PADA mulanya adalah kaki :: Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
PADA mulanya adalah hati :: Lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

Sekibar Sekabar


’Anugerah Puisi Cecep Syamsul Hari 2009’ untuk buku kumpulan puisi tunggal berbahasa Indonesia. Kirim paling lambat 1 Februari 2010, dikirimkan melalui pos ke: ’ANUGERAH PUISI CECEP SYAMSUL HARI 2009’, Jl. Raya Cibabat No. 357, Cimahi 40522, Jawa Barat. Hadiah berupa uang tunai sebesar Rp 7.000.000,- (Tujuh Juta Rupiah)!

Selengkapnya baca: DI SINI!

Di Salihara

Di Salihara
Membacakan "Leherku Batang Getah, Aku Menoreh Darah" (foto oleh Helga Worotitjan)

3 Juli 2009

Tiga Teori Tentang Berakhirnya Sebuah Puisi

PUISI berakhir ketika terlalu banyak kata
berebutan menyebut sebuah peristiwa dan
penyair tak mengendalikan mereka, eh bahkan
ikut juga menyebut-nyebut diri di sana...

Puisi berakhir ketika terlalu kabur makna,
sebab kata-kata terlalu bising, berebut berteriak,
tak terdengar lagi sunyi yang ada di antara
mereka, sunyi yang menjaga kata itu tetap kata...

Puisi berakhir ketika penyair dan kata tak
saling sapa ketika bertemu dalam sebuah peristiwa,
padahal peristiwa itu ingin sekali menyapa keduanya
: dikekalkan dalam makna, oleh penyair dan kata...


Tulis Akhir Postingan Anda

3 komentar:

diningrat mengatakan...

sob boleh minta saran dan msukan .....
wajib kasih saran dan masukan yah ....
dengan rasa hormat saya undang untuk mampir sejenak di alamat ini http://diningrat.wordpress.com/2009/07/05/persiapan-migrasi-ke-alamat-httpdiningrat-net/

Khrisna Pabichara mengatakan...

selalu bisa memberi kelok tajam yang tak terduga di mana ujung tikungnya.

salam takzim

Willyo Alsyah P.Pratama mengatakan...

saya sangat suka dgn puisi dan saya ini masih dlm tahap belajar..dgn sgala hormat sy mengundang bpk ke blok sya..www.blekenyek.blogspot.com..apa yang perlu saya benahi..terimakasih sebelumnya..

Sepetik Sajak

Maka kita coba pasang
malam yang gothis, bulan yang lena
yang jauh dari Jakarta

:: Di Mala Strana -
Goenawan Mohamad dalam buku Sajak-sajak Lengkap 1961-2001, Metafor
Publishing, 2001.


---

Engkau campur-baur
dan seringkali kabur, namun aku mencatatmu, untuk rindu dan lalu kucoba,
melupakanmu


:: Engkaukah Itu, Yang Berdiri di Tikungan
Itu
- Taufiq Ismail dalam buku Sajak Ladang Jagung, Budaja Djaja,
1973.


---

Di dalam sepi
orang menatap diri sendiri

menghadap diri sendiri
dan telanjang dalam jiwa.

:: Hotel Intenational Pyongyang - Rendra dalam
buku Sajak-sajak Sepatu Tua, Pustaka
Jaya, Cet. 8, 2003.

Mana Suka Siaran Niaga