IMAJINASI adalah awal dari
penciptaan. Bayangkan apa yang kau dambakan, inginkanlah apa yang kau
bayangkan, dan terakhir ciptakanlah apa yang kau inginkan itu ~ George Bernard Shaw (1856-1950), Sastrawan, Kritikus Sastra, Penulis Drama, Esais, berkebangsaan Irlandia, peraih Nobel
Sastra tahun 1925.
*
KREATIVITAS. Apakah kreativitas? Definisi umumnya
adalah kemampuan seseorang menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai. Apa yang disebut
"baru" merujuk pada penciptaan individual atau sekelompok orang yang
belum diciptakan orang lain. Apa yang disebut "bernilai" adalah
ciptaan baru itu memberi manfaat dalam cara pandang yang luas.
Kata kreativitas berasal dari bahasa Latin “creatus” yang akar katanya adalah “creare” artinya “membuat, meneruskan,
menghasilkan, memperanakkan, membiakkan,” dan berkaitan maknanya dengan “crescere” yang berarti “bangkit, tumbuh”.
Dari pelacakan asal kata itu, kita tahu, Bahasa
Indonesia punya kata dasar yang padan dengan kata itu, yaitu
"membuat" atau "mencipta", dan kita menyerap kata bentukan "creative" dan "creativity" menjadi
"kreatif" (kata sifat) dan "kreativitas" (kata benda). Karya adalah wujud dari kreativitas. Kerja
adalah jalan mewujudkan kreativitas.
*
Saya percaya wahyu pertama dari Allah yang
disampaikan kepada Rasulullah adalah perintah untuk menjadi kreatif. Dalam
surat Al-Alaq (Segumpal Darah) yang di Alquran di urutkan sebagai surat ke-96
itu, kita - lewat Rasulullah
diperintahkan mula-mula untuk meng-iqra, membaca, mengkaji: Bacalah. Bacalah
dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.
Tuhan - sang pencipta itu - memerintah manusia
untuk membaca. Membaca apa? Membaca Dia, membaca alam semesta, membaca diri
manusia sendiri. Tuhan mengingatkan
bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah, sesuatu yang hina, yang tidak
bernilai, lalu - dengan membaca, kita memperoleh pengetahuan,
lalu kita mampu menciptakan sesuatu - kita menjadi makhluk yang mulia, yang
berharga.
Menurut saya ini adalah hakikat dari kreativitas,
yaitu mula-mula menyadari bahwa kita adalah makhluk yang terbatas, lalu
menyadari bahwa kita diberi akal untuk mengatasi keterbatasan itu, memuliakan
kemakhlukan diri kita sendiri, dan dengan demikian sekaligus mengagungkan Allah
yang Maha-Pencipta itu.
*
Saya percaya manusia sekarang hanya bisa bertahan
dengan kreativitas. Saya menafsirkan bahwa apa yang dirumuskan sebagai "survival of the fittest" oleh
dua orang proponennya yaitu Charles Darwin dan Herbert Spencer, berkaitan
dengan kreativitas. Untuk menjadi
individu yang paling pantas untuk bertahan yang diperlukan adalah daya
kreatif.
Seleksi alam adalah tangan Tuhan yang bekerja
secara gaib. Alam berubah, ini adalah
sunatullah. Alam menyeleksi
makhluk-makhluk mana yang paling layak untuk bertahan. Dinosaurus punah bukan karena bencana alam
dahsyat. Tapi karena hewan yang berbobot 50 kali gajah itu hanya memiliki otak
sebesar kotak korek api. Daya pikir dinosaurus tak memungkinkan mereka untuk
menjadi makhluk yang kreatif untuk bertahan.
Tetapi apakah volume otak manusia yang membuat kita
bertahan? Tidak, ikan paus hidup dengan volume otak yang sangat besar, 9
kilogram dengan 200 miliar sel syaraf. Kita
manusia rata-rata punya otak hanya seberat
1,25 hingga 1,45 kologram dengan 85 miliar sel syaraf. Dan kita tahu, kita manusia lebih cerdas dari
ikan paus. Jadi, bukan volume otak yang menjadi ukuran kecerdasan makhluk
hidup.
Lalu apa? Mungkin rasio tubuh dan otak ikan paus
kecil? Tidak juga. Rasio berat otak dan tubuh yang paling tinggi ada pada
tupai. Jadi, manusia pun tak bisa sombong
dengan keunggulan rasio berat otak dan tubuhnya. Karena lagi-lagi bukan itu yang menentukan kecerdasan
dan nilai manusia.
Dengan kapasitas otaknya, ikan paus, tupai, juga
binatang lain, bisa bertahan hidup. Ada perubahan-perubahan kecil yang membuat
mereka bisa bertahan, menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan hidup
mereka, tapi peradapannya tidak berkembang. Itu yang membedakan kita manusia
dengan mereka para binatang.
Ya, kita hidup di alam yang berubah, dan
terus-menerus menguji kita. Kita hidup, bertahan, dan menyesuaikan dengan
perubahan alam itu. Kita harus berubah. Kita dipaksa untuk berubah. Atau bisa
juga kita yang merancang perubahan pada diri dan hidup kita.
Tuhan memerintahkan manusia untuk merancang
perubahan hidupnya sendiri. Ada sebuah ayat yang sangat masyhur berkaitan dengan hal ini yaitu QS Surat
Ar-Ra'd (XIII) ayat ke-11: Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum,
kecuali kaum itu sendiri yang mengubah.
Apa artinya? Artinya, Allah mengingatkan bahwa
perubahan itu adalah kerja kolektif. Bukan kerja individu. Kalaupun ikhtiar perubahan itu diandalkan
pada kerja individu, tapi perubahan yang berharga itu dampaknya meluas, terasa
pada komunitasnya, pada kaumnya.
Perintah untuk mengorganisasi diri, menyusun
kekuatan, merapatkan barisan, ambil bagian dalam kerja besar merancang
perubahan ke arah yang yang lebih baik harusnya kita dengar sebagai gelegar,
sebagai guruh, sebagaimana Ar-Ra’d, nama ayat itu, yang berarti
“guruh”, suara gelagar nun dari langit sana itu.
*
Daya kreatif, kata penyair besar kita W.S. Rendra,
adalah kemampuan untuk beraksi dan beraksi secara unik, penuh kepribadian,
tidak sekadar berdasarkan kebiasaan yang umum.
Kenapa kita harus kreatif? Karena manusia punya
daya yang terbatas, tetapi Tuhan memberi alam yang membentangkan kemungkinan
yang tidak terbatas. Kreativitaslah yang membuat manusia bisa melampaui
keterbatasannya dan mempertemukan dengan kemungkinan yang tak terbatas
tersebut.
Ya, manusia, kata Rendra, adalah gabungan dari
kemungkinan dan keterbatasan. Ada batas untuk cita-cita dan perencanaan
manusia. Ada batas kenyataan alam yang harus diperhatikan.
"Manusia yang kreatif justru memperhatikan
keterbatasan dan kemungkinan yang ada di dalam dan di luar dirinya," kata
Rendra. Berkat kemauan dan kemampuannya, mereka berusaha agar kemungkinan itu
bisa ada.
Gairah usaha sangat menentukan dalam dalam mengolah
keterbatasan menjadi kemungkinan. "Mempertahankan kepribadian adalah
mengolah kemampuan berusaha untuk menjawab tantangan hidup," ujar Rendra.
*
Kita hidup di dunia dengan banyak hal yang dulu
dianggap tidak mungkin ada. Dulu, tak
terbayangkan hidup dengan begitu mudahnya kita berpindah tempat. Satu hari saya
pernah berada di empat kota: Balikpapan, Jakarta, Batam, dan Kualalumpur. Pesawat yang bisa membawa manusia terbang,
dulu hanyalah ada dalam mimpi besar umat manusia berabad-abad, sampai kemudian
Wright Bersaudara, Wilbur dan Oliver mengimajinasikannya, dan menciptakan model
pesawat pertama.
Saya mengetik naskah ini di MacBook Air. Laptop canggih ini, di awal abad ini, tak
terbayang akan ada. Komputer tak terbayang akan jadi produk massal seperti
sekarang. Bahkan seorang Chairman IBM, dulu, di tahun 1943, pernah berkata,
“Saya kira pasar dunia komputer mungkin kira-kira lima komputer!”
Seorang yang kreatif adalah seorang yang bukan
hanya mampu melihat masalah saat ini. Tapi juga mampu melihat masalah apa yang
akan dihadapi manusia kelak dan mencarikan jalan keluarnya sekarang. Kita bisa
melihat sosok itu pada diri Bill Gates. Ketika memulai Microsoft dia dan mitra
pendirinya punya mimpi besar: menghadirkan komputer di setiap meja, di setiap
rumah. Dia melawan apa yang diyakini oleh chairman IBM, dan Gates benar.
Saya memulai tulisan ini
dengan mengutip George Bernard Shaw. Imajinasi kata pemikir besar itu, adalah
awal dari penciptaan, creation. Tapi imajinasi tak berhenti di situ. Ia harus
diwujudkan. Secara sederhana, dengan kutipan itu, saya ingin katakan bahwa
menjadi kreatif itu itu mudah. Hanya perlu memulai dengan imajinasi. Dan itu
dimiliki oleh semua orang. Berimajinasilah. Kreatiflah![]
Kolom ini adalah naskah Pidato
Kebudaan Akhir Tahun yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM)
Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Batam.
2 komentar:
subhanallaah!
asalamu'alaikum..
mas izin copas ya untuk berbagi sama teman2. tentu tetap menyertakan asal usulnya. :)
terimakasih ilmunya. sangat bermanfaat dan menggungah.
barakallah
Poskan Komentar