang ditulis dengan tinta merah.
DI luar dugaanku, aku malah menjadi juara kelas.
AKU kabari ayah, ayah tidak percaya. Ia bertanya penuh curiga, "siapa yang mengajarimu mengancam Ibu Guru, sehingga dia mendongkrak semua nilaimu?"
AKU menangis, airmataku melacak jejak airmata ibu.
IBU: perempuan buta aksara yang paling mengerti bagaimana caranya membaca huruf mimpi-mimpiku.
Aku Menangis Bersama Ibu
AKU berkenalan dengan ayah lewat tangis ibu.
AKU lebih dekat dengan ibu karena kami sering menangis bersama. "Kenapa rumah ini penuh air mata?" umpat ayah tiap kali jatuh terpeleset.
SEMAKIN sering aku menangisi ibu, semakin asing nama yang kudengar di antara isakannya.
Lelaki tanpa Telinga dan Perempuan yang Menangis Tak Henti-hentinya
SEBELUM pergi merantau ayah berjanji akan pulang untuk melukis ibu. Ayah pergi mengejar cita-citanya menjadi pelukis, berguru pada pelukis legendaris yang sampai mati berhasil mempertahankan kemiskinannya.
"AYAH ingin melukis ibu dengan mata berhias air mata," kata ibu. Sejak itu ibu terus memperbaiki tangisannya, agar bisa menangis sebaik-baiknya. Tiap malam dia terisak dan menangis, merintih dan menyedu-sedan.
SAMPAI suatu subuh aku dengar tangis yang manis, isak yang semarak, sedu yang syahdu, sedan yang tak tertahan! "Harusnya ayah sudah pulang, mendengar hasil jerih payah ibu..." kataku meyakinkan ibu yang sepertinya semakin ragu. "Biar saja, aku menikmati tangisanku, belum tentu ayahmu bisa melukisku" kata ibu yang semakin tahu warna sejati bening airmatanya.
AYAH akhirnya pulang. Tapi ibu tak mau mengakuinya. "Suamiku perantau sejati. Ngapain engkau pulang?"
AYAH pun pergi lagi. Padaku ia titipkan dua daun telinga yang baru saja ia potong sendiri. "Aku ingin sekali mendengar tangis ibumu yang kabarnya dahsyat itu." Tanpa telinga, wajah ayah lucu sekali.
DENGAN kuas telinga ayah dan tinta air mata ibu, aku kini mahir melukiskan hikayat nasib: lelaki pengembara tanpa telinga dan perempuan yang menangis tak henti-hentinya.
WAKTUNYA hampir tiba, tapi parsel kiriman yang ditunggu belum juga ia terima. Sudah lama. Masih sabar ia menunggu sambil belajar agar bisa membaca dengan lancar, namanya di kartu dan nama si pengirim dengan alamat yang samar. Keranjang itu pernah dilihatnya di sebuah toko. Sejak itu ia rajin menunggu.
IA merasa kini waktunya memang hampir tiba, tapi parsel yang dia tunggu belum datang juga, hanya keranjang kosong yang seakan minta diisi dengan bagian-bagian tubuhnya sendiri, dan selembar kartu ucapan: "Kirimkan saja seutuhnya. Anda sudah ditunggu di sebuah alamat. Jangan lupa cantumkan juga nama Anda: selengkap-lengkapnya." Ia sudah lancar membaca. Sejak itu ia makin rajin menunggu.
JALAN pulang ke rumahnya bercabang sejak di gerbang : Jalan Benarkah & Jalan Salahkah.
SETIAP kali melintasi di salah satu jalan itu, dia selalu bertanya, "Siapa sebenarnya yang dulu memberi nama kedua jalan tak bertanda ini?"
SETIAP kali melepas sepatu di teras rumahnya, setelah lelah seharian keluyuran, dia selalu bertanya, "jalan mana yang tadi sudah saya lewati, ya?" Pada sepatu tak ada tanda-tanda.
Di Cafe jalanan Noventa y sista, Medellin, Colombia Kami mengepung bulan dan mereka yang mendengarkan puisi kami Mencoba menaklukkan bulan dengan cara mereka Bekomplot dengan anggur dan cerbeza bersesongkol dengan gadis-gadis memancing bulan dengan keluasan dada
Musim panas menjulang di Medellin menampilkan sutra di keharibaan malam cuaca
Ratusan para lilin menyandar di pundak malam mengucap menyebut-nyebut cahaya sambil mencoba memahami takdir di wajah wajah usia
Kami para penyair meneruskan zikir kami --- palabras palabras palabras palabras --- kata kata kata kata
Semakin kental mengucap cahaya pun memadat Sampai kami bisa buat Sesuka kami atas padat cahaya
Lantas bulan kesurupan kesadaran kami meninggi bulan turun pada kami dan kami mengatasi bulan
Sampailah kami pada kerajaan kata-kata Jika kami membilang ayah Ia juga ayah kata-kata Jika kami menyebut hari Juga harinya kata-kata Jika kami mengucap diri Pastilah juga diri kata-kata
Di Cafe jalanan Medellin purnama jatuh Kata-kata menjadi kami Kami menjadi kata-kata
[Ruang Renung # 170] Zikir Kata yang Memadatkan Cahaya Bulan dan Mengantar Penyair Pada Kerajaan Kata-kata*
PERJALANAN panjang seorang penyair dalam menyair adalah perjalanan menuju Kerajaan Kata. Sebuah tempat atau sebuah keadaan dimana penyair menjadi tak berjarak lagi dengan kata yang ia sajakkan. Jika penyair membilang 'ayah' yang yang terbilang adalah dia kata yang juga ayah kata-kata. Jika ia menyebut 'hari',maka yang tersebut adalah harinya kata-kata, dan jika dia mengucap diri, maka pastilah yang tersebut itu 'diri kata-kata'.
PERJALANAN menuju Kerajaan Kata itu ibarat mengepung bulan dengan zikir kata-kata. Para pembaca puisi yang telah dituliskan penyair atau pendengar puisi yang diresitalkan oleh penyair bukannya tak dihiraukan. Mereka ikut juga menaklukkan bulan dengan cara masing-masing. Cara yang tidak dibatasi oleh penyairnya. Cara yang tidak ditentukan dengan semena-mena oleh penyairnya. Bebas saja, terserah saja.
BAGI penyair ini bukan perjalanan yang tanpa godaan. Di sekitar penyair ratusan para lilin yang mengucap menyebut cahaya. Seakan ingin menyesatkan zikir penyair. Tapi, para penyair akan terus menaklukkan bulan, dan berpusir** pada cahaya bulan, meneruskan zikir: palabras palabras palabras kata kata kata, hingga cahaya bulan memadat, dan dari padat cahaya itu penyair bisa membuat apa saja sesuka hati. Dan cahaya yang bisa dipadatkan untuk dibentuk sajak apa saja itu tak akan habis. Selama bulan masih memberi terang, selama penyair terus menzikirkan kata, mengingat kata, masuk ke inti kata, berdetak bersama detak jantungnya kata.
LALU bulan kesadaran penyair meninggi, sementara sang bulan yang dituju turun juga mendekat kepada penyair. Itulah saatnya penyair berhasil mengatasi bulan dan itulah saatnya penyair telah sampai pada Kerajaan Kata-kata. Purnama pun ikhlas jatuh setelah mengantarkan penyair pada Kerajaan Kata-katanya. Itulah pencapaian tertinggi: kata-kata menjadi penyair, penyair menjadi kata-kata. Begitu akrabnya, begitu dekatnya.
* Tafsir bebas atas sajak Sutardji Calzoum Bachri "La Noche de Las Palabras".
** Berpusir saya ciptakan dari kata berpusat pikir. Sebagai pilihan lain untuk kata berkonsentrasi. Lebih ringkas.
[Tadarus Puisi # 011] Tersebab Apa Sajak Terbentuk pada Sebuah Pola
BANYAK hal bisa dikaji pada sajak penyair asal Yogyakarta TS Pinang "Tersebab Apa". Sajak ini bisa ditelururi dari bagaimana penyair memadukan beberapa kelompok kata dari bait ke bait sehingga membangun sebuah imaji yang memancing makna yang kaya. Ia bisa dibentang sebagai sebuah hutan penuh hewan buruan: dan kita adalah pemburu yang bertugas menangkap sebanyak-banyak hewan di hutan itu, dengan berbagai siasat dan taktik perburuan.
SAYA ingin meletakkan sajak bagus ini di rehal tadarus kali ini untuk melihat bagaimana sebuah sajak dibangun dari bait ke bait dengan sebuah pola yang sama. Ada risiko besar pada jurus sajak yang begini ini, yaitu ia bisa jatuh membosankan jika tidak dikembangkan dengan cermat dari bait ke bait. Kebosanan itulah yang harus dibunuh benihnya dari bait ke bait. Keingintahuan dan ketertarikan harus terus menerus dipancing. Pembaca harus terus-menerus dipikat sebelum ditawan di akhir sajak.
SUTARDJI Calzoum Bachri memakai pemolaan ini pada beberapa sajaknya. Sajak "Mari" salah satunya. Pola bukan sekadar repetisi. Pola adalah semacam formasi imaji yang diisi dengan kata-kata yang berbeda dari bait ke bait dengan demikian ia juga menimbulkan rangsang makna yang berbeda. TS Pinang tidak ingin bercerita dalam sajak ini. Pola yang ia bikin bagi saya seakan mengantar saya sejenjang sejenjang menaiki puncak sajak yang ia persiapkan di bait terakhir. Tiap anak tangga adalah puncak juga yang mesti saya capai dan saya amati dengan cermat. Pendakian yang nikmat.
DAN puncak yang paling puncak pada sajak ini adalah bait terakhir: tersebab apa/kitab menulis hujan dalam koma/menghitung tasbih/di sajadah dusta/di bukit batu dan gunung kata:/saatnya laut tercangkul lingga. Saya tak pernah yakin dengan kesimpulan yang saya buat atas bait ini dan dengan kaitannya dengan sajak-sajak sebelumnya. Tapi saya tak perlu kepastian itu. Sama sekali tidak perlu. Tiap kesimpulan selalu diragukan oleh godaan kesimpulan lain. Begitulah terus menerus. Mungkin keragu-raguan itulah yang hendak disebutkan oleh TS Pinang? Mungkin. Mungkinkah TS Pinang hendak mengingatkan kesalihan palsu yang banyak dilakoni oleh kita? Kita yang sibuk menghitung tasbih, di sajadah yang cuma dusta, sujud yang pura-pura? Mungkin. Jika pada tiga belas bait sebelumnya kata "tersebab" selalu dikuti oleh kata yang pasti, pada bait puncak itu apa yang menjadi sebab itu dipertanyanan: "tersebab apa".
SOAL "hamil anggur" di bait pertama pun telah pula menawarkan emosi kesal dalam seluruh jiwa sajak. Hamil anggur adalah kehamilan palsu. Kehamilan gagal. Kehamilan yang harus digugurkan. Alih-alih memerankan tugas suci rahim, hamil anggur justru mengotori. Rahim harus dibersihkan tuntas dari butir-butiran bak tandan anggur yang menyaru janin di rahim, bila ingin tetap berfungsi sebagai rahim. Ini pemeragaan diksi yang hebat dari TS Pinang.
TS Pinang Tersebab Apa*
/1/ tersebab laut batu hamil anggur menghitung kalender di dinding hujan: saatnya merebus bubur
/2/ tersebab kata patungpasir pun gugur menghitung racau di atap kemarau: saatnya menabur galau
/3/ tersebab batu sungai lupa lumpur menghitung musim di kerut wajah: saatnya menggaru sawah
/4/ tersebab bukit pohon pingsan di ladang mengitung lidi di daun enau: saatnya menanam surau
/5/ tersebab cangkul sawah menulis siput menghitung cangkang di gigir pagi: saatnya menganyam tali
/6/ tersebab gunung sungai menumbak laut menghitung alir di bulir pasir: saatnya membaca tafsir
/7/ tersebab kitab padi menyepi di dapur menghitung malu di tungku beku: saatnya mengubur tinju
/8/ tersebab dusta hati larikan diri menghitung senyum di televisi: saatnya melarik puisi
/9/ tersebab lingga mata menggali danau menghitung garba yang hangus di sula para lelaki: saatnya membeli peci
/10/ tersebab hujan malam menjerang kopi menghitung getar sepi di gentar hati: saatnya menjahit luka
/11 tersebab koma wajah memar oleh tanya menghitung tembok retak di mimbar khutbah: saatnya membalut candi
/12/ tersebab tasbih embun mengaji doa menghitung daun dan ranting di masjid berlantai marmar: saatnya menenggak memar
/13/ tersebab nama tuhan memahat arca menghitung sebab di biji jagung: saatnya menumbuk ingat
/14/ tersebab apa kitab menulis hujan dalam koma menghitung tasbih di sajadah dusta di bukit batu dan gunung kata: saatnya laut tercangkul lingga