PADA mulanya adalah kaki :: Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
PADA mulanya adalah hati :: Lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

Sekibar Sekabar


’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!

Selengkapnya baca: DI SINI!

Di Salihara

Di Salihara
Membacakan "Leherku Batang Getah, Aku Menoreh Darah" (foto oleh Helga Worotitjan)

30 Juni 2009

Relikui

APA yang tak mengenangkan aku padamu? Segala seperti relikui
Layangan putus, menyerahkan ujung benang, menyentak relikui

Jalan-jalan mengatur simpang, menembus rimba, menebas rambu
Aku mencari, pada sebongkah batu, nama kita merenik merelikui

Di mana dulu kusandarkan sepeda? Lalu kucari engkau di bukit itu?
Kau membuat isyarat di koyak kulit kayu, kubaca kini tanda relikui

Aku memetik bunga yang tak bercerita padaku kelas taksonominya
Aku kelak malu sebab kau berbunda bunga itu: mengekalkan relikui

Bila aku temukan sembunyianmu, ketika itu aku kehilangan engkau
Benang lepas pegang, Jiwaku, di tangan, yang sisa: segulung relikui



0 komentar:

Sepetik Sajak

Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta

:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.


---

Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu


:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu
- Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.


---

Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri

menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.

:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.

Mana Suka Siaran Niaga