![]() |
| Gambar dipinjam dari situs ini. |
SAYA menyebutnya berpikir dan bertindak solutif. Tentu saja solusi harus dicari dengan cara
yang kreatif. Kreatif saja tidak cukup
kalau tidak membawa ke solusi. Jadi, ini lebih dari berpikir kreatif. Ini adalah tindakan dan pikiran yang mengarah
atau mendekati penyelesaian masalah, mengejar dan mendapatkan solusi. Bukan justru sebaliknya mencari-cari atau
membikin masalah.
Masalah selalu ada. Masalah sudah banyak. Tak usah sengaja
ditambah-tambahi. Setelah menyelesaikan satu masalah, masalah lain pasti sudah
menunggu untuk dibereskan. Inilah perlunya sikap solutif itu. Itulah perlunya
bertindak dan berpikir solutif. Pemimpin
bisnis, pemimpin organisasi kemasyarakatan, pemimpin di pemerintahan perlu
mengembangkan sikap ini.
Saya merumuskan ini langsung dari seorang guru yang tidak
mengajarkan teori. Dia bahkan tidak
pernah merumuskan sendiri teorinya. Dia memberi contoh dengan praktek
langsung. Namanya: Dahlan Iskan.
Bagaimanakah cara berpikir dan bertindak solutif itu? Pertama, dia harus selalu optimis. Selalu
punya harapan. Jika harapan itu tidak ada, dia yang harus menemukan,
menumbuhkan dan menularkannya. Tanpa harapan, mustahil seseorang bisa berpikir
mencari jalan keluar.
“Setiap hidup itu
harus memiliki harapan atau hope.
Sebelum melakukan perubahan pada sesuatu, terlebih dahulu harus menumbuhkan hope. Hope akan menjadi target, target menjadi program yang kemudian
menjadi kegiatan,” kata Dahlan Iskan dalam sebuah wawancara (Dahlan Iskan Menteri BUMN – Masih ada
Harapan bagi BUMN yang Merugi, Republika Senin 28 November 2011).
Kedua, solusi hanya bisa ditemukan, dicapai, diraih dengan
kerja tim. Orang yang berpikir solutif
percaya pada kekuatan tim. Ia bisa mencari, menemukan, dan memberdayakan
orang-orang yang hebat, lalu mendudukkannya di posisi kunci, sehingga si tokoh
kunci tadi bisa membangun kehebatan timnya.
Itu yang sekarang sedang dilakukan oleh Menteri Dahlan. “Saya berusaha menciptakan
dream team di setiap BUMN,” katanya. Kunci
untuk membentuk dream team, katanya, secara teoritis cari direktur utama yang
hebat, cari orang produksi yang hebat, cari orang SDM yang hebat. Itu yang sudah dilakukannnya di Jawa Pos grup,
sehingga jaringan koran ini menjadi yang terbesar di Indonesia.
Ketiga, orang yang solutif adalah orang yang komunikatif. Ia
hebat mengomunikasian ide-idenya. Hebat artinya, ia bisa sampaikan dengan
sederhana dan mudah dipahami oleh orang-orang lain yang harus mendukungnya, dan
orang-orang lain yang harus mengeksekusi ide-idenya. “Saya sangat percaya bahwa
komunikasi bisa menyelesaikan berbagai permasalahan,” kata Menteri Dahlan.
Keempat, orang yang solutif adalah orang yang pertama,
berani dan berada di depan dalam mempertanggungjawabkan misinya. Ketika tahu bahwa DPR serong memanggil
direktur utama BUMN, dan itu merepotkan, Dahlan mengambil alih tanggung jawab. “Saya inginnya DPR Cukup memanggil menteri
saja, tidak perlu memanggil juga Dirut BUMN. Dirut itu biarkan bekerja saja.
Kalau memang ada kesalahan, ya menteri saja yang dimarahi,” katanya.
Kelima, orang yang solutif adalah pekerja keras. Ketika menjadi Dirut PLN Dahlan Iskan pernah
menantang pengusaha Sofjan
Wanandi. PLN berencana mengubah struktur
batas tarif listrik untuk industri yang ia nilai selama ini terlalu ringan.
Sofyan menilai rencana itu adalah kemalasan PLN mencari jalan keluar agar
perusahaan itu efisien, dan hanya memberatkan pengusaha. Dibilang malas, secara
terbuka Dahlan menantang Sofyan.
"Seolah dia saja yang bisa kerja
keras,” kata Dahlan, “Saya kepingin tahu, apakah dia bisa bekerja keras
melebihi saya. Saya tahu bahwa saya ini orang yang lagi sakit dan belum lama
operasi ganti hati. Tapi soal kerja keras, saya kepingin tahu siapa yang bekerja
lebih keras, saya atau dia,” katanya.
Hanya orang yang benar-benar telah
bekerja keras yang tahu apa arti kerja keras dan bagaimana bangganya mengatakan
bahwa ia sudah bekerja keras. Dahlan
jelas orang yang tergolong pada kelompok itu.
Ia bukan orang yang asal omong, juga bukan orang yang cuma berani omong.
Tantangannya kepada Sofyan Wanandi terlontar karena dia lebih dahulu
disalahmengertikan. Ia harus meluruskan
kesalahmengertian itu, dengan balik menantang.
Ini adalah sebuah pertunjukan integritas diri yang memukau, bukan
sekadar tindakan sok jagoan yang kosong.
Keenam, orang yang solutif adalah orang
yang berpegang teguh pada komitmen. Karena komitmen adalah janji, dan janji itu
harus ditepati.
“Ketika saya sudah berkomitmen, maka
saya melihat itu sebagai janji dan janji itu harus saya tepati,” kata Dahlan
Iskan dalam seminar kepemimpinan yang digelaroleh QB Leadership dan majalah
Warta Ekonomi, yang menghadirkan dia sebagai pembicara.
Terakir, yang ketujuh, orang yang berpikir solutif, adalah
orang yang tidak rumit, ia bisa menyederhakan persoalan, bukan menganggapnya
mudah. Tapi, ya soal yang sudah
disederhakan jadi mudah untuk diatasi. Ia
bisa mengurai benang kusut, lalu menyelesaikan persoalan dengan langkah yang
tampaknya sederhana.
Ini bisa kita lihat dari bagaimana kinerja Dahlan Iskan
ketika menjadi Dirut PLN, dalam waktu yang kurang dari dua tahun. Bertahun-tahun PLN dicap sebagai produsen
yang memonopoli urusan listrik yang citranya buruk.
Dalam sebuah survei konsumen PLN dipersepsikan terutama
dengan satu kata: byarpet. Listrik yang mati mendadak tiba-tiba dan bisa kapan
saja, pelayanan yang buruk, daya listrik tidak cukup, dan kejam, konsumen telat
bayar, aliran diputus.
Akhir tahun 2009, Dahlan Iskan dipercaya pemerintah untuk
duduk di kursi Dirut PLN, yang secara harafiah kursi itu jarang atau nyaris tak
pernah ia duduki. Dengan cepat ia memetakan apa masalah pabrik listrik plat
merah itu dan menyusun langkah mengatasinya.
“Simpel,” kata Dahlan. Ada lima hal yang diinginkan
konsumen. Pertama jangan ada krisis listrik. Kedua, jangan sering mati. Ketiga,
jangan ada daftar tunggu. Keempat, tegangan harus stabil tidak naik turun. Kelima,
listrik harus merata sampai ke pelosok-pelosok.
Dan selama menjadi Dirut PLN ia bekerja fokus pada kelima
hal itu. Ia mengunjungi daerah-daerah yang krisis listrik. Ia canangkan dalam
enambulan tak ada lagi pemadaman
bergilir, itu artinya kapasitas listrik terpasang cukup untuk menyuplai
kebutuhan beban puncak listrik di daerah tersebut, dan akhirnya ketika target
itu secara nasional tercapai, presidenlah yang mencanangkan pencapaian itu.
Hasilnya? Jauh lebih besar dari kelima hal itu. “Di PLN saya
merasa telah menemukan model transformasi korporasi yang sangat besar yang
biasanya sulit berubah,” katanya.
Kita lihat, Dahlan punya visi untuk memetakan masalah,
merumuskannya dengan sederhana, menyusun langkah mengatasi hal itu, dan dengan
berfokus pada konsumen yang harus dilayani PLN, ia serta-merta memperbaiki
kinerja internal PLN. Ia melakukan
transformasi besar-besaran, sesuatu yang tadinya sulit bahkan mustahil
dibayangkan bisa terjadi.
Mungkin ada hal lain di luar tujuh hal tadi. Tapi bagi saya
itu saja sudah cukup sebagai penanda dari seseorang yang berpikir dan bertindak
solutif. Demikian.***

0 komentar:
Poskan Komentar