PADA mulanya adalah kaki :: Lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu :: PADA mulanya adalah hati :: Lalu perjuangan dari ragu ke ragu.

::

HANYA kata. Tapi, itulah awal jadi dari segalanya :: Hari kubuka dengan kata. Hati sembunyi dalam kata :: AKU ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata :: Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata

28 Februari 2012

Ia Menulis di Linimasa

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian,
ia menulis di linimasanya, hidup yang baik telah
memberi satu hal: aku telah mampu untuk lupa.

Lupa, adalah gudang tanpa pintu, dan di situ,
sejumlah peristiwa terperangkap, berhenti,
bersama beberapa nama, dan segenap perannya.

Di gudang itu, tak apa-apa, bila sesekali ia kembali,
misalnya ketika ia perlu satu alasan sangat sepele
mengenang apa saja yang tak memaksa dikenang.

Itu bisa ada pada sepotong foto yang terlipat, lengket
Atau pada jam bekas, berhenti berdetak pada 3.50!

Atau pada tumpukan acak majalah berita mingguan
yang sebagian besar halamannya tak sempat dibaca.

*

PADA usia ke-40 dan beberapa dentang kemudian,
ia menulis di linimasanya, hidup yang baik tetap
memberi satu hal: aku masih mampu untuk ingat.

Itu sebabnya ia masih menulis puisi: yang dengan
caranya ajaib, pada bait-bait selentur kantung karet,
memberi tempat pada segala yang hendak dilupa,
dan segala yang menerus-terus hendak diingat. 

9 komentar:

Aku Tilarso mengatakan...

top markotop maknyus...

Ayu Welirang mengatakan...

ini seperti petuah yang bersajak.. :)

Dedy Tri Riyadi mengatakan...

typo: "senegap" peran..

coretan tinta mengatakan...

wow...puisinya keren bos...

Zaenal mutaqin mengatakan...

mantappppp ..... : )

http://kazamaminoru.blogspot.com/search/label/Poetry

coretan tinta mengatakan...

wow...keren gan.

i like this

Games mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh penulis.
dioday mengatakan...

bahasanya sulit di mengerti...

Patta Hindi Azis mengatakan...

mengingatkan pribahasa "hidup dimulai di 40 thn" selalu menyenangkan membaca puisi mas aspahani

Bibirku Bersujud di Bibirmu

Di Salihara

Di Salihara
Membacakan "Leherku Batang Getah, Aku Menoreh Darah" (foto oleh Helga Worotitjan)