INI keroncong kami. Nada rendah sekali. Jatuh selalu ke sunyi. Yang mendengar hanya telinga hati. Tak sampai akhir kami sudah mati, tapi kami tak mati-mati.
Ini keroncong kami. Tuan tak pernah simak lagu ini, sejak lama sekali, kami sudah menyanyi. "Mengenang susah, hidup payah...." Tuan tutup hidung, mulut, dan mata. Tuan cuma ingin lekas datang zaman tubuh dan napas kami berpisah lagi.
Ini keroncong kami. Kami tak bisa pandang indah lukisan nasib negeri. Kala hidup menjelang pelukan mati. Tak ada yang menanti, tak ada kami ingin bertemu lagi.
Sekibar Sekabar
’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!
Selengkapnya baca: DI SINI!
20 Juni 2009
Keroncong Kemiskinan
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
Sepetik Sajak
Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta
:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.
---
Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu
:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu - Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.
---
Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri
menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.
:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.


0 komentar:
Poskan Komentar