Saya
menyimpan (dan berpikir untuk membingkai) iklan satu halaman dari koran
Singapura The Straits Times. Itu adalah iklan
perekrutan wartawan dengan cara yang unik. Siapa yang berminat menjadi wartawan diundang untuk hadir dalam
acara 'minum teh', namanya: SPH 'Career in Journalism Tea
Season".
SPH adalah
nama ringkas grup penerbitan surat kabar tersebut, singkatan dari Singapore
Press Holding.
Iklannya
sangat menyita perhatian saya. Selain
ukurannya yang penuh sehalaman, teksnya juga menggugah: Who in the world dreams
of being a journalist? Kalimat ini ditulis dengan font amat besar, dari rumpun
font sherif, lebih dari 90 point, menyita lebih dari setengah halaman.
Lalu
pertanyaan itu dijawab dengan sebaris kalimat – dengan ukuran font lebih kecil
- di bawahnya: Only someone from special
breed. Are you one of them? - Hanya
seseorang dengan bakat khusus. Apakah
Anda salah seorang dari mereka yang berbakat itu?
SPH Career
in Journalism Tea Season adalah acara tahunan yang digelar di SPH News Centre
Auditorium, 100 Toa Payoh Nort Singapore 318994. Seperti dijelaskan dalam teks
iklan itu: Here's your opportunity to find out. Come learn about a career in journalism, from
the journalist themselves.
Di acara
itu, para wartawan terbaik SPH - yang membawahi banyak media cetak (antara lain
TST, Berita Harian, dan The New Paper) dan media elektronik - menjelaskan
seperti apa berkarir di jurnalistik. Dari
situ anak-anak muda di Singapura bisa mengukur diri, layakkah mereka bermimpi
menjadi wartawan.
*
Di Batam –
sebagai mana gejala di negeri ini - sekarang, sulit sekali mencari wartawan
baru. Sekali buka lamaran, Batam Pos
hanya bisa menjaring dua-tiga orang calon wartawan. Jika di antaranya satu
orang yang bisa bertahan, itu sudah sangat bagus. Padahal kebutuhannya tiap
angkatan bisa sampai enam orang. Saya
tak tahu apakah TST juga sedang kesulitan mencari wartawan baru, dan apakah dengan cara seperti
saya ceritakan di atas, mereka bisa mengatasi kesulitan mereka.
Di
Indonesia, profesi wartawan memang sedang tidak terlalu diminati. Rasanya, tak akan terjadi lagi sebuah media
besar merekrut karyawan baru dengan
pelamar belasan ribu orang dan tesnya harus menyewa stadiun seperti terjadi
beberapa tahun lalu.
Dalam
rapat-rapat Forum Pemimpin Redaksi Jawa Pos Grup saya mendengar keluhan yang
sama dari para pemred di seluruh Indonesia, setidaknya dari media yang satu
grup dengan Batam Pos. Profesi atau
pekerjaan lain – misalnya menjadi pegawai negeri – sekarang jauh lebih diburu. Batam Pos tahun lalu kehilangan tujuh orang wartawan,
semuanya memilih jadi pegawai negeri.
Adalah satu
hal yang biasa saja, pada suatu masa, sebuah profesi menjadi sangat diminati.
Pada masa lain profesi itu redup
pamornya. Ini persis seperti popularitas jurusan atau fakultas di perguruan
tinggi. Di IPB tempat saya kuliah, pada
masa-masa saya dulu, Fakultas Teknologi Pertanian yang punya jurusan Teknologi
Industri, Teknologi Pangan dan Gizi, dan
Mekanisasi Pertanian paling diminati. Maka, selepas masa setahun di Tingkat
Persiapan Bersama (TPB) – yang waktu itu kami belum punya jurusan – berebutlah kawan-kawan
memilih Fakultas tersebut. Terkumpullah mahasiswa dengan nilai-nilai terbaik di
situ. Saya tentu saja harus tahu diri.
Saya memilih
Fakultas Pertanian Jurusan Tanah. Ini
pilihan ideologis dan filosofis. Serius.
Filosofis karena saya saat itu, bahkan sampai hari ini masih berpikir seperti - eh tepatnya sebagai - seorang petani. Apa itu? Mencintai bumi, akrab dengan alam,
dan menghayati proses apapun sebagai sebuah “pertanian” – memilih benih yang
baik, mengolah tanah dengan cukup, menyemai, menanam, merawat, menyiang gulma,
menjaga dari hama dan penyakit, dan jika semua itu dilakukan dengan baik
barulah bisa mendapatkan panen yang pantas. Semua proses itu harus melewati
satu kurun waktu. Ada tanaman tertentu yang bahkan hanya akan tumbuh dan
berbuah pada musim tertentu. Saya percaya, tidak ada proses yang
serta-merta.
Pada saat
itu, Jurusan Tanah bukanlah jurusan favorit.
Masa jayanya sudah lewat. Jurusan kami pernah sangat berjaya ketika
proyek-proyek transmigrasi dengan gencar-gencarnya digalakkan di negeri ini. Pada
saat itu, mahasiswa bisa kaya mendadak, soalnya kerap diajak survei lokasi transmigrasi.
Pada masa
lain, di kampus kami juga pernah sedemikian diminatinya Fakultas Kehutanan.
Kala itu, perusahaan-perusahaan swasta sedang sangat gencar membuka hutan tanaman
industri. Sektor kehutanan sedang naik daun, sebelum akhirnya sekarang juga
redup, karena terbukti banyak pengusaha masuk ke bisnis kehutanan hanya akal-akalan
untuk mengemplang kredit berbunga rendah bernama Dana Reboisasi – yang kemudian
diputihkan.
*
Jadi memang
sangat biasa, sebuah profesi, di satu bidang, bisa sangat diminati dan
bergengsi pada suatu saat, tapi di saat lain meredup dan tidak dilirik lagi
oleh para pencari kerja. Apakah industri
media sedang redup? Oh, sama sekali tidak. Media cetak akan bertahan, dan
sebagian menyesuaikan dengan kebiasaan baru konsumen menyantap media lewat
perangkat digital. Apapun medianya,
pekerjanya tetaplah wartawan. Dan
menjadi wartawan memang bukan pekerjaan musiman. Ini semacam panggilan jiwa.
Menjadi orang media memang sempat menjadi
pilihan banyak orang ketika keran kebebasan pers terbuka lebar, dan investasi
di bidang ini jor-joran. Kebutuhan pekerja media melonjak. Tapi, tak
semua media itu kemudian tumbuh menjadi lembaga bisnis yang sehat, juga tak
menjadi institusi pers yang baik. Pun karena seleksi oleh berbagai hal, akhirnya tak
semua pekerja pers harus selamanya
berada di sebuah media.
*
Bagi saya,
menjadi wartawan adalah mimpi, dan profesi inipun kemudian satu per satu
mewujudkan mimpi-mimpi saya yang lain. Salah satunya adalah bertemu dan
mengobrol akrab dengan Lilo KLa. Bagi
sebagian orang mungkin ini katrok, tapi saya memang katrok alias norak: mimpi
kok ketemu musisi pop? Izinkan saya
menjelaskan kenorakan ini. Lilo alias
Romulo Radjadin, bersama tiga sahabatnya – Katon Bagaskara, Adi Adrian dan Ari
Burhani (Ah, saya masih hafal nama-nama mereka) - adalah idola kami waktu SMA
dulu. Di tahun-tahun awal SMA kami,
mereka merilis album pertama: KLa.
“Tahu gak
artinya gambar ini? Ini kan radio lama yang dibanting. Itu artinya kami ingin
membuang pengaruh musik lama yang jelek, dan kami membawa musik baru yang lebih
baik dan lebih segar,” kata Lilo menjelaskan arti desain sampul kaset KLa yang
saya sorongkan padanya untuk ditanda-tangani, pada suatu sore di sebuah hotel,
menjelang KLa naik panggung pada malam harinya.
Saya bilang,
dengan tanda tangan itu maka saya menjadi KLanis “bersertifikat”. Sampul kaset itu adalah kaset yang dulu saya
beli saat SMA, 23 tahun sebelum ditandatangani oleh salah satu personel KLa.
Bukankah ini mimpi yang jadi nyata? Saya berbincang dengan Lilo bak sahabat lama.
Kami kadang menyanyikan potongan lagu-lagu KLa bersama, dan perbincangan itu
berlangsung sepanjang satu cerutu. Lilo sambil saya temani, ia menikmati sebatang
cerutu yang katanya harganya Rp250 ribu. Ketika saya rasa sudah cukup banyak menyita
waktu istirahatnya, dia malah menahan saya untuk tidak pergi karena cerutunya
masih 2/5 batang. “Ini harganya masih Rp100 ribu,” katanya sambil tertawa. Di daftar nomor telepon di ponsel saya
sekarang tertera nama Lilo KLa, dan sesekali saya mengirim pesan pendek
padanya. Bukankah ini sebuah mimpi yang jadi nyata? Makanya, wahai anak muda, jadilah wartawan, buktikan bahwa
Anda adalah someone from special breed, dan
wujudkanlah mimpi-mimpi mu dengan menjadi wartawan. ***
3 komentar:
Menjadi wartawan adalah mimpi saya dan akan tetap menjadi mimpi. Impian saya terhalang tembok besar, restu Ibu. dan saya tak ada nyali untuk melanggar.
Saya pernah diajak seorang wartawan stasiun televisi swasta untuk ikut sebuah liputan dan kegiatan seminar jurnalistik, dan memang antar wartawan kalau lagi santai pada akrab sekali asyik lagi. benar apa kata hasan, bahwa dengan menjadi wartawan kita memiliki langkah menuju sesuatu yang mungkin tidak semua orang dapai capai. misalnya saja ya seperti kasus hasan, atau seperti kasus teman saya itu, ketemu orang-orang penting di negeri ini. tapi, kalau saya ditanya, maukah jadi wartawan? maka sampai detik ini saya belum ada minat yang menggebu untuk itu. mungkin lain waktu. entah. kalau jadi penyiar radio. saya mau. :)
Pertanyaan ini seharusnya ditujukan kepada pemilik media. Siapa yang berminat menjadi wartawan ketika tuntutan kerja tinggi, intergritas harus terjaga, sementara penghasilan untuk hidup sebulan pas-pasan.
Yang menjadi wartawan saat ini adalah mereka yang memang punya cita-cita tulus jadi wartawan atau mereka yang sudah tak punya pilihan lain...
Poskan Komentar