SAYA membaca buku Stephen M.R. Covey alias
Stephen Covey Jr. di kursi 27 E Garuda dalam penerbangan nomor GA 151 dari
Batam ke Jakarta, Minggu lalu, diiringi lamat-lamat irama lagu-lagu nusantara
gubahan Addie M.S. Buku yang sudah diterjemahkan dalam 22 bahasa itu judulnya “The Speed of Trust”, adalah buku yang ikut
andil menyelamatkan Garuda!
Pada kurun waktu 1995-2005, maskapai
penerbangan plat merah itu sama sekali tak punya marwah. Prestasi keuangannya buruk. Selama dekade itu
hanya tiga tahun mencatat laba. Selebihnya tekor. Padahal BUMN penerbangan ini dimanjakan
oleh berbagai peraturan pemerintah, misalnya, hanya merekalah yang boleh
mengoperasikan pesawat jet. Tapi, reputasinya awut-awutan. Konsumen menjauh karena pelayanan buruk.
Jadwal penerbangan sering telat tanpa pemberitahuan. Intinya adalah: Garuda
salah urus dan kehilangan kepercayaan.
Ketika ditunjuk menjadi Dirut Garuda
pada tahun 2005, Emirsyah Satar pada awalnya menolak. Tapi, Rayuan maut Robby
Djohan tak bisa ia tolak. Apa yang dilakukan oleh pria kelahiran Jakarta ini?
Ia membeli 200 buku “The Speed of Trust” lalu membagikannya kepada seluruh
direksi hingga ke vice president.
Emirsyah – kawan seangkatan Barack Obama
di SD Menteng itu - tahu persis, masalah
besar di jajaran manajeman Garuda saat itu adalah krisis kepercayaan. Semua
pihak saling mencurigai. Maka berteriaklah Emirsyah! Garuda, ujarnya, tak akan
pernah maju kalau orang-orangnya sibuk saling berprasangka. Ketika masalah
pokok itu diatasi, maka sisanya adalah catatan prestasi. Sebagaimana burung
yang gagah, prestasi Garuda membubung
tinggi. Prestasinya moncer. Sebuah lembaga pemeringkat mutu layanan maskapai
penerbangan bergengsi di dunia member ganjaran bintang empat. Pada tahun 2011 lalu, Garuda membukukan
pendapatan Rp25,5 triliun, dengan laba bersih Rp627 miliar. Saya tak bisa
membayangkan bagaimana rasanya jika saya bisa memimpin perusahaan dengan laba
sebesar itu.
*
Bagaimana Covey Jr. mengulas “trust”
atau “kepercayaan” dalam bukunya itu? Inilah hal yang mampu mengubah segalanya,
katanya. Dan ini berlaku sama bagi siapa
saja, tim mana saja, organisasi apa saja, bangsa yang mana saja. Seandainya “kepercayaan” itu hilang, maka
apapun yang telah dibangun akan hancur dan runtuh.
“Kepercayaan adalah bagian penting
yang membuat pasar bekerja dan dunia berputar,” kata putra dari Stephen Covey
penulis buku “7 Habits of Highly Effective People” dalam satu wawancara di majalah
Fortune edisi Indonesia. Covey Jr. menjadi
sosok sehebat ayahnya, antara lain juga berkat ia dibesarkan dengan kepercayaan
ayahnya.
Inilah yang dengan mudah kita lihat
telah dan sedang terjadi di Indonesia. Bangsa
ini terus memelihara kecurigaan. Sulit sekali membangun rasa saling percaya.
Orang kaya curiga kepada orang miskin. Orang miskin marah pada yang kaya.
Partai melupakan pendukungnya. Rakyat kecewa pada pemerintah. Pemerintah menulikan
kuping dari kritik rakyat. Wakil Rakyat yang terhormat berperilaku yang justru
menginjak-injak kehormatannya sendiri. Apa yang dalam garis besar kita sebutkan di
atas itu akhirnya mengarah pada satu hal: tidak ada kepercayaan. Itu sebabnya bangsa
kita lambat keluar dari masalah-masalah kita.
Bagaimana membangun kepercayaan di
tengah kecurigaan yang masih pekat ini? “Caranya sederhana tapi tidak mudah,”
kata Covey Jr, “mulailah dari diri kita sendiri.” Ya, Anda betul, Tuan, itu
sederhana tapi memang sulit. Mulailah
untuk percaya, maka itu adalah awal kontribusi kita memulai siklus kepercayaan,
sebab kepercayaan itu memang timbale balik.
“Ketika kita percaya orang lain,
mereka cenderung mempercayai kita pula,” kata Covey Jr., “Apa yang dibutuhkan adalah pertama orang, pemimpin dan organisasi
yang tahu bagaimana menginspirasi kepercayaan.”
Kedua,
bagaimana memperluas kepercayaan dengan cara cerdas di lingkungan yang rendah
kepercayaannya. Jika orang lain dapat menerima, maka kita bisa mulai membuat lingkaran
kepercayaan, lalu meluaskan lingkaran itu. “Tapi kita harus cerdas. Para pemimpin terbaik
tahu bagaimana tingkat kepercayaan di lingkungannya, dan kapan harus menaruh
kepercayaan dan kapan tidak. Dan kita perlu belajar dari mereka,” kata Covey
Jr.
Dalam kurun waktu pengalaman saya memimpin
organisasi redaksi dan bisnis surat kabar, yang masih seumur semaian jagung, saya
membuktikan apa yang dijelaskan oleh Covey Jr.
Satu-satunya alasan yang bagi saya
sendiri bisa menjelaskan kenapa saya diberi amanah untuk memimpin adalah “Kepercayaan”.
Si pemberi kepercayaan, percaya saya akan mampu menyelesaikan tugas-tugas yang
dibebankan. Dan itulah yang saya jaga. Saya harus siap kapan saja kepercayaan itu
diambil dari pundak saya. Tentu saya
tahu bahwa ada orang lain juga mencurigai saya, artinya tidak menaruh percaya
pada saya. Sepanjang saya bisa
membuktikan – cepat atau lambat - bahwa kecurigaan itu tak berdasar, saya tak
peduli.
Saya ingat, ketika SMA kelas satu
saya sudah mulai bekerja. Almarhum Ibu saya waktu itu gembira dan sekaligus cemas. Anak
SMA yang bekerja, begitu beliau dengar dari orang, sudah tahu rasa uang, maka biasanya akan
anjlok prestasi akademiknya.
Saya yakinkan Ibu saya, “kalau nanti
nilai-nilai di rapot saya jelek, saya akan berhenti bekerja! Lagi pula uang
honor dari kerja saya saya belikan buku dan majalah, tidak saya gunakan untuk
hal-hal lain yang tak benar.”
Saya bisa bertanggung-jawab pada
janji itu, dan sejak itu Ibu saya percaya. Kepercayaan itulah yang rasanya
memuluskan banyak hal-hal dalam hidup saya berikutnya.
Dalam skala yang amat kecil, saya
meneladani Rasulullah. Dua dari tiga sifat seorang Rasulullah adalah “Benar”
dan “Terpercaya”. Keduanya berkaitan
sangat erat. Jika seorang tidak benar dalam
berkata-kata dan berperilaku tak mungkin dia dipercaya oleh orang lain. Kita
tak akan pernah percaya pada seorang pendusta, bukan?
*
Covey Jr. menguraikan dalam bukunya bagaimana
kepercayaan itu memuat siklus, membesar, sebagaimana ia sebutkan dalam
wawancaranya, dan di dalam bukunya ia sebutkan hal itu sebagai metafora “efek
berantai”. “Kuncinya adalah memahami dan
belajar bernavigasi dalam apa yang saya sebut sebagai 5 Gelombang Kepercayaan,”
katanya.
GELOMBANG PERTAMA: Kepercayaan Diri. Ya. Segalanya harus dimulai dari dalam diri
sendiri, dimulai dengan mempercayai diri sendiri. Kita percaya bahwa kita mampu
menetapkan dan mencapai sasaran, menjaga komitmen, dan yakin bahwa kita mampu
menginspirasikan kepercayaan kepada orang lain. Yang terakhir ini penting. Dalam bahasa Dahlan Iskan, dia tak percaya pada orang yang “ingin masuk surga sendirian.”
GELOMBANG KEDUA: Kepercayaan dalam
Hubungan. Setelah selesai dengan percaya pada diri sendiri, apakah dengan
serta-merta orang lain percaya? Tidak! Maka kita harus membuka “rekening
kepercayaan” kita pada orang lain, lalu dengan pasti kita memperbesar isi
rekening itu. Sebagai mana rekening bank, ini bisa terkuras habis, kalau kita
tak cermat membelanjakannya, curang, atau culas.
GELOMBANG KETIGA: Kepercayaan dalam
Organisasi. Setelah hubungan antarorang, maka kepercayaan itu harus terbangun
di dalam sebuah organisasi, apapun bentuknya, sekecil apapun ukurannya,
sependek apapun rentang waktu kerjanya.
Nabi membangun kepercayaan itu pada sebuah umat besar dalam kurun waktu
hingga akhir zaman. Seorang manajer menjaga kepercayaan sepanjang
dia masih dipercaya hingga dipromosi (jika rekeningnya meningkat) atau dipecat
(jika rekeningnya terkuras habis).
GELOMBANG KEEMPAT: Kepercayaan Pasar. Dengan satu kata, Covey Jr
memadankan tingkat ini sebagai: Reputasi. Contoh paling mudah tentu saja perusahaan
barang konsumsi. Apapun jenis barangnya, tanpa kepercayaan pasar, konsumen akan
meninggalkannya. Garuda pernah mengalami itu. Ketika jadwal penerbangan tak
tentu arah, penumpangpun berpindah ke maskapai lain.
GELOMBANG KELIMA: Kepercayaan
Masyarakat. Apa beda pasar “konsumen” dengan masyarakat? Pada akhirnya sebuah
bisnis harus mengembalikan apa yang ia peroleh – setelah memberikan kewajibannya
pada mereka yang sudah berkontribusi pada bisnis tersebut – kepada masyarakat
luas. Siapapun masyarakat itu, yang tentu tak semuanya adalah konsumen pemakai
produknya. Dengan cara itu justru kepercayaan akan semakin besar isi
rekeningnya.
Seperti Garuda, dengan lima
gelombang, kita bisa menumbuhkan sayap kepercayaan di diri kita, lalu terbanglah
tinggi dengan sayap kita itu.[]
4 komentar:
sungguh amat langka kepercayaan di negeri kini.
mereka yg diduga terlibat kasus korupsi kian melumatkan kepercayaan dengar komentar-komentar mengelak yang justru semakin memperlihatkan yang mereka sembunyikan.
Menarik sekali. :)
Terima kasih banyak, Pak. :)
Tulisan ini membuat saya kembali menanyakan kepercayaan saya pada diri saya sendiri.
Semoga kita semua bisa menjadi pribadi yang terpercaya dan mampu mempercayai.
Sebutlah apapun nama tempat ini olehmu
Bagiku disini tempatku bertemu
dan berbicara dengan diriku sendiri
- Ariel -
Kangen sama karya Ariel Peterpan?
Jangan khawatir..
Selain sempat mengeluarkan single Dara, Ariel juga akan mengeluarkan puisi-puisinya, curahan hatinya dan gambar2 tangannya via ponsel.
Klo biasanya kamu cuma bisa liat lagu dan liriknya Ariel, ini lain daripada yang lain.
Penasaran?
Ketik REG ARIEL kirim ke 3450
Twitter: @HeartForAriel
FB: Heart For Ariel
wow... keren..
Poskan Komentar