PADA mulanya adalah kaki :: Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
PADA mulanya adalah hati :: Lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

Sekibar Sekabar


’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!

Selengkapnya baca: DI SINI!

Di Salihara

Di Salihara
Membacakan "Leherku Batang Getah, Aku Menoreh Darah" (foto oleh Helga Worotitjan)

24 Juni 2009

[Ruang Renung # 236] Cara Puisi

FRASA kita adalah ‘menulis puisi’. Perhatikan lebih dahulu kata ‘menulis’ pada frasa itu. Bedakah menulis puisi dengan menulis hal lain yang bukan puisi? Ada sama, ada juga bedanya.



Menulis berarti menghasilkan tulisan, sesuatu yang tertulis. Tulisan itu bisa – dan tentu kita harapkan – dibaca oleh orang lain.

Tentu saja Anda bisa bilang, “saya menulis untuk diri saya sendiri. Bukan untuk orang lain.” Nah, sadarilah, bahwa untuk siapa pun Anda menulis – aturannya akan sama saja. Bukankah bisa juga dianggap, bahwa kita yang menulis, dan kita yang membaca adalah dua pihak yang berbeda?

Jadi, kita menulis menghasilkan tulisan untuk dibaca pihak lain. Menulis – dengan demikian – adalah sebuah tindakan komunikasi. Sebuah ikhtiar percakapan. Ada pesan yang ingin disampaikan. Ada kita yang menyampaikan, dan ada pembaca kemana pesan kita hendak menyampai. Ada medium yang menyampaikan pesan itu. Ada cara menyampaikan pesan itu.

Puisi – ingat selalu ini – adalah juga seni. Seni Puisi. Maka, yang mengasyikkan ketika menuliskannya adalah bagaimana cara menyampaikan pesan itu. Sebab isi pesannya bisa saja sama, walaupun, dari pilihan isi pesan ini seorang penyair bisa menunjukkan kekhasan atau kehebatannya.

Isi pesan itu bisa saja disampaikan dengan cara lain – cara yang bukan puisi. Maka ketika isi pesan itu telah kita pilih untuk disampaikan lewat puisi – maka perhatikanlah bagaimana cara menyampaikannya, cara yang puisi, cara Puisi.[]

1 komentar:

Samalona mengatakan...

Berdasarkan salah satu ensiklopedi atau sumber referensi yang saya lupa namanya, ciri khas kesusastraan (termasuk puisi di dalamnya) memang terletak pada caranya. Bagaimana menyampaikan sesuatu itu tidak kalah pentingnya dari apa yang sedang disampaikan. Itulah jalan sastra, atau dalam hal ini 'jalan puisi'.

Sepetik Sajak

Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta

:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.


---

Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu


:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu
- Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.


---

Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri

menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.

:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.

Mana Suka Siaran Niaga